
***
Bagaimana aku langkah selanjutnya? bagaimana aku bisa menanggung ini dalam hidupku? Selama sedetik aku membayangkan diriku bisa sembuh dan keluar dari sini lalu ikut pulang bersama papa dan mama serta angga. Tentu saja, barangkali keadaan tidak akan seperti ini lagi untuk hari esok. Suasana akan sangat canggung dan sedih. Lagi pula, aku belum memutuskan apa yang akan aku lakukan untuk kedepannya. Masih belum tau bagaimana aku bisa memilih untuk tinggal atau pergi. Sampai berhasil memecahkan masalah itu, aku harus membiarkan keadaan berada dalam tangan takdir, atau para dokter, atau siapa pun yang yang memutuskan permasalahan seperti ini ketika orang yang seharusnya memilih terlalu bingung mau memilih elevator atau tangga.
Aku butuh angga. Aku mencari angga tapi dia tak berada disini. Aku mencarinya hingga lorong lorong rumah sakit namun tak juga ku temukan. Akhirnya aku kembali ke tempat aku memulai. Kembali di ICU, maksudnya aku kembali di samping tubuhku.
__ADS_1
Aku duduk disini sepanjang waktu, terlalu letih untuk bergerak. Aku berharap bisa tidur. Aku berharap ada sejenis obat bius untukku, atau setidak nya sesuatu yang membuat dunia menutup di sekelilingku. Aku ingin kembali menjadi seperti tubuhku, diam dan tak bereaksi dan pasrah di tangan Tuhan. Aku tidak memiliki kekuatan untuk menentukan pilihan. Aku tidak menginginkan ini lagi, sungguh. Aku tidak menginginkan ini, ku tatap sekeliling ICU, merasa seperti orang gila. Namun aku yakin semua orang sakit di bangsal ini juga tidak senang berada disini.
Namun seketika bayanganku kabur, aku melihat ada sebuah cahaya disana, sangat menyilaukan bagiku.
Kini para dokter kembali menuju ruangan ku. Keadaanku kini parah. Dokter pun kembali melakukan oprasi padaku.Aku kembali dibantu ventilator, dan sekali lagi mataku di tutup selotip. Aku juga belum tau apa fungsi selotip itu. Karena saat kuliah, kami baru praktek menangani kasus bedah perut, semacam orang melahirkan cesar.
__ADS_1
Aku mulai tak sadarkan diri, tubuhku seakan tak sanggup melakukan apapun. Dua orang perawat yang bertugas mengontrol detak jantungku, menghampiri tempat tidurku dan memeriksa semua monitor ku. Mereka mengucapkan angka angka yang sekarang kukenal. Tekanan darag tinggi, asupan oksigen, tingkat pernafasan.
Oprasi itu tampak lama sekali, hingga para dokter itu mengeluarkan banyak keringat di keningnya. Kini banyak yang salah pada tubuhku. Semua tak berjalan normal seperti biasanya. Dokter itu pun sempat bingung apa yang harus dilakukan untukku.
Di ruang oprasi yang terlalu besar itu mereka berjuang untukku. Keringat mereka kembali bercucuran. Darah, ada dimana mana tak menggentarkan mereka untuk terus menjahit dab mengiris dan menyedot darah kotor dari tubuhku. Lantai itu meski di sikat hingga berkali kali pun tidak akan menghilangkan bekas noda darah yang kurasa telah lama.
__ADS_1
Kini aku terus kesulitan bernafas, perawat itu telah mempercepat oksigen untukku. Namun masih saja tak membantu. Jumlah cairan dan gas serta obat obatan yang mereka berikan kepadaku. Dia begitu khawatir akan kondisi ku yang sama sekali tak merespon obat obatan yang telah mereka berikan.