Contract Dating (Pacaran Kontrak)

Contract Dating (Pacaran Kontrak)
36. YOU ARE NOT ALONE


__ADS_3

Sudah 3 minggu berlalu sejak kejadian mengerikan itu. Waktunya tiba orangtua Irene di tanah air. Mau gak mau Irene harus menjemput orangtuanya di bandara. Dan pulang kerumahnya.


Shasha dan Kevin sedikit cemas membiarkan Irene tanpa pengawasan mereka. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghindari kecurigaan orangtua Irene. Irene juga sudah sedikit lebih baik sekarang.


"Mama.. Ayah.. Irene mau bilang sesuatu," ucap Irene selesai makan malam keluarga.


"Ada apa Irene sayang??" mama Ayu sedikit penasaran begitu juga ayah Yanto.


"Irene mau berhenti kuliah ma.. ayah.." ucap Irene yang sudah membulatkan tekadnya.


Mama Ayu dan ayah Yanto terkejut dengan pernyataan Irene yang tiba-tiba setelah kembalinya mereka dari Jepang. Orangtua Irene saling menatap satu sama lain.


"Apa Irene sudah yakin dengan keputusan Irene? Kalo ayah boleh tau, kenapa Irene mau berhenti?" ayah Yanto bertanya dengan halus.


"Irene capek yah.. Kuliah kedokteran sangat melelahkan, menguras tenaga dan pikiran Irene," Irene merebahkan kepalanya dipangkuan ayahnya.


"Apa gak mau ganti jurusan aja? Kenapa harus berhenti?" mama Ayu mengelus lembut rambut anak semata wayangnya itu.


"Dari dulu cita-cita Irene kan mau jadi dokter.. Kenapa menyerah ditengah-tengah?" sambung ayah Yanto.


Irene memejamkan matanya dan menguatkan tekadnya.


"Irene merasa jadi dokter bukan passion Irene setelah coass ma.. Ayah.. Irene sudah menemukan passion Irene sekarang".


Mama Ayu mengernyitkan dahinya masih belum bisa mencerna kata-kata putrinya itu.


Irene kembali duduk dan memegang tangan kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Irene mau belajar jadi barista sama Kevin ma.. Rasanya menyenangkan.. Irene belum pernah sesenang ini sebelumnya selain belajar," ucap Irene menggebu-gebu.


Selama 3 minggu berada di bangunan cafe milik Kevin. Irene sedikit menyibukkan diri dengan belajar menjadi barista cafe dari Kevin. Dokter pun juga menganjurkan Irene melakukan sesuatu yang membuat dia senang.


Mama Ayu menghela nafas. Dan mengelus pipi Irene.


"Ya sudah kalau keputusan Irene sudah bulat. Mama sama ayah mendukung apapun keputusan Irene," mama Ayu memeluk Irene disambut ayah Yanto juga.


Dalam hati Irene seperti teriris-iris mengingat dia harus menyembunyikan luka yang dialaminya. Tapi dia sangat menyayangi orangtuanya melebihi apapun. Irene gak mau melihat orangtuanya kesulitan karena masalahnya.


"Ah.. Irene mau ngekos sendiri boleh ya ma.. Ayah.. Irene sudah survei tempatnya didekat cafe Kevin yang mau opening nanti," ucap Irene.


"Kamu yakin? Anak gadis ayah masa mau ngekos sendiri," ayah Yanto tampak sedikit gusar.


"Ayah.. Irene udah 22 tahun.. Udah gede.. Irene mau belajar mandiri," Irene berusaha meyakinkan ayahnya.


Sebenarnya mereka masih penasaran dengan keputusan Irene yang tiba-tiba. Dari berhenti kuliah sampai ingi ngekos sendiri. Tapi mereka berusaha mempercayai putri mereka.


***


Seminggu sudah Irene mulai ngekos. Irene dibantu mama dan ayahnya serta kedua sahabatnya Shasha dan Kevin hampir selesai melakukan renovasi dan beres-beres rumah kontrakan Irene.


Ayah Yanto yang super protektif memasang pengaman pintu digital terbaru demi keamanan putrinya yang tinggal sendiri. Mama Ayu merapikan perabotan bersama Irene dan Shasha. Sedangkan Kevin sibuk mengganti lampu rumah kontrakan Irene.


Selesainya mereka merayakan open house party kecil-kecilan disana. Shasha terus memperhatikan Irene yang sorotan matanya masih berbeda.


"Sha.. Kamu gak akan berhenti kuliah juga kayak Irene kan?" tegur mama Ayu yang mengagetkan Shasha.

__ADS_1


"Oh.. Enggak kok ma.. Ee.. Aku cuma cuti aja," jawab Shasha tergagap.


Mama Ayu ingin menasehati tapi dia menahannya karena takut menyinggung putrinya Irene.


"Ya sudah.. Apapun pilihan kalian.. Mama dukung selama itu baik dan bermanfaat untuk kalian.." ucap mama Ayu, "Ayo cis dulu.. Untuk rumah baru Irene dan masa depan kalian".


"Ciisss!!!" mereka semua melakukan tos bersama.


Mereka semua menginap dirumah Irene. Irene dan Shasha tidur dikamar Irene. Mama Ayu tidur dikamar satunya lagi. Sedang Ayah Yanto dan Kevin tidur diruang tamu.


Tengah malamnya Irene masih terjaga. Dia sengaja melewatkan obatnya karena minum cola saat pesta tadi membuat perutnya sedikit tak nyaman. Irene keluar ke balkon diluar rumah untuk menghirup udara segar. Shasha yang menyadari sahabatnya keluar kamar segera mengikutinya.


"Gak bisa tidur Ren? Tadi belum minum obat ya?" tanya Shasha penuh perhatian.


"Iya Sha.. Tadi kebanyakan minum cola.. Hehehe.."


"Lusa kamu mau ketemu profesor kan? Profesor pasti lagi dirumah sakit YS.. Nanti aku anterin ya," ucap Shasha menawarkan diri.


"Aku bisa sendiri kok Sha.. Tenang aja," tolak Irene halus.


Shasha menggelengkan kepalanya sambil memeluk Irene.


"Aku gak mau ninggalin kamu sendiri Ren.. Kamu masih takut saat melihat rumah sakit.. Gimana aku bisa biarin kamu masuk sendiri kesana.. Kamu gak sendirian Ren.. Ada aku oke.."


Irene menyadari kesulitannya dan akhirnya luluh juga dengan tawaran Shasha yang mau menemaninya.


Keesokkan lusanya, bukan hanya Shasha. Kevin pun ikut mengantarkan Irene.

__ADS_1


"Hei.. Apa-apaan kalian pakai baju item-item udah kayak bodyguard aja," kata Irene menutup matanya karena kurang nyaman dengan tingkah kedua sahabatnya itu.


__ADS_2