
"Kita berdua siap siaga 86!!" ucap Kevin tegas.
"Hissh.. Apaan sih loe Vin.. Bikin geli tau.." ucap Irene ketus.
Mau gak mau Irene membiarkan kedua sahabatnya berlaku sesuka mereka. Karena Irene masih gemetar saat memasuki area rumah sakit.
"Setelah ketemu profesor dan dapet tanda tangan kita langsung pulang.. Oke!" Shasha mengenggam tangan Irene untuk mencoba menguatkan keberanian Irene.
Irene mengangguk pelan.
Irene ditemani kedua sahabatnya berjalan masuk ke rumah sakit.
Disepanjang jalan koridor telinga Irene berdengung dan dadanya berdebar-debar. Tapi ia harus menahannya.
"Si br*ngs*k itu ada dimana Sha?" bisik Kevin pada Shasha.
"Gak ada.. Dia lagi ujian.. Makanya gue pilih hari ini kesini," jawab Shasha balas berbisik.
Sebelumnya Shasha sudah mencari informasi tentang keadaan rumah sakit dan juga Jerry.
Irene menemui profesornya diruangannya. Kevin dan Shasha menunggu diluar.
"Kamu yakin Irene mau berhenti?" tanya profesor.
"Yakin prof.." jawab Irene.
"Hemm.. Padahal kamu mahasiswa terbaik sejak saya mengajar.. Aah.. Setelah Jerry, seniormu," dada Irene berdebar-debar mendengar nama itu.
"Sangat disayangkan Irene.. Saya harap suatu hari nanti kamu berubah pikiran," profesor menyerahkan dokumen yang sudah ditandatanganinya.
"Sekali lagi terima kasih prof.." Irene menjabat tangan profesornya kemudian berpamitan.
Nafas Irene sedikit sesak dan kepalanya pusing. Tapi dia harus menahannya sebisa mungkin sampai keluar dari rumah sakit.
"Are you okay Ren?" Shasha tampak cemas sekeluarnya Irene dari ruangan profesor.
"Kamu baik-baik aja kan Ren? Muka kamu sedikit pucat," sambung Kevin tak kalah khawatir.
"I'm okay.. Kalian tenang aja... Ayo kita pulang.." jawab Irene mencoba menenangkan rasa cemas kedua sahabatnya.
Mereka bertiga pergi meninggalkan area rumah sakit.
"Kita cari makan dulu yuk!" ajak Shasha.
__ADS_1
"Kalian mau makan apa nih?" tanya Kevin sambil fokus menyetir mobilnya.
"Terserah," jawab Shasha dan Irene hampir bersamaan.
Kevin yang sudah hafal dengan kedua sahabat ceweknya memutar otaknya.
"Pecel lele atau pecel ayam, mau?"
"Iya boleh"
Kevin menghentikan mobilnya didekat warung lalapan pecel lele. Shasha menyuruh Irene menunggu dimobil saja. Kevin dan Shasha turun dari mobil untuk memesan makanan.
Dimobil tiba-tiba kepala Irene bertambah pusing dan dadanya sesak. Irene seperti kesulitan bernafas. Pikirannya sedikit kabur tanpa sadar dia keluar dari mobil Kevin.
Pandangan matanya sedikit berputar dan dadanya masih berdebar-debar. Irene kesulitan bernafas. Pikirannya sudah tak fokus lagi. Dia kembali teringat peristiwa mengerikan itu. Seluruh tubuhnya merinding.
Irene bergumam sendiri.
"Gue kotor!! Gue kotor! Gue sampah!"
Pandangannya fokus kearah jalanan yang ramai lalu lalang kendaraan.
"Aah.. Melelahkan sekali. Bukankah sampah harus dimusnahkan saja," gumam Irene dan berjalan perlahan-lahan menuju ke tengah jalan.
Tepat didepan Irene sudah ada bus besar berjarak tak lebih dari 1 meter. Mata Irene kosong menatap bus besar itu. Bunyi klakson berderu memekikkan telinga siapapun yang lewat.
Dengan sangat cepat Kevin menarik Irene kepinggir jalan sampai terjatuh.
Kevin dan Shasha yang menyadari Irene tak ada didalam mobil panik mencari kesana kemari. Alangkah kagetnya mereka melihat Irene yang berjalan dengan tatapan kosong kearah bus besar yang melaju kencang.
Kevin menambah kecepatan larinya dan beruntung dia berhasil menyelamatkan Irene.
"Irene.. Kevin.. Ka..kalian baik-baik aja kan?" Shasha terengah-engah habis berlari.
Semua orang mengerubungi mereka penasaran dan khawatir.
"Gu..gue baik-baik aja.. Irene loe baik-baik aja kan?" ucap Kevin merintih kesakitan karena tangannya lecet dan kakinya mungkin keseleo. Dia menggoyang-goyangkan badan Irene yang lemas tak berdaya.
"Irene.. Kamu baik-baik aja kan? Gak ada yang luka kan?" Shasha memegang pipi Irene.
Tangan Irene sedikit lecet-lecet saja. Tapi pandangan Irene masih kosong dan hanya diam saja.
"Ren.. Sadar Ren.." Shasha menepuk-nepuk pipi Irene.
__ADS_1
Tatapan Irene sedikit kembali normal dan menatap sekerumunan orang-orang. Tubuhnya bergetar ketakutan.
"AAAAAAAAAA... JANGAN LIHAT AKU! AKU KOTOR! AKU SAMPAH KOTOR!! JANGAN LIHAT!!" teriak Irene mencoba bersembunyi.
Shasha dan Kevin yang segera sadar apa yang terjadi saling memberikan kode.
Kevin segera bangun dan menghentikan orang-orang yang merekam mereka. Dan membubarkan masa meskipun dirinya menahan lukanya.
Shasha mencoba menenangkan Irene semampunya.
Irene masih berteriak dan menolak sentuhan siapapun. Tapi Shasha tak menyerah.
"Ren.. Ini gue Shasha sahabat loe.. Loe inget gue kan? Tatap gue Ren.." Shasha menatap mata Irene yang berkaca-kaca. Wajahnya sembab karena menangis.
Shasha tak kuasa menahan air matanya.
"Gue Shasha sahabat loe dari SMA.. Kita selalu sama-sama.. Lihat.. Itu Kevin sahabat loe juga.." Shasha mengarahkan wajah Irene kearah Kevin yang menelepon dokter Radit, "Kita berdua gak akan ninggalin loe Ren.. Huh.. Loe gak sendiri.. Kita akan bantu loe move on dan sembuh okay.."
"Sha..Shasha" ucap Irene lirih. Kesadarannya telah kembali. Tapi tubuhnya masih gemetaran. Irene menatap sekitar ketakutan.
Shasha memeluk Irene, "Ya.. Gue Shasha sahabat loe.. Gak apa-apa ada gue disini.. Tutup mata loe okay.."
Irene menuruti perkataan Shasha memejamkan matanya. Tapi tubuhnya masih gemetaran. Shasha melepas kemeja outernya menyelimuti tubuh Irene.
Shasha teringat dia membawa airpods. Dia memasangkan ditelinga Irene.
"Jangan takut Ren.. Loe dengerin musik aja ya.. All be alright oke.."
Musik mengalun ditelinga Irene membuyarkan suara-suara keramaian jalanan. Mata Irene yang terpejam membuat Irene hanya terfokus pada lagu yang didengarnya. Nafas Irene sudah teratur dan tenang sekarang.
Shasha dan Kevin menghembuskan nafas penuh lega.
***
Bogo sipda
ireohge malhanikka deo bogo sipda
Neohui sajineul bogo isseodo bogo sipda
neomu yasokhan sigan naneun uriga mipda
ijen eolgul han beon boneun geosdo
__ADS_1
himdeureojin uriga
BTS~Spring Day..^^