
***
21.40
Kini aku masih setia duduk di ayunan kesukaanku selama disini. Aku terus bernyanyi sambil terus mengayunkan ayunan ku. Dulu aku memang ingin sekali kuliah di jurusan musik, namun mama tidak mengizinkan ku dan lebih setuju aku masuk di kedokteran membuatku suka tidak suka harus mau.
Kini aku masih disana, ingin rasanya pergi dari tempat ini, dan berjalan jalan dengan teman teman, merayakan malam pergantian tahun yang tinggal sebentar lagi. Tak terasa sudah 1 jam aku meninggalkan ICU. Aku bergegas kembali kesana, entah kenapa mataku ingin sekali terpejam.
Aku terus berjalan kesana, hingga tepat di ruangan ku aku segera masuk. Tak ada cahaya alamiah disana, dan terus menerus terdengar suara latar, tapi alih alih bunyi mesin judi dan gemerincing koin yang menyenangkan. Disini terdengar dengungan dan desisan alat alat kedokteran, panggilan panggilan teredam yang tanpa henti di pengeras suara, dan perbincangan para perawat.
__ADS_1
Sudah tak bisa ku hitung berapa lama aku berada disini. Bosan, letih. Itu yang aku rasakan sampai sekarang. Aku masih bingung dengan diriku. Seperti mati suri saja, ucapku pelan. Masih ku lihat dengan jelas tubuh ku yang tengah terbaring disana. Alih alih ingin nembangunkan namun itu hanya percuma.
Badanku kini sangat kurang sehat seperti biasanya, entah apa aku sering menghabiskan waktu dimalam hari. Kini aku sudah tak tahan dengan rasa kantuk. Perlahan dan kini aku sudah tak sadarkan diri. Alat alat kedokteran itu kini berbunyi dengan begitu cepat, mula mula hanya seperti desisan biasa, namun lambat laun menjadi suara yang begitu nyaring hingga dokter dokter itu terus berdatangan. Ia buka dengan cepat kelopak mataku, dan mengotak atik mesin yang terpasang ke tubuhku.
" cepatkan oksigennya " suara yang terdengar seperti menggertak para perawat itu. Dengan cepat perawat muda itu mempercepat tabung oksigen di sampingku. Namun, tak ada hasilnya, kini nafasku kian memburu dengan sangat cepat. Berbagai tindakan telah mereka lakukan untukku.
Aku kini terus berjalan mengikuti arah cahaya terang di depanku, aku seperti mimpi, bertemu dengan renata dan lily, orang yang aku kenal. Mereka dengan senyum nya setia menungguku di sebrang sana, lily tampak lebih gembira melihatku dari kejauhan. Aku ingin kesana namun, seperti ada yang belum bisa ku katakan sekarang.
" mungkin ini yang terbaik untuknya " ucap salah satu dokter itu. Dokter dan perawat yang lain kini hanya menghembuskan nafas kasarnya. Seolah seperti bekerja yang tak membuahkan hasil.
__ADS_1
Ia menyampaikan kabar ini kepada mama, papa dan angga yang dengan khawatir menunggu ku di ruang tunggu. Isak tangis kini terdengar lebih keras dari biasanya. Mama kini yang telah di tuntun oleh papa dan angga masuk keruanganku. Menangis dengan histeris. Aku seperti tak tega mendengar itu.
Dokter itu hanya tertunduk miris mendengar tangisan itu. Mereka tau apa yang dirasakan oleh mama. Namun kini angga, yang menangis, menatap dan memegangi tanganku dengan erat dan menangis sambil terus berbisik di telingaku
" bangunlah aless, aku disini menunggumu " suara angga yang terdengar begitu lembut
Aku kini masih bingung, aku ingin kembali dan melanjutkan misi ku di dunia nyata, aku ingin menyampaikan jika saat ini aku juga mencintai angga.
Aku lemas kembali, letih, dan tidak yakin apakah aku berhasil melakukannya. Tidak paham artinya, apakah maksudku tersampaikan dan berarti. Namun kemudian cengkeraman angga mengeras. Sehingga genggaman tangannya terasa seperti memeluk seluruh tubuhku. Seakan bisa mengangkat ku sampai berdiri tegak dari kasur ini. Kemudian aku mendengar nafasnya tersentak keras, diikuti dengan suaranya, dan inilah pertama kalinya aku bisa mendengar suaranya. Inilah pertama kalinya aku benar benar bisa mendengarnya
__ADS_1
" alessia " dia bertanya