Contract Dating (Pacaran Kontrak)

Contract Dating (Pacaran Kontrak)
29. CAPER KE CAMER (2)


__ADS_3

Ayah Yanto dan Yohan hanya cengengesan mendengar amarah mama Ayu.


Kok Yohan bisa cepet akrab banget sama ayah.. Hah??


Batin Irene keheranan dengan ayahnya dan Yohan yang tampak sudah sangat akrab.


Padahal tadi sebelum dia masuk kedalam rumah ayahnya masih terlihat dingin pada Yohan.


"Ayo nak Yohan masuk kedalam.. Mama sudah masakin makanan enak-enak.. Ayo.." ajak mama Ayu menarik Yohan.


"Iya ma.." Yohan menurut saja dan mengikuti mama Ayu masuk kedalam rumah.


Irene menarik lengan Yohan.


"Kamu tadi abis motoran sama ayahku? Keliling komplek??" tanya Irene berbisik.


Yohan tersenyum dan mencubit pipi Irene, "Iya sayaaang.."


"Aaawww!!" teriak Irene.


Mama Ayu menengok kebelakang dan tersenyum melihat tingkah Irene dan Yohan.


"Kalian berdua cuci tangan dulu.. Mama tungguin dimeja makan.." perintah mama Ayu.


Kemudian mereka makan siang bersama diselingi obrolan ringan.


Selesai makan Yohan berinisiatif ingin membantu mencuci piring tapi dicegah dengan halus oleh mama Ayu.


Yohan melihat-lihat interior diruang keluarga. Rumah Irene sederhana termasuk interiornya. Yohan fokus pada foto-foto yang terpajang didinding.


"Foto ini kamu umur berapa?" tanya Yohan yang bertepatan dengan Irene yang muncul dari dapur membawa sepiring buah.


"Yang mana? Oh.. Ini waktu umur 10 tahun.." jawab Irene, "Jangan dilihatin.. Ayo sini duduk makan buah".


"Kamu dulu kompetitif juga ya.. Dilihat dari banyaknya medali dan piala," ucap Yohan bangga.


"Iya donk.. Siapa dulu.. Irene.. Hehehe.." Irene menyombongkan diri.


"Maaf ya nak Yohan.. Rumah mama kecil dan sederhana.. Mama harap nak Yohan merasa nyaman," mama Ayu muncul dan bergabung dengan mereka.

__ADS_1


"Nyaman kok ma.. Mama tenang aja.. Saya suka disini.." Yohan menjawab dengan sopan dan tulus.


"Ma.. Panas banget cuacanya.. Dikulkas ada ice cream gak?" ucap Irene manja.


"Kamu ini Irene.. Irene kan jarang pulang.. Biasanya yang suka stok es krim kamu kan.." kata mama Ayu.


"Ya udah.. Aku mau beli dulu ya.." Irene bergegas bangkit dari duduknya untuk bersiap pergi.


"Aku antar ya sayang?" Yohan menawarkan diri.


"Gak usah kamu disini aja nemenin mama.. Biar Irene dianter ayahnya," cegah mama Ayu.


Irene pun pergi mengajak ayah Yanto ke supermarket terdekat.


Dirumah mama Ayu menyuapi Yohan dengan buah yang sudah dipotong. Yohan sedikit canggung tapi menurut saja.


Mata Yohan terfokus pada foto anak kecil yang membawa boneka didinding dekat mama Ayu duduk.


"Apa itu foto Irene kecil ma?" tanya Yohan menunjuk foto itu.


Mama Ayu melihat arah yang ditunjuk Yohan.


"Benar.. Lucu kan.. Kawai.. Cute banget kan? Kan??" jawab mama Ayu membenarkan dengan nada gemas.


Wajahnya menunjukkan kalau dia gemas tapi dia tahan.


"Kamu mau liat foto-foto Irene? Mumpung anaknya gak ada.."


Tanpa menunggu jawaban Yohan, mama Ayu membuka laci lemari diruang keluarga itu. Dia membawa beberapa foto album besar.


"Ayah Irene sayang banget sama Irene.. Setiap moment pasti difoto.." kata mama Ayu mulai bercerita.


Mereka membuka-buka foto album. Sesekali mereka tertawa karena melihat foto moment lucu dan gaya Irene kecil yang imut.


"Pasti nak Yohan bertanya-tanya ya.. Kenapa anak sepintar Irene bekerja jadi bartender padahal dirumahnya banyak sekali piagam dan piala penghargaan??" tanya mama Ayu seketika raut wajah cerianya berubah.


"Saya tidak pernah mempermasalahkan pekerjaan dan asal usul Irene ma.. Saya benar-benar menyukai Irene apa adanya," jawab Yohan dengan yakin.


"Mama bersyukur.. Nak Yohan anak yang baik.. Mama sudah mengenal presdir Yonas orang yang baik dan juga mama juga berteman lama dengan mamamu Adinda Ayu," ucap mama Ayu penuh syukur.

__ADS_1


"6 tahun lalu tiba-tiba Irene bilang capek coass dan mau berhenti kuliah.. Lalu dia kursus dengan Kevin jadi bartender katanya lebih seru. Padahal dari dulu cita-citanya adalah menjadi dokter yang bisa menolong orang-orang sakit dan tak mampu diluar sana. Mama masih gak mengerti kenapa Irene tiba-tiba berubah,"


"Apa Irene sudah cerita soal ini ke nak Yohan?"


"Belum ma.. Saya gak mau memaksa Irene untuk bercerita.. Tapi saya akan menunggunya sampai dia siap untuk bercerita," jawab Yohan mencoba menenangkan mama Ayu.


"Mama titip Irene ya nak Yohan.. Mama percaya nak Yohan bisa menjaga Irene," kata mama Ayu penuh harap.


"Saya pasti akan menjaga Irene ma," ucap Yohan dengan yakin.


Yohan melihat foto yang tampak tak asing baginya.


"Bukankah anak ini saya ma?" tanya Yohan menunjuk foto 2 anak kecil.


"Ah.. Ini.. Kamu tidak ingat nak Yohan? Ini kan saat acara pernikahan mama dan papamu. Saat itu Irene merengek ingin menikah denganmu.. Kamu gak ingat ya.. Hohoho... Bukankah ini seperti takdir?? Akhirnya kalian malah pacaran sekarang," jawab mama Ayu sambil tertawa.


"Nanti kita atur pertemuan 2 keluarga kita ya nak Yohan,"


Mama Ayu mengambil foto itu dan memberikannya pada Yohan.


Yohan menatap foto itu dan tersenyum lega.


Jadi gadis kecil dimimpiku itu Irene ya? Bagaimana aku bisa lupa ya.. Hahahahha...


Batin Yohan bahagia dan perasaannya senang seperti anak kecil yang mendapat hadiah.


"Aku pulaaang..." teriak Irene.


Irene muncul dengan tangan kanan yang sedang menikmati es krim matcha dan tangan kiri memegang sekantung penuh es krim.


"Kamu mau es krim yo.. Sayang..??!" kata Irene yang hampir keceplosan memanggil nama Yohan. Tangan kanannya menyodorkan es krim yang dibawanya ke Yohan.


Yohan tanpa ragu menggigit es krim itu.


"Hiishh.. Anak ini.. Masa nak Yohan dikasih es krim bekas kamu.." mama Ayu memukul punggung Irene.


"Aaw.. Aw.. Iya iya ma.. Sorry.." ucap Irene kesakitan.


"Ya ampuuunnn... Kalian ini mau jualan es krim apa gimana??" teriak mama Ayu yang kaget melihat ayah Yanto yang baru masuk rumah dengan 2 kantung besar es krim ditangannya.

__ADS_1


Mama Ayu tak berhentinya mengomel pada ayah Yanto dan juga Irene.


Yohan tak kuasa menahan tawanya melihat tingkah keluarga Irene.


__ADS_2