
Untuk sementara Irene tinggal di bangunan cafe milik Kevin yang baru selesai dibangun. Shasha tak bisa meninggalkan Irene sendiri. Dan memutuskan untuk mengajukan cuti untuknya dan Irene. Meskipun banyak drama dan pertentangan dari berbagai pihak, tapi ini jalan satu-satunya untuk membantu sahabatnya itu.
Kevin yang emosinya sudah di ubun-ubun ingin sekali menghampiri lokasi Jerry. Emosinya akan mereda setelah dia menghajar laki-laki bajingan itu. Tapi Shasha berulang kali mencegah Kevin supaya tidak menimbulkan keributan. Shasha pun juga ingin sekali marah dan bertindak bahkan melebihi yang Kevin ingin lakukan. Tapi dia lebih memikirkan keinginan Irene.
Entah keberuntungan atau tidak, orang tua Irene sedang berkunjung ke Jepang. Mereka melayat ke keluarga ayah Irene yang berada disana. Sesekali orangtua Irene menelepon untuk memastikan Irene baik-baik saja. Dan Irene juga masih bisa bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
Irene memang terlihat baik-baik saja dari luar. Tapi setelah Shasha memperhatikannya beberapa hari. Irene tak mau makan bahkan sedikit minum air.
"Hooeekk... Hoeekkk..." Irene memuntahkan makanannya. Sudah hampir seminggu Irene tidak bisa menelan makanannya. Tubuhnya terlihat kurus dan wajahnya pucat.
"Ren.. Kamu harus makan.. Lihat kamu jadi makin kurus dari hari ke hari," ucap Shasha khawatir.
Irene menggelengkan kepalanya. Shasha menghela nafas panjang dan menyingkirkan buburnya. Sudah berkali-kali Shasha mengganti menu untuk membuat sahabatnya itu berselera makan lagi.
"Gue kotor Sha.. Gue kotor!!" gumam Irene dan air matanya mulai jatuh untuk kesekian kalinya, "Pasti air liurnya masih ada ditubuh gue Sha.. Gue gak mau makan.. Gue mau buang semuanya Sha.. Hiks.. Hiks.. Hiks.."
__ADS_1
Shasha memeluk erat Irene, "All be alright okay.. Semua akan baik-baik aja.. Ada gue disini.. Loe harus sehat demi mama sama ayah loe.. Demi gue sama Kevin sahabat loe.. Huh.."
Kevin hanya bisa melihat dari balik pintu. Karena Irene tak bisa didekati oleh laki-laki meskipun itu Kevin sahabatnya.
Akhirnya jalan satu-satunya Kevin dan Shasha memutuskan untuk merawat jalan Irene. Karena Irene tak bisa pergi ke rumah sakit. Shasha meminta bantuan dokter psikiater kenalannya. Shasha menghubungi diam-diam seniornya yang bernama Raditya.
Tapi sayangnya Irene tak bisa berinteraksi dengan laki-laki. Tak hilang akal dokter Raditya mengenalkan mereka pada teman dokter wanitanya bernama Susan. Dokter Radit dan Susan bekerja sama merawat Irene yang mengalami gejala PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) atau gangguan stres pascatrauma.
"Kita gak nyangka Irene akan mengalami hal seperti itu.. Kita berdua akan selalu mengontrol Irene. Dokter Susan akan melakukan sesi psikoterapi dan konseling seminggu 2 kali. Aku juga akan ikut andil dalam sesi ini untuk menyembuhkan traumanya. Ini resep obatnya dan pastikan dia makan sedikit demi sedikit sebelum minum obatnya," ucap dokter Raditya.
"Baik dok.. Kami mengerti.." ucap Shasha dan Kevin hampir bersamaan.
***
Seminggu berlalu setelah Irene mendapat perawatan dan minum obat. Irene sudah mulai bisa menelan makanannya walaupun cuma beberapa sendok. Hal itu sudah kemajuan karena dia tak memuntahkannya.
__ADS_1
Tiap seminggu 2 kali dokter Radit dan Susan bergantian menemui Irene. Kesabaran mereka sedikit membuahkan hasil dengan perubahan Irene yang membaik sedikit demi sedikit.
"Apa yang kamu rasakan sekarang Irene? Apa masih bermimpi buruk? Obatnya rutin diminum kan gak ada yang dibuang?" tanya dokter Susan. Dokter Susan memandang Shasha untuk memastikan.
Shasha menganggukan kepalanya yang menandakan Irene rutin minum obatnya. Dia harus selalu memastikan Irene meminum obatnya. Hasilnya Irene sudah bisa tidur lebih nyenyak dan nafsu makannya kembali. Shasha selalu setia menemani Irene disampingnya.
"Sudah lebih baik dok.. Tapi aku masih selalu bermimpi buruk.. Dan kepalaku rasanya mau copot dan jantungku juga berdebar-debar tiap kali minum obat itu," keluh Irene.
"Hemm.. Kita perlu mengganti obatnya kalau begitu," dokter Susan mencoret-coret kertas laporannya.
"Apakah aku harus meminum obat itu dok? Rasanya justru kepalaku seperti mau meledak tiap obatnya diganti," keluh Irene sambil memegang kepalanya.
"Kamu harus sabar dan rutin.. Aku akan mendambah dosis untuk obat tidurnya supaya kamu bisa tidur lebih nyenyak.. Lakukan sesuatu yang menyenangkan yang bisa merubah mood kamu agar kamu gak mimpi buruk lagi.." dokter Susan dengan sabar memberikan penjelasan dan saran.
Irene mengangguk pelan.
__ADS_1