Contract Dating (Pacaran Kontrak)

Contract Dating (Pacaran Kontrak)
38. TEKAD IRENE


__ADS_3

"Plis.. Jangan kasih tau Irene kalau kita udah cerita tentang hal ini," Shasha menunduk penuh penyesalan selesai bercerita.


Yohan menghela nafas panjang menyaring kata demi kata cerita Kevin dan Shasha.


Hal yang membuatnya penasaran akhirnya terjawab sudah.


Yohan menahan kesal dan amarahnya. Kalau saja dia bisa membantu Irene saat itu.


"Sebaiknya kamu pulang aja pak direktur.. Kalau Irene sudah sadar kami akan mengabari.. Tidak baik kalau Irene sadar anda masih disini," kata Kevin.


Farhan menepuk pundak Yohan agar ia menurut saja.


"Kabari aku kalau Irene sudah siuman.." Yohan beranjak dan pergi didampingi Farhan.


Dimobil Farhan menatap Yohan dari kaca spionnya. Pandangannya mengatakan ia terlalu memikirkan banyak hal.


"Apa yang loe mau lakuin sekarang bro?" tanya Farhan memecah suasana, "Gue tau loe kesal dan marah sekarang.. Tapi ingat jangan bertindak impulsif.."


"Gue mau menghukum si Jerry itu dengan cara gue.. Dia harus merasakan penderitaan yang Irene rasakan," Yohan mengepalkan tangannya dan memukul kaca mobil.


"Besok gue akan kasih informasi dokter Jerry itu.. Bahkan sampai yang tak terlihat mata," ucap Farhan serius.


"Gue tunggu hasilnya besok bro," kata Yohan tersenyum smirk.


***


Di cafe Kevin, Irene membuka matanya pelan-pelan. Kepalanya sedikit pusing. Dia bangun pelan-pelan.


"Loe udah bangun Ren? Gimana perasaan loe? Ah.. Ini minum teh hangat dulu," Shasha menyodorkan gelas termos kepada Irene.


Irene menurut dan meminumnya.


"I'm okay Sha," ucap Irene sambil mencoba tersenyum memandang Shasha yang tampak mengkhawatirkannya.


Shasha memeluk Irene erat.

__ADS_1


"Sha.. Sha.. Hei.. Lepasin gue.. Aaakkhh.." Irene meronta-ronta karena terlalu sesak.


"Gue takut banget loh Ren.." Shasha menangis sesenggukan dan melepaskan pelukannya.


Irene tersenyum melihat sahabatnya masih peduli padanya sampai sekarang. Irene menggenggam tangan Shasha.


"Aku udah baik-baik aja.. Huh.. Udah jangan nangis cup..cup..cup.." Irene menyeka air mata Shasha.


Bersamaan Kevin dan dokter Radit masuk ke kamar.


"Irene.. Gimana keadaanmu sekarang?" tanya dokter Radit.


"Aku baik-baik aja dok.. Hehehe.. Btw.. Senior kok ada disini?"


Dokter Radit mengerutkan keningnya. Irene yang menyadari perubahan ekspresi itu segera meralat kata-katanya.


"Ternyata aku masih gak baik-baik aja dok,," jawab Irene sambil menunduk.


"Kevin dan Shasha sudah kasih tau aku kalo kamu ketemu Jerry waktu acara lamaran kemaren.. Dan hari ini terjadi lagi.. Kesimpulannya kamu masih trauma dengan sosok Jerry dan tempat kejadian perkara bukan?," dokter Radit menjelaskan kondisi yang dialami Irene.


Dokter Radit menghela nafas.


"Ren.. Selama 6 tahun ini kamu udah ngelakuin pengobatan dengan baik.. Melakukan hal baru yang menyenangkan, pekerjaan yang menyenangkan, dan juga bertemu banyak orang,"


"Sembuh itu bukan hanya berkat obat Ren.. Tapi berkat kamu sendiri yang mau sembuh.. Jadi kamu harus melawan traumamu itu dengan niat kamu sendiri.."


Irene mendengar nasehat dokter Radit dengan baik.


"Jangan terjebak dititik itu sendirian. Lihatlah sekelilingmu.. Ada teman-temanmu yang selalu ada buat kamu dan keluargamu. Kamu sudah bisa mulai melangkah sekarang Ren.."


Irene menatap dokter Radit kemudian Shasha dan Kevin yang tersenyum kearahnya.


"Ya.. Gue harus move on sekarang.. Gue gak mau kayak gini terus.. Gue udah baik-baik aja dan akan baik-baik aja seterusnya.."


Batin Irene bertekat.

__ADS_1


"Aku sudah menjadwalkan sesi konsultasi lagi buat kamu.." dokter Radit mengirim pesan ke ponsel Irene.


"Nani?" Irene terkaget.


"Gak ada kata protes! Cuma seminggu sekali ditempatku praktek. Setidaknya bukan rumah sakit YS. Tapi ini demi kebaikan kamu Ren," dokter Radit menjelaskan.


Irene mau gak mau harus menyetujui karena ia tak ingin terjebak dimasa lalunya lagi. Dia sudah bertekat ingin sembuh sekarang.


"Ya sudah.. Aku pamit duluan.. Aku kasih vitamin dan obat tidur kalau-kalau kamu sulit tidur kedepannya," dokter Radit beranjak pergi.


Ingatan Irene sayup-sayup teringat sosok Yohan yang menolongnya.


"Masa beneran Yohan? Tapi gak mungkin kan? Kalau iya bagaimana dong.."


Batin Irene sedikit cemas.


"Sha.. Gue kayak liat Yohan tadi.. Apa Yohan tadi kesini?" tanya Irene memastikan.


"E.. Yo.. Yohan.. Ngapain Yohan kesini.. Hari ini kan bukan jadwal kencan kalian kan? Hehe.." Shasha sedikit beralasan agar Irene tak curiga.


Tapi mana mungkin Irene dikibuli semudah itu.


Setelah sedikit membaik Irene diantar Shasha dan Kevin pulang ke kontrakannya yang jaraknya tak jauh dari cafe.


Setelah mandi dan mengeringkan rambut. Rasa penasaran Irene kembali.


"Tapi gue yakin itu siluet Yohan," gumam Irene.


Irene memandangi ponselnya.


"Ngapain loe Ren? Masa loe lagi nunggu telvon dari Yohan.. Yang bener aje loe!!"


Irene kesal sendiri dengan dirinya.


"Tapi.. Btw.. Gue gak pernah hubungi Yohan duluan ya.."

__ADS_1


__ADS_2