
Sorak sorai anak-anak bernyanyi terdengar begitu ramai. Anak-anak terlihat begitu ceria. Bersemangat bertepuk tangan sambil bernyanyi dan ada pula yang bernyanyi sambil menjahili temannya. Banyak lagi tingkah-tingkah lucu lainnya.
Sungguh pemandangan seperti itu pasti bisa siapapun yang melihatnya ingin tersenyum. Begitu juga Alya, senyumnya terus merekah.Binar matanya benar-benar bahagia. Ia bernyanyi bersama dan tertawa bersama anak-anak.
Umi Fatimah yang melihatnya dari jauh pun begitu bahagia. Wajah cantik Alya yang selalu terlihat sendu kini tak terlihat. Umi Fatimah cukup bernapas lega.
Karena terlalu serius Umi Fatimah memperhatikan Alya, sampai tidak menyadari ada seseorang yang datang.
Orang itu ingin menyapa Umi Fatimah. Tapi ia urungkan karena melihat Umi Fatimah begitu fokus. Orang itu pun penasaran dengan apa yang Umi Fatimah lihat. Dan ia cukup terkejut melihat seseorang yang sedang di perhatikan Umi Fatimah adalah orang yang dikenalnya.
Umi Fatimah berbalik ingin kembali ke ruangannya. Begitu terkejutnya Umi Fatimah ketika berbalik. "Astagfirullah."
"Maaf… maaf Umi saya mengagetkan," ucap orang itu.
"Tidak apa-apa nak. Saya yang terlalu fokus sampai tidak menyadari ada nak Rafa," ucap Umi Fatimah.
"Sudah dari tadi nak Rafa?" tanyanya.
Pria yang disebut Rafa pun tersenyum. "Belum lama kok Umi. Apa dia pengajar baru disini?"
"Iya nak, tapi dia bukan orang baru disini. Dia sama seperti kamu donatur tetap disini," ucap Umi Fatimah.
Pria itu hanya menganggukkan kepalanya sambil membulatkan bibirnya.
"Nak Rafa mau ke ruangan saya atau mau menemui anak-anak?"
"Tidak keduanya Umi. Kebetulan sudah ketemu sama Umi disini. Saya mau memberikan ini." Pria itu mengangsurkan sebuah amplop yang cukup tebal. "Titipan teman saya."
"MasyaAllah… masih banyak orang-orang baik," ucap Umi Fatimah menerima pemberian pria itu. "Terima kasih ya nak Rafa."
"Sama-sama Umi, saya cuma menyampaikan aja. Kalau begitu saya langsung pamit ya Umi. Saya ada janji dengan klien saya."
"Baik nak, hati-hati di jalan," sahut Umi Fatimah.
Pria itu kembali menoleh ke arah ruangan dimana Alya mengajar. "Umi, bolehkah saya mengajar bersama dengan dia,?"
Umi menoleh mengikuti arah pandang pria itu. "Boleh, tapi ingat jaga hati dan mata. Dia memang cantik tapi sudah ada yang memiliki," ucap Umi Fatimah tersenyum.
Kata-kata Umi Fatimah menyadarkan dirinya. Ya wanita itu bersuami, tapi kenapa ia memiliki ketertarikan untuk sekedar mengenalnya lebih dekat. "Saya tau Umi. Saya mengenalnya Umi, kami bertetangga"
"MasyaAllah dunia terasa sempit ya? Ternyata kalian bertetangga. Ya Sudah nanti akan Umi sampaikan keinginan nak Rafa," ucap Umi Fatimah.
"Baik Umi saya permisi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Umi Fatimah.
Pria itu pun melangkah kan kakinya keluar dari panti asuhan.
***
"Nak Alya," panggil Umi Fatimah yang melihat Alya sudah menyelesaikan mengajarnya.
Alya menghampiri Umi Fatimah. "Iya Umi, ada apa?"
__ADS_1
"Bagaimana mengajar di hari pertamamu?" tanya Umi Fatimah.
"Alhamdulillah Umi, sangat menyenangkan," jawab Alya dengan terus tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu." Umi Fatimah bernapas lega. "Oiya nanti akan ada yang membantumu mengajar. Tapi tidak pasti waktunya, karena dia juga harus mengurus usahanya."
"Siapa itu Umi?" tanya Alya.
"Namanya Nak Rafasya Ibra Asyaril. Dia salah satu donatur kita," jelas Umi Fatimah
Alya mengangguk-anggukan kepalanya. Dia seperti tidak asing dengan nama itu.
"Katanya dia juga…." Ucapan Umi Fatimah terpotong oleh dering ponsel Alya.
"Maaf Umi saya jawab telepon dulu, dari Mas Doni," ucap Alya setelah melihat ponselnya.
"Ya silahkan."
"Aku sekalian pamit pulang ya Umi. Permisi Umi," ucap Alya sambil mencium punggung tangan Umi Fatimah.
"Iya hati-hati di jalan," ucap Umi Fatimah.
Alya kemudian menjawab panggilan telepon suaminya sambil berjalan.
"Halo assalamualaikum Mas,"
"Waalaikumsalam. Sayang, kamu dimana?" tanya Doni.
"Yasudah langsung pulang ya," kata Doni.
"Iya Mas."
Taksi yang Alya lesan datang dan berhenti tepat di depan Alya.
"Nanti aku pulang telat, jangan menunggu. Aku ada janji dengan teman-temanku," ucap Doni.
"Baik Mas," ucap Alya sambil memasuki taksi yang ia pesan.
"Yasudah kamu hati-hati, udah dulu ya ada mahasiswa ku lagi bimbingan," ucap Doni langsung memutus panggilannya.
Alya mendesahkan napasnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. Alya menatap keluar jendela. Melihat kaca mobil yang mulai terdapat titik air. Dengan cuaca yang cukup cerah tiba-tiba turun.
Ia mengingat kegiatannya selama mengajar. Sungguh menyenangkan mendengar celotehan mereka.
***
Doni turun dari mobilnya. Ia memasuki cafe Prince milik sahabatnya itu. Doni langsung menuju kursi yang biasa ia dan teman-temannya duduki saat berkumpul.
Terlihat disana sudah ada Grace sedang menikmati mocktail.
Doni mendudukkan dirinya di sofa yang berada di depan Grace.
"Rifki mana?" tanya Doni.
__ADS_1
"Di toilet," jawab Grace sambil mengaduk-ngaduk minumannya dengan sedotan.
Doni melambaikan tanganya ke arah waitress. "Mas, biasa ya americano dingin."
"Siap Pak, di tunggu ya," ucap waitress itu sambil mencatat pesanan Doni.
Doni mengangguk dan kembali terdiam untuk melihat ponselnya ketika waitress itu pergi. Sedangkan Grace diam-diam memperhatikan Doni. Ia sangat hafal betul sahabatnya yang satu ini. Tidak banyak bicara jika sedang bertemu.
"Woooo… dosen tampan udah sampe," seru Rifki yang langsung duduk disebelah Doni.
"Jangan deket-deket gue, lu habis dari toilet," ucap Doni datar.
"Waaah parah lu. Sudah higienis nih, pake hand sanitizer."
Grace tertawa kecil melihat tingkah kedua sahabatnya. Yang satu berisik dan satunya lagi pendiam.
"Permisi, ini americano dinginnya," ucap waitress yang meletakan gelas minuman milik Doni.
"Terima kasih,"ucap Doni lalu menyesap kopinya itu.
"Oiya Grace, gimana urusan perceraian lu?" tanya Rifki.
"Udah kelar dan gue sekarang sudah resmi menyandang status janda," ucap Grace dengan menekankan kata janda.
Doni mengalihkan pandangannya ke Grace. Dan Grace hanya tersenyum ketika Doni memandangnya.
"Waah harus ada pesta nih," seru Rifki lagi.
Grace melemparkan sedotan ke arah Rifki. "Sahabat minim akhlak lu. Temen menjanda malah minta pesta. Bantuin cari calon lagi kek," gerutu Grace.
Rifki malah tertawa mendengar gerutuan sahabat wanitanya itu.
"Jangan dulu mencari pengganti. Fokus aja dulu untuk membenahi diri," kata Doni.
Tiba-tiba Grace terdiam mendengar kata-kata Doni. "Bener kata Doni, gue harus benahi diri gue dulu."
"Kenapa jadi serius begini sih? Ga asik ah," ucap Rifki.
Grace dan Doni pun terkekeh.
"Don, kata karyawan gue, lu beberapa hari lalu ketemuan sama cewek disini," ucap Rifki.
"Mmm… itu mahasiswi gue," ucapnya datar.
Rifki bertepuk tangan. "Bukan main dosen kita. Udah berani main sama mahasiswinya."
Grace terkesiap mendengar percakapan mereka. Doni yang anti bermain-main dengan mahasiswinya. Kini sudah berani bermain-main. Mungkin kalau Rifki yang melakukannya ia tidak akan begitu terkesiap, tapi ini seorang Doni. Grace benar-benar tidak habis pikir.
"Gue cuma menikmati suguhan. Dia sendiri yang menawarkan," ucap Doni santai.
Rofki hanya geleng-geleng kepala. Sungguh sahabatnya ini sudah berubah. Sedangkan Grace masih terdiam dengan segala pemikirannya.
Obrolan mereka kembali berlanjut, hingga cukup malam.
__ADS_1