
***
Kini mereka memindahkan ku dari ruang bedah ke ICU kembali. Lagi, dan lagi. Lagi lagi aku harus kembali kesini. Ruangannya berbentuk sepatu kuda berisi sekitar sepuluh tempat tidur dan beberapa orang perawat yang terus berkeliaran dengan sibuk. Mereka terus membaca printout komputer yang meluncur keluar dari kaki tempat tidur kami, merekam tanda tanda vital kami.
Aku ditangani oleh dua perawat wanita, yang satu sudah paruh baya, dan yang satunya terlihat masih muda, kukira hanya lebih tua 3 tahun dariku. Kini lebih banyak slang yang terpasang di tubuhku, tak seperti biasanya. Entah, apakah aku kini sedang koma lagi. Sekarang, tak ada siapapun lagi selain dokter, perawat dan pekerja sosial yang menjenguk ku. Mama dan papa belum di diperbolehkan menjenguk sebelum keadaanku lebih baik.
Angga lah yang saat ini ingin ku temui. Aku berharap tau dimana dirinya berada sehingga bisa berusaha menghampirinya. Entah apa mungkin aku mulai membutuhkannya atau bahkan kini aku juga mulai menyukainya.
Aku ingin menyampaikan padanya apa yang terjadi padaku sekarang, selain dia teman sekampus dia pun lebih tau perasaanku sekarang.
__ADS_1
Aku kini sedang berdiri disamping sosok yang tak sadarkan diri penuh slang dan itu adalah diriku. Kulitku tampak lebih pucat dari biasanya. Mataku diselotip menutup. Aku berharap bisa membukanya, aku melihatnya sedikit gatal.
Aku tidak suka berada disini, aku ingin pulang.Aku memang menyukai rumah sakit, tapi bukan dengan cara seperti ini. Aku ingin menggantikan posisi para dokter untuk menyembuhkan pasiennya.
Beberapa minggu berlalu, dan tak ada yang lebih baik dari diriku. Aku masih disini, satu ruangan besar yang didalamnya terdapat sepuluh orang yang bernasib sama sepertiku, namun kami berbeda takdir. Mereka masih berada dalam dirinya, namun aku? aku keluar dari tubuhku dan entah sampai kapan ini akan berlanjut.
Dia terus memandangiku, aku tersipu malu. Sosok angga yang begitu menyebalkan bagiku kini aku sering terbiasa tersenyum sendiri saat dia menjengukku.
" Cepatlah sadar aless, berjanjilah padaku kita akan merayakan malam tahun baru bersama sama" dia berbisik di telingaku.
__ADS_1
Aku sontak kaget, dia memang benar sebentar lagi tahun baru. Aku berharap malam itu aku bisa ikut merayakannya. Aku ingin mengatakan bahwa aku ingin,
namun tiba tiba dia mencium keningku sekilas.
Aku menutup wajah dengan kedua tanganku dan mengeleng geleng. " Apa yang barusan dia lakukan? dia menciumku? apa yang akan aku lakukan?" aku meratap. " Aku merasa sedang terjebak dengan permainanku sendiri, aku sangat membencinya, namun sekarang? aku mengacak acak rambutku merasa gila dengan apa yang terjadi pada hatiku.
Angga kini sudah pergi setelah menyampaikan beberapa kata untukku. Tiba tiba dia bergegas keluar seperti sedang terburu buru. Kini aku tinggal dengan para perawat itu lagi, mengapa dia hanya sebentar? bahkan aku masih berharap dia disini lebih lama
Ketika hari semakin larut, sebagian orang mungkin lebih memilih untuk tidur dan masuk kealam mimpinya. Namun, aku masih tak kunjung menutup mataku. Kini aku lebih memilih untuk menyelinap keluar dari ICU dan berjalan jalan di luar. Di taman, adalah salah satu tempat yang sering aku kunjungi selama disini, disana tidak tampak seperti taman rumah sakit, karena jaraknya sedikit jauh dari ruangan ruangan pasien.
__ADS_1