
***
Aku terus berupaya melupakan kejadian kejadian aneh dalam hidup ku. "Stop aless, kamu harus bisa melewati ini " batin alessia lalu dirinya kembali ke ICU
Aku melihat angga duduk diruangan ku bersama mama dan papa, aku sedikit mengerutkan dahi, mereka tampak serius ngobrol sehingga membuatku lebih penasaran
" om lihat kamu begitu peduli pada aless " ucap roy pada angga
" namanya juga temannya pa, iya kan ngga!" sahut mariana
" sebenarnya angga tidak menganggap alessia hanya sekedar teman om, tante "
" maksud kamu?" tanya roy
" angga sudah lama menyukai anak aless sejak pertama kali kami masuk kuliah, cuma aless begitu cuek saat didekati " jawabnya membuat aku melonjak kaget
" sungguh dia menyukai ku?" selama ini aku tak bisa menganggap angga suka padaku, secara kami selalu bertengkar setiap bertemu
Aku nyengir pada angga, yang juga menahan senyum, tapi seperti tulus senyumannya
Wajah mama langsung berubah, seakan tak percaya kalau angga menyukaiku sejak dulu
__ADS_1
" yang benar ngga? terus bagaimana sekarang?"
" masih sama tante, kami masih biasa biasa saja"
Kini aku benar benar melihat dan mendengar angga mengatakan yang sejujurnya. Aku sedikit geli mendengar nya namun mengapa hatiku jadi tak menentu begini?
***
Beberapa hari kemudian
Kini aku mulai terus kepikiran angga. Entah sejak kapan. Atau mungkin sejak beberapa hari lalu mendengar ungkapan hatinya.
***
Pukul 19.27
Dokter dan perawat kembali ke ICU. Seperti biasa mereka mengecek kondisi tubuhku apakah sudah ada tanda tanda yang lebih baik, namun dokter itu menggeleng kepada perawat di sebelahnya
" masih belum membaik " ucapnya
" semoga dia segera sembuh, kasihan orangtuanya dan kekasihnya " lanjut perawat wanita berambut pendek dan berkacamata itu
__ADS_1
" apa? kekasihku? maksud kamu angga? yang benar saja huhh " aku sedikit berdengus mendengar ucapan perawat itu
Sementara itu aku memikirkan ini, aku terus memikirkan diriku selanjutnya. Karena sesungguhnya akulah yang menentukan. Apakah aku tinggal, atau aku harus hidup itu teegantung pada diriku.
Segala urusan tentang koma medis ini hanya omongan dokter dan beberapa tenaga medis lainnya, semua bukan tergantung pada dokter. Ini semua juga bukan tergantung pada malaikat malaikat yang tidak hadir. Karena ini semua tergantung seberapa usaha ku, tentang ku.
Bagaimana bisa aku meninggalkan mama dan papa, aku begitu menyayangi nya. Lagipula aku juga tidak ingin terus berada disini. Ini membuatku kebingungan.
Aku bahkan tidak mengerti apa yang menimpaku hingga seperti ini. Mengapa aku berada di dalam keadaan yang membuatku bingung. Aku bingung bagaimana untuk keluar dari sini. Aku ingin tinggal, aku ingin bangun , bukankah seharusnya aku sudah sadar?
Aku yang memutuskan. Dan ini semua membuatku lebih ketakutan daripada apa pun yang pernah terjadi padaku
" siapa yang bisa membantuku kembali?"
Kini aku seperti berada di dunia mimpi, layaknya seperti putri tidur. Ya, begitulah kondisiku sekarang.
***
Kini dua orang perawat berjaga di ICU, mereka telah siap menggunakan baju khusus dan masker yang menutupi setengah wajahnya itu.
Aku sedikit senang sih, ya walaupun itu bukan mama yang selalu mengelus kepalaku hingga aku tertidur. Tapi setidaknya aku tidak sendirian di ruangan yang sumpek ini.
__ADS_1