
***
Kini Roy dan Mariana melajukan mobilnya kerumah sakit. Pikirannya kacau, semua tertuju pada alessia putrinya.
Mariana yang hanya bisa menangis sesegukan, dan roy yang sesekali menggenggam dengan tangan kirinya dan memegang kemudi dengan tangannya
1 kotak tisu pun telah dihabiskan mariana selama di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit
Setelah sampai dengan begitu terburu buru akhirnya dirinya mencari ruangan yang merawat anaknya
Betapa terkejutnya mereka melihat tubuh alessia yang telah terbaring disana
" sayang.. bangun ini mama nak " ucapnya sambil terus menangis
Apa lagi ini? aku melihat mama dan papa mengunjungiku. " Ma, pa alessia disini cepat bawa pergi aless ma, pa " panggilku.
Namun mereka tak merespon ku. Aku melangkah lebih dekat, hingga kini aku telah berada disamping mama, ku pegang tangan mama ku namun tidak bisa. Mereka tak bisa melihat ku
Aku pasti benar benar sedang mimpi bangun, ayo bangun aless! aku terus berteriak, namun semua itu hanya sia sia
__ADS_1
Dokter pun kini masuk ke ruangan dan beberapa perawat mengecek keadaan ku
" bagaimana dok?" tanya roy dan mariana
" anak anda masih koma, entah sampai kapan semoga saja ada mukjizat yang bisa menyembuhkannya " jawab dokter berkulit putih bersih itu
Perawat berambut ikal berwarna sedikit coklat itu kini menyuntik kan obat ke dalam tubuhku.
Jangan ! aku berteriak karena aku merasa suntikan itu begitu sakit. Namun, aku sama sekali tak merasakan apa apa
Aku semakin bingung dengan diriku. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari ruangan yang tak aku sukai itu. Kucari keberadaan renata di setiap ruangan namun tak kunjung ku temui
Dia tak sendirian, ada keluarganya yang kini sedang menunggu. Aku melihatnya miris, keadaan nya begitu mengkhawatirkan sama seperti diriku saat ini.
Aku pun kembali menuju ruanganku, terlihat mama dan papa yang masih setia menunggu sampai aku membuka mata
Namun tiba tiba mama dan papa panik, dokter pun kembali masuk ke dalam ruangan itu
Ternyata banyak yang salah pada diriku. Hati ku bocor, dan juga ginjal ku. Banyak pendarahan yang tak diketahui darimana asalnya. Mungkin itu terjadi karena tubuhku terjepit di dalam badan bus yang ringsek tadi, pikirku.
__ADS_1
Dokter pun mengeluarkan ku dan membawaku kedalam ruang operasi.
Sekarang aku di sini, para dokter kini membedah bagian perutku dan menjahit dengan perlahan bagian dalam tubuhku
Kondisiku semakin buruk, pendarahan terus terjadi. Dokter pun menyumbatnya dengan kain kasa yang masih steril.
" hubungi bank darah, kita membutuhkan darah golongan A 3 kantung " salah satu dokter mengatakan kepada dokter lainnya
Dokter itu pun segera keluar dari ruang operasi dan bergegas menghubungi bank darah untuk ku
Aku bahkan tak pernah berfikir akan jadi seperti ini, aku menyaksikan diriku sendiri dioprasi membuatku merinding.
Ruang bedah itu tampak begitu padat. Penuh cahaya terang yang menyilaukan tempat itu. Banyak peralatan medis disana
Darah ada dimana mana. Sama sekali tak menggetarkan para dokter , mereka terus menyumbat darah yang terus keluar dari dalam perutku. Mereka mengiris, menjahit ya seperti itulah, dan aku kini menyaksikannya
" mungkin kelak jika aku wisuda dan menjadi seorang dokter aku juga seperti mereka " pikirku
Oprasi itu lama sekali sampai aku lelah untuk terus menunggu. Berarti memang benar aku belum mati aku masih bisa melihat layar monitor jantung yang masih terus berbunyi
__ADS_1