CRUEL MARRIAGE

CRUEL MARRIAGE
Bab 5


__ADS_3

Suara deru mobil Doni sayup-sayup terdengar dari kamar. Alya memejamkan matanya, berpura-pura tertidur. Itu selalu Alya lakukan setiap kali Doni berulah.


Doni memasuki rumahnya dengan membawa sebungkus plastik. Hanya kegelapan yang ia dapati di rumahnya. Ia tahu pasti istrinya sudah tertidur.


Ia segera memasuki kamarnya. Dan benar saja Doni mendapati Alya sudah tertidur. Sejenak Doni memandang wajah Alya. Kemudian dia beralih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. 


Seusai mandi Doni dan memakai baju tidurnya Doni merangkak naik ke ranjang. Ia merengkuh pinggang Alya kemudian menjemput mimpinya.


Alya membuka matanya setelah mendengar dengkuran halus suaminya. Ia menatap wajah suaminya.


Suaminya yang sekarang tidak sepertinya suaminya yang dulu yang amat dicintainya. Dimata Alya saat ini, Doni tak lebih baik dari seorang monster. Sungguh mengerikan.


Dalam benaknya berkata, apakah masih ada cinta di hatinya?


Alya yang cukup lelah akhirnya ikut terlelap.


****


"Mas ini kopinya," ucap Alya yang masuk ke kamarnya dengan membawa secangkir kopi. Ia meletakkannya di meja nakas.


Doni hanya melirik saja lalu ia melanjutkan  menyisir rambutnya yang tertunda karena kehadiran Alya.


Doni tampak teringat sesuatu. Kemudian ia berjalan ke memasuki kamar mandi untuk mengambilnya


"Pakai ini, 3 hari lagi akan ada arisan keluarga." Doni memberikan satu tube salep untuk luka bakar kepada Alya.


Semalam Doni menyempatkan membeli salep luka bakar dalam perjalanan pulang. Ia menaruhnya di kamar mandi semalam karena salep itu berada di kantong bajunya saat ia mandi semalam.


"Terima kasih," ucap Alya.


"Nanti aku akan pulang telat. Ada kegiatan kampus yang harus aku hadiri," kata Doni.


"Baik mas."

__ADS_1


"Ayo kita sarapan," ucap Doni merangkul Alya.


Lalu mereka keluar kamar lalu ke meja makan. Mereka sarapan dalam diam. Hanya suara denting sendok dan garpu yang beradu di atas piring.


Seusai mereka sarapan, Doni berangkat ke kampusnya. Seperti biasa ia selalu mengantarnya sampai Doni memasuki mobilnya.


Doni mencium kening Alya seperti biasanya kemudian memasuki mobilnya. Alya tetap berada di depan hingga mobil Doni berjalan dan tak terlihat olehnya.


Alya menghembuskan nafasnya berat. Lalu ia masuk kedalam rumahnya untuk kembali merapikan rumahnya.


***


Blam….


 


Suara pintu yang ditutup kencang sangat nyaring terdengar. Dengan langkah cepat Ibra menuruni anak tangga.


"Hati-hati Kak," ucap Bu Meri.


"Ciee yang kesiangan. Kayanya kenceng nih sepertiga malamnya," ucap Sarah yang sudah duduk lebih dulu di meja makan.


"Sepertiga malam apaan?" tanya Ayah Rudi.


"Itu loh Yah Kakak lagi perjuangin…"


"Hush jangan ngomong sembarangan kamu." Ibra memotong ucapan Sarah. "Awas kamu, ngomong yang enggak- enggak." Ancamnya kemudian.


Bukannya takut karena diancam, Sarah malah cengengesan. 


"Sudah… sudah berangkat. Katanya telat kok malah berdebat," ucap Bu Meri berusaha menengahi.


Ibra mencium punggung tangan Ibu dan Ayahnya. "Yaudah Yah, Bu aku jalan. Assalamualaikum." 

__ADS_1


Lalu Ibra mencium kening Sarah dan berbisik. 'Awas kamu ngomong sembarangan lagi. Ga ada uang jajan selama seminggu.'


Ibra tersenyum asimetris lalu berjalan keluar rumah. Sedangkan Sarah mencebik mendengar bisikan Ibra.


Seperginya Ibra, Bu Meri kembali bertanya ke Sarah. Apa sebenarnya yang sedang diperjuangkan Ibra. Namun ia tidak menjawabnya. Ia masih punya rasa takut uang jajannya akan hangus.


Membayangkan tanpa uang jajan selama seminggu itu adalah siksaan. Seminggu tanpa seblak,bakso dan boba. Oooh no…


***


Sesuai janji kemarin, tepat pukul 5 sore Doni datang ke cafe Prince. Ia tampak mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ia cari. Lalu ia berjalan masuk setelah menemukan dimana mahasiswinya. Ia tengah duduk di meja di sebelah taman kecil yang ada di cafe tersebut.


"Pak, sudah datang ya? Silahkan duduk Pak," ucap Vira berdiri setelah mendapati Doni sudah ada di depannya.


Doni menatap Vira tajam. Ia memindai dari ujung kaki hingga atas. Pakaiannya sungguh terbuka. Lalu Doni duduk di depan Vira dan menyilangkan kakinya. Tangannya bersedekap. Tatapannya masih saja tajam.


"Apa yang bisa kamu berikan ke saya?" tanya Doni tanpa basa basi dengan suara yang dingin.


Vira berusaha menghilangkan rasa gugupnya dengan sedikit menarik napas dan menghembuskannya. "Terserah Bapak maunya apa, saya pasti berikan."


Doni tertawa tapi tetap terasa seram. Vira meremas kedua tangannya yang sudah berkeringat dingin. Ini adalah hal ternekat yang pernah ia lakukan.


"Jadi kamu mau dimana?" tanya Doni 


Vir mendongakkan kepalanya. Ia cukup terkejut dengan pertanyaan dosen tampannya. Apa ia berhasil memikat sang dosen?."Terserah Bapak maunya kemana. Saya ikut aja."


Lalu mereka beranjak pergi dari cafe setelah menghabiskan makanannya. Mereka berjalan berdampingan hingga ke tempat parkir dimana mobil Doni berada.


Mereka berdua pun memasuki mobil. Tanpa ada kata-kata apapun, Doni langsung melajukan kendaraannya menuju tengah kota.


Tak sampai 45 menit ia sudah sampai di sebuah hotel. Mereka turun dari mobil dan memasuki hotel mewah tersebut. Doni memesan kamar. Setelah proses registrasi selesai, mereka pergi ke kamar yang mereka pesan.


Setelah sudah berada dalam kamar hotel Doni beranjak menuju ke kamar mandi. " Saya mandi dulu."

__ADS_1


"I..iya pak." Suara Vira terbata. Ia sungguh benar- benar gugup.


Tapi ini sudah menjadi tekadnya untuk menaklukan dosennya itu. Ia akan menunjukan pada teman-temannya bahwa pesonanya mampu meluluhkan dosen mereka yang menurut kabar yang beredar sulit digoda.


__ADS_2