Cintamu Setipis Kertas

Cintamu Setipis Kertas
6. Memulai Lagi


__ADS_3

Setelah perpisahan itu, kami tidak saling mengontak lagi. Mungkin dia berusaha menata hati. Aku pun melanjutkan hari yang tinggal beberapa waktu lagi di kota ini. Aku sudah mengajukan resign. Tapi Team Leader masih menunggu SPG pengganti untuk tempatku.


Waktu itu pun datang lagi. Kembali aku menaiki KM Kelud dari pelabuhan Sekupang Batam menuju Tanjung Priok.


Malam di geladak, sekarang kujalani sendiri. Air mataku luruh seperti air hujan yang tak tau kapan berhentinya? Lelah berdiri, aku duduk meringkuk menekuk lutut. Wajah kutumpukan ke lutut dan menangis sepuasnya. Beruntung, keadaan sepi. Jarak antara orang di dek sangat jauh, seakan mereka memberiku ruang dan memahami kesedihanku.


Kesadaran melecutku untuk bangkit. Tak guna ku tangisi yang bukan menjadi milikku. Live must go on. Ku hirup nafas dalam sekali, ku hembuskan, lalu aku berjalan tegak menuju kafe. Ku pesan segelas coklat panas dan roti bakar camilan favoritku


'Oh, Tuhan. Inikah yang dinamakan putus cinta? Sakit ya Rabb. Perih sekali rasanya. Tolong kuatkan hambaMu ya Tuhan.'


Aku menunduk menangis lagi sambil menyesap minumanku.


Di pojokan kafe, ada stage tempat alat-alat musik dengan para pemainnya. Penyanyi dan pemusik sepertinya melihatku menyendiri di sofa pojok menyendiri dari yang lain. Mereka seolah memahami yang ku rasakan. Kembali aku mencoba cuek menikmati sepotong roti yang ku gigit dan ku ***** perlahan. Namun, aku menangis lagi manakala terdengar alunan lagunya Geisha yang apik dibawakan oleh penyanyi di band kapal laut ini.


Lumpuhkanlah ingatanku


Hapuskan tentang dia


Hapuskan memoriku tentangnya


Hilangkanlah ingatanku


Jika itu tentang dia


Ku ingin ku lupakannya


Hooo...


Aku berdiri melangkah menuju panggung dan memberikan selembar uang merah pada grup band itu di dalam box terbuka yang mereka sediakan. Mereka tersenyum mengangguk dan melanjutkan menyanyi.


"Untuk yang sedang bersedih, cukup sejenak larutkan rasa itu. Bangkitlah. Hari masih panjang. Tetap semangat!"


Saat lagu berakhir, sang vokalis mengucapkan kalimat yang aku yakin dia tujukan padaku. Aku tersenyum dan melambai pada mereka. Ku sesap minuman coklat terakhirku, lalu ku bayar bill dan melangkah ke luar kafe. Namun sekilas ku dengar lirik lagu Peterpan dari penyanyi itu.

__ADS_1


Ku dapat melukis langit


Ku dapat buatmu berseri


Tapi ku dapat melangkah pergi


Bila kau tipu aku di sini


Ku dapat melangkah pergi


Ku dapat hal itu


Tapi buka dulu topengmu


Buka dulu topengmu


Biar ku lihat warnamu


Kakiku melangkah ke luar Hall cafe. Ku toleh mereka, dan ku acungkan jempol padanya. Mereka mengangguk, tersenyum dan vokalis memberi jempol tangannya, menggenggam bersiku dan melambaikan tangannya padaku.


Aku tau, mereka berusaha menguatkanku. Hingga kapal bersandar di dermaga, aku turun menuju parkiran motorku. Alhamdulillah semua bawaanku aman pada tempatnya.


Karena aku sudah mengenal ujung Utara bagian DKI ini, langsung ku lajukan motorku membelah keramaian kota ke arah Bandung. Ya. Intuisiku menuntunku untuk ke sana.


Setiba di Kota Kembang, aku mencari tempat kos di daerah Cimahi. Alhamdulillah dapat. Nama desanya adalah Cibeureum. Kosanku masuk ke jalan kampung yang masih banyak pohon besarnya. Hawa sejuk menyapaku lembut di kulit dan rambutku.


Tentu ku pilih yang ada kamar mandi dan dapur dalam, demi privacy. Keadaanku benar-benar seperti pengungsi. Kasur tipis yang ku masukkan plastik besar, berada di bagian paling atas motorku. Jadi, aku ndak perlu membeli perabotan lagi.


Aku tipe orang yang simple. Jadi, pakaianku ku buat sejumlah sepenuhnya 2 koper kecil yang bisa masuk ke keranjang kain motorku. Sorenya aku hanya membeli nasi di warung dekat kosan.


Pagi harinya, aku melamar kerja di sebuah distributor besar. Selalu Tuhan Maha Baik padaku. Aku diterima menjadi sales perusahaan baterai. Entahlah, mengapa aku mau menerima peluang ini? Padahal, aku baru pertama kalinya menginjak kota Bandung. Kalau masih di pulau Jawa, rasanya seperti di rumah sendiri saja. Bawaannya berani. Berbeda saat di Batam.


'Ah, Batam. Ternyata kamu memberiku bitter sweet memories. Aku mengalami jatuh cinta di sana. Tapi, cintaku pupus sudah di kotamu. Hatiku sudah tertambat tapi tak berbalas. Bahkan sudah dibuat hancur berkeping-keping.'

__ADS_1


Kembali, aku menangis. Serasa masih ada aroma tubuhnya di indera penciumanku.


'Ya Tuhan, sebeginikah rasanya sakit hati karena cinta? Mampukan aku Ya Rabb. Kuatkan aku menjalani hariku, wahai Pemilik Hidup.'


Ku rapikan alat ibadahku, dan mencoba memejamkan mata.


Pagi hari selepas sholat Subuh, aku menanak nasi di magic com miniku. Ku goreng pandang yang kemarin sempat ku beli di warung sayur. Ku uleg bahan sambel di cobek batu mungil yang selalu ikut serta di setiap petualanganku.


Hingga suatu ketika, aku ke luar dari supermarket di Cijerah, ada seseorang yang memanggilku.


"Devi. Devina." Ku tengok asal suara. Seorang pria kurus kering tidak tampan berjalan ke arah motorku.


"Hei, kamu di sini juga? Aku Deni, anak SMP yang dulu kamu tertawakan itu lho. Masa lupa. Kelasku F. Kamu di kelas B, kan? Bapakmu pak Mandor itu kan?"


Aku tersenyum datar menerima uluran tangannya. Aku tidak memberinya alamat kosku, karena aku sudah jengah berhubungan sama pria. Aku takut gagal lagi.


Tapi, ternyata dia menemukan kosanku. Seiring waktu, dia meyakinkan ingin menikahiku. Karena aku malu menjadi perawan tua, ku terimalah ajakannya menikah.


Dari penampilannya, sudah terbaca kalau dia bukan dari kalangan keluarga pegawai sepertiku. Benar saja. Ketika diajak pulang kampung naik kereta api, setibanya di stasiun, kami naik angkot menuju desanya. Rumahnya melalui sawah sekitar 500m. Melelahkan sekali rasanya. Tapi bagaimana lagi, sudah terlanjur.


Memasuki rumahnya, aku berjingkat. Memang lantai rumah sudah dikeramik, tapi ngeres. Ukuran kamarnya kecil, gelap pengap karena tidak ada ventilasi dan jendela. Lantai dapur masih berupa tanah. Masaknya di kayu bakar dan kompor gas. Perabotan berserakan kian ke mari. Waktu aku kebelet ke air, betapa semakin shock yang aku rasakan. Kamar mandi masih semen, dalam bak mandinya kotor, sedangkan lantai dan dindingnya banyak lumut dan berwarna kuning coklat dan hitam.


'OMG. Aku hidup di jaman yang belum tersentuh peradaban.'


Gunamku di hati dalam keterkejutan menatap keadaan yang jauh dari kebiasaan keluargaku.


Ketika ditawari makan, aku menolaknya, karena bak cucian piringnya sangat keruh dan berminyak airnya. Bersyukur aku membawa air mineral. Jadi, ketika disuguhi teh, ku berikan saja gelas itu pada Deni.


Kata calon mertuaku, gak apa - apa menikah. Tapi mereka tidak mau membuat pesta.


'Lah, siapa pula yang minta pesta? Lagian aku malu, calon suamiku sangat tidak selevel denganku.'


Gerutuku masih di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2