
***
Kini aku seperti sedang mimpi buruk.
Mimpi buruk ketika sewaktu SMP papa selalu menghukum ku karena kalau pulang terlalu sore. Ya, memang seperti itu kebiasaanku sampai sekarang. Bermain dan menghabiskan waktu dengan teman teman itu begitu asyik sehingga selalu lupa waktu
Dan papa selalu memarahiku dengan menghukum untuk terus belajar supaya peringkatku naik dan ponselku diambil olehnya beberapa hari membuatku begitu kesal.
Namun kini tak ada lagi begitu. Pikiranku telah menjalar kemana mana, aku tak bisa melakukan apa apa lagi.
Ini semua seperti sedang menonton film horor dan bersembunyi di balik bantal. Namun ini lebih dari itu. Bangun! aku berteriak. Bangunlah ayo bangun! tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa bangun
__ADS_1
Sesekali aku memukul pelan pipi ku, berusaha untuk membangunkan agar aku segera sadar dari mimpi buruk ini namun hanya sia sia itu lagi.
Aku hanya ingin bangun seperti semula, bisa berkumpul dengan orang tuaku, teman ku dan aku ingin segera meraih gelar sarjana ku. Ya Tuhan, ada apa ini! mengapa ini terjadi padaku.
Aku ingin segera lulus karena papa telah berjanji padaku kita akan liburan ke jepang untuk merayakan hari kelulusan ku. Menikmati salju di musim dingin, ya seperti sedang liburan sekolah saja.
Merayakan dimalam yang dingin, menggunakan jaket tebal dan meminum air hangat yang begitu menghangatkan tubuh. Suasana malam kota jepang yang ingin ku jumpai di hari kelulusanku.
Aku mondar mandir disana. Tak ada orang disana, hanya aku. Seperti di dalam penjara yang sangat lama. Aku bosan berada disini.
Ku ingat kembali mama waktu mendongengkan ku buku cerita. Suara yang begitu merdu membuatku mudah sekali untuk tidur. Papa dan mama selalu mencium ku sebelum tidur. Aku hanya anak tunggal, jadi kasih sayang mereka hanya diberikab seutuhnya untukku.
__ADS_1
Aku seperti kehilangan akal agar bisa keluar dari sini. Aku ingin mengacak acak meja perawat itu. Aku ingin semua ini menghilang dan kembali seperti dulu. Aku ingin menghilang. Aku tidak ingin berada di rumah sakit ini, aku tidak ingin berada dalam keadaan menggantung seperti ini. Aku bisa melihat apa yang terjadi di sekitarku,aku sadar akan perasaanku tanpa bisa benar benar merasakannya.
Aku tak bisa menjerit sampai kerongkonganku sakit, aku tak bisa memecahkan jendela sampai tanganku berdarah, atau menjambaki rambutku sampai sakit di kulit kepalaku mengalahkan rasa sakit hatiku saat ini.
Aku menatap diriku sendiri, Alessia yang masih hidup sekarang, terbaring di tempat tidur rumah sakit. Aku merasakan semburan kemarahan untuk keadaan ku sekarang. Andai bisa aku menampar, aku akan menampar wajahku sendiri yang tak bereaksi itu.
Tapi kini aku malah duduk di kursi dan memejamkan mata, berharap semua ini segera berakhir. Tapu tak bisa. Aku tak bisa berkonsentrasi karena tiba tiba mendengar suara yang begitu menganggu pendengaranku. Monitor monitor ku berkelip kelip dan kedua perawat itu kembali menghampiriku.
" tekanan darahku dan asupan oksigen ku turun!" salah satu perawat itu berteriak
Tak lama kemudian dokter dengan cepat segera bergabung dengan kedua perawat yang kini berada di ruanganku.
__ADS_1