CRUEL MARRIAGE

CRUEL MARRIAGE
Bab 1


__ADS_3

Prang…


Beberapa hiasan kaca berjatuhan akibat terkena tubuh Alya akibat didorong oleh suaminya. Tubuhnya remuk redam akibat beberapa pukulan yang ia terima. Alya hanya bisa menangis menahan rasa sakitnya.


"Dasar istri bodoh!,"umpat Doni. "Kamu sudah mempermalukan saya di pertemuan tadi," lanjut Doni memaki Alya.


"Maaf mas… hiks hiks hiks…. Aku benar-benar tidak sengaja," jawab Alya sambil terisak.


"Aku kan sudah bilang, hati-hati dan jaga sikapmu, jangan sampai membuatku malu. Kenapa masih saja kamu ceroboh?!," Ucap Doni masih dengan nada tingginya.


Namun Alya hanya bisa terisak tanpa berniat membela diri. Percuma juga Alya membela diri, akan tetap salah dimata suaminya. 


Doni pergi meninggalkan Alya begitu saja. Setelah Doni pergi, Alya bangun dari ruang tengah masuk ke kamarnya dengan terseok-seok menahan sakit. Alya memutuskan untuk berendam air hangat.


Alya menatap bayang dirinya di cermin. Sungguh menyedihkan,melihat tubuhnya penuh dengan memar setelah Alya menanggalkan pakaiannya.


Alya masuk ke dalam bathup duduk dan memeluk lututnya semakin terisak meratapi nasib dirinya.


Mempunyai rumah tangga yang harmonis, penuh cinta itu ada impian bagi semua wanita. Begitupula dengan Alya Putri Hadinata, diusia pernikahannya yang ke 5 ini harus dia jalani dengan penuh luka yang teramat perih bukan hanya fisik namun batinnya. Memar di tubuhnya itu seperti hal biasa baginya. Alya adalah wanita yang cantik dan lemah lembut. Alya adalah tipe wanita yang patuh.


Namun semua itu tertutup rapih, semua orang mengira pernikahan mereka sangat harmonis. Pernikahan yang penuh cinta. Itulah yang diharapkan suami Alya.


Doni Hartono selalu dipuji menjadi suami idaman. Pada kenyataannya Doni amat begitu kejam. Dia bagai monster yang menjelma menjadi manusia. Dia laki-laki pandai, seorang dosen yang cemerlang. Membuat dirinya mendapatkan begitu banyak penghargaan. Mungkin dia pantas mendapatkan satu penghargaan lagi, sebagai aktor terbaik.


Sekalap apapun Doni , dia selalu menghindari memukul wajah. Karena jika sampai itu terjadi maka citra dirinya lah akan rusak. 


Nama baik yang selama ini dijaga akan rusak. Demi nama baiknya itu pula dia rela memutarbalikan fakta tentang dirinya yang mandul dan mengatakan kepada semua orang bahwa istrinya yang mandul dan dia tetap setia menerima kekurangan sang istri. Menjijikan bukan laki-laki seperti itu?


Sudah lebih dari setengah jam Alya berendam. Alya memutuskan untuk menyudahi kegiatan berendamnya. Dia mengambil bathrobe nya dan memakainya. Alya masuk ke kamar dan mendudukan dirinya di pinggir ranjang. Tak lama kemudian Alya meringkukan tubuhnya ke ranjang dengan tatapannya yang kosong. Air matanya terus mengalir tanpa izin. Hingga akhirnya Alya tertidur akibat lelah yang dia rasakan.


Tepat pukul 1 malam, Doni pulang dan langsung menuju kamarnya. Doni menghampiri sang istri. Dia mendudukan dirinya di samping Alya. Mengusap rambutnya dengan lembut. Lalu mencium keningnya.


"Maaf… pasti kamu kesakitan?"gumamnya lirih.

__ADS_1


"Maaf… karena aku tidak bisa mengontrol diri. Tapi ini semua demi kebaikan kita berdua," sambungnya dengan suara lembutnya. Kebaikan macam apa yang ada di benak seorang Doni? Menyiksa seorang istri dimana letak kebaikannya?


Alya yang merasakan kehadiran suaminya lalu terbangun. Dia mengerjapkan matanya. Menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. 


"Sayang…," panggil Doni lirih tapi Alya tetap diam.


Hal ini akan selalu terjadi setelah Doni berperilaku kasar terhadapnya. Menangis dan menyesali, sungguh memuakkan. Menyesali namun tak urung juga Doni berhenti bersikap kasar.


Doni memberikan kecupan di bibir istrinya, lalu menatap matanya. Kemudian Doni membaringkan tubuhnya di samping Alya. Doni menarik tubuh Alya perlahan, dan memeluk tubuhnya. Alya tetap bergeming, membiarkan apa yang ingin dilakukan suaminya. Alya sudah terlalu lelah dan mereka berdua pun akhirnya menjemput mimpi bersama.


 ***


Alya mengerjapkan matanya yang terasa amat berat. Tubuhnya rasanya remuk redam. Rasanya enggan dia untuk bangun dari tidurnya. Berharap semua ini hanya mimpi, namun lagi-lagi dia kecewa karena semua itu nyata. 


Alya memutuskan untuk bangun membersihkan dirinya. Alya meringis ngilu karena pelukan Doni terkena pada memar tubuhnya. Dengan perlahan Alya memindahkan lengan suaminya. Lalu Alya bangun dengan hati-hati agar tidak mengganggu tidur suaminya. 


Dengan terseok-seok Alya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak sampai setengah jam Alya menyudahi mandinya. Setelah Alya berpakaian, dia memutuskan untuk membuat sarapan.


Sesampainya di dapur Alya menyiapkan semua bahan untuk membuat sarapan. Dengan cekatan dia menyiapkan bahan dan memasak seolah tidak terjadi apapun.


Alya lalu menatanya di meja makan. 


Alya kembali ke kamarnya untuk membangunkan suaminya. Sesampainya di kamar, dia tidak mendapati suaminya di ranjang. Suaminya ternyata sudah bangun dan sedang mandi karena terdengar gemericik air dari kamar mandi.


Alya memutuskan untuk membuat kopi terlebih dahulu sesudah Alya menyiapkan pakaian sang suami. Sekembalinya dari membuat kopi suaminya sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Terpampang nyata tubuhnya yang sempurna yang banyak diidamkan oleh banyak wanita. Bahkan banyak mengatakan beruntungnya Alya mendapat Doni. Benarkah Alya beruntung?...


"Mas… ini kopinya," ucap Alya memberitahu suaminya dan menaruhnya di meja nakas.


Doni mengecup kening istrinya.


"Morning … terima kasih kopinya," ucap Doni yang hanya di balas senyuman oleh Alya.  


Doni meminum kopinya sebelum memakai pakaiannya. 

__ADS_1


"Aku tunggu di bawah untuk sarapan ya?" Ujar Alya.


"Tunggu sayang… kita turun bersama," ucap Doni.


Alya pun menunggu suaminya berpakaian lalu turun bersama untuk sarapan. Di rumah mereka tidak ada asisten rumah tangga. Selain karena Alya merasa masih bisa menghandle semua, suaminya pun takut apa yang dia lakukan di ketahui orang lain.


Setelah duduk di kursi makan, Alya menyiapkan makanan di piring suaminya.


"Terima kasih," ucap Doni dengan senyum manisnya.


Alya lalu duduk di samping Doni dan mengambil makanannya sendiri. Di sela-sela sarapan mereka sedikit terlibat obrolan.


"Mas... nanti siang aku mau minta izin untuk datang ke panti asuhan untuk menghadiri acara untuk anak-anak disana?" Alya mencoba meminta izin dengan sedikit rasa khawatir akan emosi suaminya yang bisa saja meledak.


Tapi apa yang di takutkan Alya tidak terjadi. Responnya berbanding terbalik dari apa yang dia bayangkan.


"Ok, kamu boleh pergi," ucap Doni dengan santainya. "Acaranya dari jam berapa?" Sambung Doni bertanya.


"Dari jam 1 siang sampai jam 4 sore," balas Alya.


"Yasudah, kalau gitu tapi tepat jam 5 kamu sudah harus di rumah," perintah Doni tanpa mau di bantah.


"Iya mas, terima kasih," jawab Alya lega.


Setelah selesai sarapan, Doni berangkat ke kampus tempat dia mengajar. Alya mengantarkan Doni sampai masuk ke dalam mobilnya. 


"Ingat pesanku, selalu ingat juga untuk jaga sikap dan hati-hati di jalan nanti," Doni memperingatkan Alya.


"Iya mas," balas Alya.


Doni tetaplah Doni, yang selalu mementingkan nama baiknya di atas segalanya. Dan Alya hanya bisa menghela nafas.


Mobil Doni pun melaju keluar rumah sesudah Doni mencium kening istrinya.

__ADS_1


Alya tak beranjak memandang mobil suaminya hingga mobil itu tidak terlihat.


Alya hanya bisa menghela nafasnya mencoba mengembalikan moodnya. Kemudian Alya masuk untuk mempersiapkan acara di panti asuhan.


__ADS_2