Contract Dating (Pacaran Kontrak)

Contract Dating (Pacaran Kontrak)
33. PAST TRAUMAS (2)


__ADS_3

Irene memasuki kamar pasien lebih dulu. Dia menuju ranjang pasien. Tapi Irene terkejut karena tidak ada pasien diranjangnya.


"Senior.. Pasiennya tidak ada?" Irene ingin berbalik tapi Jerry memeluknya dari belakang.


"Se..Senior??" Irene kaget dan badannya seperti membeku.


Dia bingung dengan apa yang terjadi. Irene mencoba berpikir jernih. Tapi tubuh dan lidahnya seperti kelu tak dapat bergerak.


"Disini hanya ada kita berdua Irene.." Jerry mencium leher belakang Irene.


Tubuh Irene bergetar. Dia tak pernah menyangka mengalami situasi saat ini.


"Irene.. Kamu menyukaiku kan? Aku juga menyukaimu Ren.. Jadi mari kita bersenang-senang sebentar.. Huh..," Jerry berbisik didekat telinga Irene dan menggigit lembut telinga Irene.


Irene meneteskan air mata. Dia tampak gemetar ketakutan. Tapi lidahnya masih sulit untuk berteriak.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kak Jerry begini.. Apa yang harus aku lakukan? Tubuhku gak mau bergerak.. Siapapun tolong aku!!


Batin Irene berteriak tapi tak mampu keluar dari mulutnya.


Irene berusaha memberontak tapi kekuatan Jerry jauh lebih kuat daripadanya.


"Ja.. Jangan begini kak.. Lepasin! Ini gak benar.. A.. Aku mohon stop kak," Irene tergagap memohon pada Jerry. Air matanya mengalir deras saat ini.


Jerry menarik wajah Irene dan mencium bibirnya. Tangan Jerry berusaha membuka mulut Irene dan memasukkan lidah lalu menghisapnya.


Irene meronta-ronta melakukan perlawanan. Seperti mendapat kekuatannya kembali. Irene menendang tulang kering Jerry.


"Cih.." Jerry mendengus kesal.


Irene mencoba memberontak dan ingin berlari. Tapi kalah cepat dengan Jerry yang menarik dan mendorong tubuhnya ke ranjang pasien.


Posisi tubuh Jerry diatas tubuh Irene. Kedua tangan Irene ditahan oleh satu tangan Jerry. Kekuatannya gak main-main. Dan tangan lainnya mulai membuka kancing kemeja Irene satu persatu.

__ADS_1


"Kamu sungguh cantik Irene.. Calm down.. Jangan memberontak.. Kalau kamu begini jadi sangat menarik dan membuatku semakin bergairah.." Jerry mulai meremas payudara Irene.


"Lepas kak!!" Irene memberontak.


Irene bangkit dan menghantamkan jidatnya tepat mengenai hidung Jerry.


"Aaakkhh.. Hidungku.. Dasar sialan!!!" Jerry menampar pipi Irene dengan keras.


Telinga Irene berdengung dan pandangannya sedikit kabur. Dia tak pernah mengalami hal seperti ini seumur hidupnya. Dia berusaha tetap sadar dan harus melawan sebisa mungkin.


"Hah.. Haha.. Aku gak mau bermain kasar Irene.. Tapi kamu yang mulai duluan.. Jangan sok jual mahal Irene.. Semua cewek yang suka sama aku sama aja.." Jerry mulai membuka resleting celananya.


"Nah.. Sekarang jangan membuatnya rumit Irene.. Cukup buka kakimu dan kita rasakan kenikmatan yang membuat kita melayang bersama.. Oke.."


Kenapa jadi begini?? Apa yang harus aku lakukan sekarang.. Mama.. Ayah.. Tolong Irene.. Siapapun tolong aku!!


Batin Irene teriak tapi tak bisa keluar dari mulutnya yang tengah dihisap oleh Jerry saat ini.


"Aaakkhhh.. Br*ngs*k!!!" Teriak Jerry kesakitan.


Kesempatan Irene untuk mendorong tubuh Jerry sampai terjatuh dari ranjang pasien.


Irene segera berlari keluar untuk meminta pertolongan.


Terdengar suara teriakan dan umpatan Jerry saat Irene sudah berhasil keluar dari kamar pasien.


Koridor rumah sakit memang sepi saat lewat tengah malam. Irene ketakutan bukan main. Keadaannya tampak berantakan. Dia masih terbayang-bayang kejadian yang baru saja menimpanya.


Irene sangat ketakutan dengan yang ada di rumah sakit. Seperti ada bayangan Jerry disetiap titik dan sudutnya. Semua orang yang ditemuinya tampak seperti wajah Jerry yang menakutkan.


Irene berlari tertatih-tatih hingga jalanan besar. Jalanan tampak sepi tak begitu banyak kendaraan lalu lalang.


Irene berhenti dan duduk dikursi pangkalan ojek yang sepi. Tubuh Irene masih gemetar dan nafasnya tersengal-sengal karena lelah berlari.

__ADS_1


Ponsel Irene bergetar tanda panggilan masuk. Irene mencoba menguatkan tangannya untuk mengambil ponselnya. Tapi tangannya seperti lemas setelah menekan tombol hijau dilayarnya.


Ponsel Irene jatuh dengan keras dan layarnya retak. Beruntung ponselnya tidak sampai mati. Dan panggilan diponselnya masih menyala.


"Ren.. Irene.. Kamu dimana? Udah selesai keliling?" suara Shasha terdengar sayup-sayup dari ponsel Irene.


Shasha mendengar sedikit suara kendaraan yang menandakan Irene ada diluar rumah sakit.


"Ren.. Where are you? Kamu lagi diluar? Kalo ketahuan petugas piket bisa kena omel nanti.. Ren? Irene??" Shasha masih bertanya-tanya kenapa suara Irene tak terdengar.


Irene berusaha merangkak meraih ponselnya. Kakinya sudah sangat lemas tak ada tenaga untuk berdiri.


"Sha.. Tolong gue Sha.. Tolong gue.." ucap Irene yang akhirnya berhasil mengambil ponselnya.


"Ren.. Loe dimana? Apa yang terjadi?" Shasha panik bukan main.


Irene mencoba mengenali lokasinya dan memberi tahu Shasha kalo dia di pangkalan ojek dekat rumah sakit.


"Loe tungguin gue kesana ya.. Plis jangan kemana-mana oke.." perintah Shasha.


Tanpa mematikan ponselnya Shasha bergegas pergi keluar rumah sakit. Dia sudah tak peduli dengan teguran senior atau petugas piket yang lain. Dipikiran Shasha saat ini harus menemukan Irene.


***


~my imagine of cast for Jerry



Krn set nya di indo, imaginasiku milih Jefri Nichol yg ganteng tapi punya sisi pyscho gitu..^^


Btw,, ini jenis bolpoin yg dipakai Irene buat nyerang Jerry.. Jadi kebayang tajamnya kayak apa..:-3


__ADS_1


__ADS_2