Cintamu Setipis Kertas

Cintamu Setipis Kertas
3. Flash Back 2


__ADS_3

"Ya sudah, terserah. Kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Mas Hari sudah ndak bisa turun tangan lagi, karena mas sudah punya keluarga sendiri yang harus dibiayai."


Mendengar jawaban lepas tangannya, yang tadinya aku mau melepas kangen tidur di kamarku, menjadi berubah pikiran.


"Ayo mas. Kita balik." Dalam posisi berdiri, aku mengajak mas Rudi yang duduk di kursi tamu untuk ke kota. Rasanya lebih nyaman tinggal di rumah kontrakan daripada di rumah sendiri.


"Kok ndak nginep saja? Ini sudah malam lho." Mas Hari menyusulku dari belakang. Dia mendengar yang ku ucapkan ke abang keduaku.


"Gak pa pa, mas. Ada aku. Kalau hujan, tinggal tutup plastik saja bagian e Devi. Aku ada jas hujan kok. Nanti kalau lapar, banyak warung yang buka sampai pagi. Banyak juga kendaraan berlalu lalang. Becakku yo ada lampunya. Polisi juga sering patroli. Sampean tenang ae."


Mas Rudi sarkastis menolak tawaran mas Hari pada kami untuk menginap. Tanpa uang saku ataupun beras, kami kembali ke kota.


"Sudahlah. Mas Rudi juga pernah ngalami. Tenang saja. Ada hukum tabur tuai. Allah ndak tidur. Dia Maha Kuasa, Maha Adil dan Maha Penyayang. InshaAllah rencana kuliahmu lancar. Yakin itu."


Abang keduaku itu mengetahui kalau aku bersedih dan tadi embun yang ku tampung di danau netraku yang sudah merebak, hampir saja luruh menganak sungai ke pipiku. Tapi ku tahan. Karena hatiku sakit mendapati jawaban abang sulungku yang selalu mengecewakan.


Kami sampai di kontrakan dengan selamat. Aku langsung mengepak keperluan untuk kuliah. Esok paginya, aku diantar mas Rudi menuju stasiun untuk berangkat ke Jogja.


Tiba di Lempuyangan, aku mencari angkutan untuk mencari tempat kos dekat kampus. Alhamdulillah, aku mendapatkan kamar sewa yang murah.


Sebelum OSPEK dimulai, berbekal uang pensiunan yang terakhir diberikan oleh mas Hari, juga bekal dari mas Rudi dan mbak Dini, aku mencari info tentang biro perjalanan wisata.


Beberapa hari kemudian, saat mau memejamkan mata, ada dering di hpku dari agen wisata yang menerimaku kerja paruh waktu.


"Hallo Devi. Kalau kamu masih belum mulai kuliah, ini ada tamu bule dari Aussie, minta dipandu kelililing Jogja. Bisakah kamu bawa mereka? Rutenya terserah kamu. Uang jasa selama 3 hari, besuk langsung kamu ambil. Kalau mereka memberimu tips, terima saja. Tapi ingat ya, jaga martabatmu dan ketimuran kita. Ini demi perusahaan dan image WNI di mata dunia. Bisa dipahami?"

__ADS_1


Aku sangat terkejut mendapat orderan pertamaku sebagai tour leader.


"Tentu mbak. Baik, besuk aku prepare sebaik mungkin untuk menyambut tamu pertama saya. Makasih banyak ya mbak."


Di sebrang telfon, Sandra yang memegang posisi sebagai head office tersenyum membayangkan ekspresi bahagia calon pemandu wisata di agensinya.


"Ya, Sama-sama." Telfon pun diakhiri oleh kedua pihak secara bergantian.


***


Surya gemilang menyapa bumi. Kokok ayam jago bersahutan menyapa. Aku menyiapkan diri menyambut hari dan menyongsong asa.


Tiba di kantor, pintu baru saja dibuka oleh OB. Aku duduk di kursi teras. Para pegawai baru saja melangkahkan kaki memasuki ruangan depan.


"Hai, Dev. Rajin amat? Sudah sarapan? Yuk, ngopi dulu di ruanganku."


"Tamu ini spesial, Dev. Beliau adalah dosen yang sedang meneliti budaya di Indonesia. Aku percaya, kamu bisa meng-handle-nya. Semangat ya. Oh ya, ini gajimu. Dia cocok sama biografimu. Jadi dia langsung memberi semua jasamu lunas di depan. Siapa tau, dia memberimu tips, karena puas sama pelayannmu? Terima saja, gak pa pa."


Mbak Sandra terlihat berbunga-bunga ketika membicarakan calon tamuku. Aku mengiyakan perintahnya dan memasukkannya ke dalam tas rangsel.


"Tok...tok...tok..bak San. Mr. Gabriel dan Mrs. Joana sudah tiba. Apa disuruh masuk ke sini?"


Bagian front office mengetuk pintu dan setelah dibuka, dia menanyakan yang seharusnya dia lakukan.


"Ya, bawa saja ke sini." Mbak Sandra memerintah karyawannya untuk mengantar calon tamuku ke ruangannya.

__ADS_1


"Good morning Mr. Gabriel and Mrs. Joana. This is Devina, the one who will accompany you to your trip here. Please have a seat, sir, madam."


Mbak Sandra menyambut tamunya dengan luwes dan memperkenalkanku pada kedua bule itu.


"Thank you. So, Devi, which place you will bring us for the first point?"


Mr. Gabriel langsung menanyaiku tentang rute strategis yang sebaiknya dia kunjungi lebih dulu.


"Since this is still in the morning, I suggest you to come to Borobudur Temple first.You will get sunshine while we explore the lowest base to the up of the floor where the biggest sitting Buddha's stupa placed. We'll take much time and energy to go around the temple. Anyway, if you love about history or art, it will be nice observing each detail of the reliefs on the wall of the temple. After all, we'll visit Keraton, I mean the Palace of Jogjakarta. After all, from the kingdom, let's see whether you want to have a nap first for rest, or directly go on touring?"


Aku mencoba memberi gambaran tentang aktifitas yang akan kami lakukan. Ku lihat, Mr. Gabriel menoleh pada Mrs. Joana.


"What about you, dear. Do you want to strightly trip or pause it for rest?"


Mrs. Joana terlihat berpikir sebentar. Lalu tersenyum menatap suaminya.


"I think the second opinion would be fine. We need to recharge our energy before continue to explore this city again."


Begitulah sebagian aktifitasku menjadi pemandu wisata dengan orang berkebangsaan asing. Turis domestik pun banyak yang menggunakan biro perjalanan milik mbak Sandra.


Dari situlah pundi-pundi uangku terkumpul. Aku bisa membeli motor matic keluaran terbaru secara cash tanpa minta bantuan saudara - saudaraku. Aku pun jarang sekali pulang, karena tak ada kenyamanan di sana.


Hingga suatu masa, aku wisuda tanpa seorang pendamping. Nilai yang kudapatkan masuk kategori cumlaude, 3,53.


Abang sulungku memintaku pulang untuk magang kerja di instansi pemerintah. Dengan campurtangannya, mudah sekali aku mendapat meja di sana.

__ADS_1


Namun, ujian datang. Atasan yang tentunya sudah beristti, menyukaiku. Lantas aku bilang ke mas Hari, kalau pak X menyukaiku. Dia tidak percaya. Dikiranya aku keGRan.


Daripada ujung - ujungnya aku disalahkan lagi, aku kabur dari rumah saat masku berkunjung ke mertuanya. Pakaian ku kemas di keranjang kain. Sebagian ku ikat di atas jok. Bergegas aku kembali ke Jogja.


__ADS_2