
***
Dokter dokter terus berdatangan dan membuka kelopak mataku sembari menggerak gerak kan senter yang begitu menyilaukan. Dengan kasar dan tergesa gesa, seakan tidak menganggap kelopak mata pasien juga harus di perlakukan dengan lembut.
Mama dan papa kembali panik, tak hanya mereka berdua, angga juga kini ikut bersama papa dan mama
Salah satu perawat wanita itu berdiri disebelah tempat tidurku. Dia mempelajari berkasku dan berbicara kepada salah satu perawat yang lain.
Si perawat itu tampak letih. Seolah sudah ingin meringkuk dan berbaring di salah satu tempat tidur yang kosong. Aku bukan satu satunya pasien yang mereka tangani, mungkin berpuluh puluh pasien dan aku diantaranya. Dia berkeliaran dari satu pasien ke pasien lain dan satu keluarga ke keluarga lain sepanjang harinya.
Setelah membaca berkasku dan berbicara pada para perawat, dia kembali ke keluarga ku, yang sudah berhenti bicara dan menggantinya dengan isak tangis sendiri sendiri. Aku juga melihat angga menangis tersedu akan kondisiku saat ini. Aku sekarang bingung, apakah dia benar benar menyukaiku? tapi jika tidak mengapa sampai sebegitu dia takut kehilanganku?
__ADS_1
Kini perawat itu membiarkan keluargaku masuk termasuk angga untuk melihatku. Perawat itu kembali melangkahkan kaki masuk keruangan.
" Alessia masih belum sadarkan diri tapi tanda tanda vitalnya mulai membaik" dia memberi tau kerabatku saat tengah berkumpul di dalam ruanganku.
" kalau begitu ini kabar yang lumayan baik kan ?" tanya papa ku
Perawat itu hanya memberi anggukan simpatik yang sudah terlatih. " jika dia bernafas sendiri, berarti itu kemajuan yang luar biasa tanda nya paru parunya mulai stabil dan normal kembali , karena kini memar di otaknya membuatnya sulit bernafas".
" kami tidak bisa memastikan kapan dia akan sadar, namun kami juga akan terus mengawasinya "
Kini mereka menatapku dengan wajah begitu pucat, rasa takut akan kehilangan diriku begitu aku rasakan. Aku melirik angga yang masih setia berdiri di dekat orang tuaku, ia terus menatapku dengan sesekali meneteskan air matanya. Membuatku menjadi tak tega melihatnya, " ada apa dengan ku? kurasa aku sudah mulai gila karena angga!" aku dengan cepat memalingkan wajah darinya
__ADS_1
Jam besuk kini telah habis, namun mereka seakan tak mau pergi dari hadapanku. Terlebih mama yang sedari tadi terus menangis, papa kini menenangkan mama dan mengajak nya keluar untuk istirahat
Di ICU, waktu berhenti seperti biasanya. Salah satu ahli bedah yang menanganiku tadi siang yang banyak berkeringat dan dengan cepat dia memainkan musik, menyalakan weezer lalu memeriksaku.
Lampu disana dinyalakan redup dan terasa artifisal serta dijaga agar berada dalam level yang sama setiap saat, namun musik bernuansa seperti kembali di zaman 90an itu tak mampu melawan keheningan di malam hari yang menyelimuti tempat itu. Suasana yang tak sesibuk siang hari itu, seakan para perawat serta mesin mesin mulai letih dan berada dalam kondisi hemat energi.
" aku ingin masuk, mengapa kamu menghalanginya?" suara teriakan angga
Aku menyebrangi ICU, berdiri persis di sisi lain pintu otomatis. Aku mendengar salah satu perawat itu menjelaskan pada angga bahwa dia tidak diizinkan masuk ke bagian rumah sakit yang ini.
" omong kosong! hanya sebentar dan itu tidak akan membawa bencana!" angga kembali berteriak
__ADS_1
Di dalam bangsal, semua perawat melihat ke arah pintu, mata mereka tampak waspada.