
Pagi menjelang, tak ada notifikasi apapun dari hpku. Setelah rumah bersih, Pertiwi sudah mandi dan sarapan, ku ajak dia berkeliling komplek supaya tidak jenuh di rumah.
Putri kecilku melompat-lompat kegirangan. Lalu kami berhenti di taman yang ada arena bermain anak. Banyak pohon di sekeliling taman. Jadi suasananya adem, sejuk dan teduh. Sinar mentari hanya menembus celah dedaunan, tidak jatuh tepat di wahana bermain gratis itu.
Aku duduk di kursi taman, memperhatikan putriku yang kegirangan bermain prosotan dan ayunan. Anganku menerawang kembali pada proses persalinannya.
Deni ragu pada keperawananku, tapi dia mengakui Pertiwi sebagai anaknya. Mungkin sebenarnya dia merasakan kegadisanku yang tak berdarah, tapi dia berusaha menutupi kebodohannya, karena sudah terlanjur menuduhku.
Putriku berpostur normal. Tidak gemuk, pun tidak kurus. Pipinya chubby. Kulitnya putih dan bermata bulat tajam seperti balita beretnis Arab. rambutnya ikal seperti Deni.
Ah, kenapa pula aku bertemu dan mau diajak menikah olehnya? Bayangan pernikahan yang senormal pasangan yang banyak terlihat, ternyata tak ku alami. Jangankan kemesraan, kata - kata lembut saja tak pernah ku dengar.
Harapanku, menikah itu adalah untuk dinafkahi oleh suami. Mengasuh dan membahagiakan anak bersama. Berdiskusi tentang rasa yang ada. Melakukan healing ke mall, kuliner ataupun tempat rekreasi. Tapi, yang ku alami dari hari ke hari hanyalah rumah dan pertengkaran.
"Mama, udah. Iwi aus. Puang yuk. Iwi mau nunum usus."
Tiba-tiba putriku sudah berdiri di depanku dan menggoyang - goyangkan kedua tanganku. Ah, lucunya masa cedal balita yang sedang belajar ngomong. Ku cium pipinya dan aku pun berdiri membonceng jari mungilnya.
"Iya, yuk."
Putriku naik dan berdiri di depanku. Motor lalu ku lajukan perlahan menuju rumah kakak sepupu.
Saat menunggui Pertiwi yang minum susu sambil melihat film anak, aku duduk di kasur lantai sambil melihat - lihat yang ada di medsos. Tiba-tiba hpku berbunyi.
"Tut...Tut...Tut..."
Ada panggilan dari mas Priyadi.
__ADS_1
"Halo, Assalamu'alaikum. Dev, sudah ada rumah. Tapi bangunan Belanda milik PJKA. Ndak usah sewa. Kamu rawat saja dan tinggal bayar listrik. Airnya ada, besar dan bening sumbernya. Pas pinggir jalan raya, dekat stasiun. Bangunan sebelahnya disewa oleh yayasan untuk sekolah TK. Kalau kamu setuju, biar ju suruh orang membersihkannya. Jadi kamu tinggal masuk saja. Gimana?"
Aku senang sekali, ternyata ada berita baik juga untukku.
"Halo, Wa'alaikumsalam. Ya mas. Aku mau. cuma aku bingung untuk bawa barang - barangku bagaimana? Kalau 1 pickup saja ndak cukup lho mas. Kalau naik truk, motorku bisa ikut dan aku juga Pertiwi, bisa sekalian di truk. Jadi, prosesnya cepet selesai. Cuma kalau sewa truk umum, mintanya 2 juta. Aku kan perlu modal hidup di sana. Apa aku bisa pinjam sampean dulu untuk ongkos truknya, mas? Nanti lek dapat uang, tak kembalikan. Mungkin nyicil?"
"Oh, itu sih gampang. Sabtu siang aku berangkat ke sana naik truk kesatuan. Mungkin sampainya malam. Langsung nanti balik ke Cilacap. Minggu pagi sudah sampai. Senin kamu istirahat dulu sambil memikirkan yang akan kamu lakukan sesudahnya."
Sambil mendengarkan penuturan putra dari teman ibuku itu, tanpa terasa, air mataku mengalir. Mungkin, inilah salah satu jawaban Tuhan atas do'a - doaku. Allahu Akbar, mulus sekali jalanku meninggalkan kepahitan hidup yang ku alami selama menikah dengan Deni.
"Baik mas. Aku siap. Alamatnya ku kirim setelah ini ya? Assalamu'alaikum."
Setelah mas Priyadi selesai dengan topik pembicaraannya, aku segera menutup telfon darinya.
"Ya. Kamu jangan sedih dan pusing. Tenang, satu per satu masalah, akan teratasi. Sekarang, nikmati waktumu selama menunggu kedatanganku. Hati-hati di sana. Wa'alaikumsalam."
Jam 13:00, balitaku terbangun. Ku berikan dot susunya, lalu ku tinggalkan dia untuk berwudhu dan sholat Dhuhur. Seharian, acara kami hanya di rumah dan seputar komplek.
***
Matahari belum membuat gerah suasana. Ku bawa Pertiwi berkunjung ke beberapa teman yang berbeda lokasi dari perumahan yang ku beli dari pernikahanku dan Deni.
"Eceu, aku ke sini mau pamit. Aku beberapa hari ke depan akan pindah dari Bandung ke Cilacap. Aku minta maaf kalau ada salah ya."
Begitu yang ku ucapkan ketika bertemu teman - teman Sundaku yang ku datangi rumahnya.
"Aduh Devi, ari kunaon nyak ngadadak kieu? Eta caroge Devi kumat?"
__ADS_1
Ceu Dewi terlihat sedih ketika mengucapkan hal tentang Deni.
"Ya, muhun. Begitulah ceu. Kalau sudah watak, itu sulit bahkan ndak mungkin bisa berubah. Daripada mental dan badanku sakit, lebih baik aku pergi mengikuti maunya yang mengusirku."
Tak ada tangisan atau kesedihan yang ku ucapkan. Datar saja.
"Wiyoslah Dev. Cing dilancarkeun rizkina di tempat baru. Kalau ada rejeki dan waktu, main ke tempat eceu ya. Nginep saja di sini. Pertiwi, cing bageur nyak geulis. Tong baong nyak, ku mamah. Kalau Tiwi nanti sudah sekolah dan libur, main saja ke Bandung. Tidur di rumah budhe. Kita jalan - jalan ya."
Ceu Dewi berusaha membesarkan hati putriku. Pertiwi yang asyik makan jajannya menjawab singkat. "Ya."
Kami tak menginap di sana, walaupun sahabatku itu memintanya. Selepas Dhuhur, ku bawa Pertiwi menuju kembali ke rumah kakak sepupuku. Bocah kecilku awalnya berdiri dan duduk di depanku. Tapi lama - lama, kuperhatikan, kepalanya sudah meliuk-liuk.
"Sayang, mau digendong mama? Tiwi ngantuk ya?"
Motor ku tepikan dan meminta persetujuan untuk menggendongnya.
"Iya." Singkat jawabannya.
Aku gegas membuka kresek isi gendongan depan yang berfungi membawa bayi dan balita tetap nyaman di perjalanan walaupun dia tertidur.
Setelah posisi putriku aman, motor ku lajukan kembali menuju komplek perumahan mewah yang sementara ku huni.
Tiba di rumah, motor ku simpan di garasi bersama mobil. Ku langkahkan kaki masuk ke rumah, dan membaringkan Pertiwi di kasur lantai, lalu ku susupkan dot ke mulutnya sambil meletakkan boneka kesayangannya di pelukannya.
Lalu, aku ke kamar mandi, membersihkan diri dan berwudhu.
'Ya Rabb, terimakasih atas berkahMu. Sehingga, dalam kesulitan ini, hamba masih ada tempat berteduh. Masih ada kendaraan untuk bepergian. Masih punya uang untuk makan dan menyenangkan titipanMu. Dan Engkau kirimkan orang untuk menolong melepaskan kesulitan hamba. Tolong, lindungilah hamba dan Pertiwi di manapun berada. Engkaulah yang Maha Segalanya. Hamba bersandar padaMu, atas apapun yang terjadi.'
__ADS_1
Begitulah lantunan doa yang kupanjatkan dalam hati, setelah salamku selesai.