
Alya tampak sibuk di dapur. Ia memasak untuk makan malam. Beberapa lauk sudah matang. Sayur sop pun sebentar lagi matang. Sambil menunggu sop nya matang ia menyiapkan bahan untuk udang saus tiram kesukaan Doni.
"Yah saus tiramnya abis," ucap Alya yang memegang botol saus tiramnya yang telah kosong. "Bagaimana ini? Pasti sebentar lagi mas Doni sampai rumah." Alya kebingungan menggigit ujung kukunya.
Lalu ia mengecek sayur sopnya apakah sudah matang. Setelah yakin sudah matang ia mematikan kompornya. Lalu ia berlari ke kamarnya untuk mengambil dompet. Alya memutuskan untuk membeli saus tiram di minimarket yang berada tepat di depan komplek rumahnya. Jaraknya sekitar 500 m dari rumahnya.
Alya berjalan dan kadang sedikit berlari kecil. Setelah sampai di minimarket ia dengan cepat mengambil saus tiram dan bumbu lain yang ia ingat hampir habis. Dengan nafas yang terengah dia langsung menuju kasir. Ada beberapa orang yang mengantri.
"Istrinya pak Doni ya?" tanya seorang pria yang antri tepat di depannya.
"Iya… maaf anda siapa ya?" Alya menunduk menghindari tatapan pria itu.
"Saya Ibra," jawab pria itu.
Alya mendongak dan memperhatikan Ibra. Ia tampak tidak asing dengan nama itu. "Kamu Ibra anaknya pak Rudi itu ya?"
"Iya saya anaknya pak Rudi," jawab Ibra.
"Oh iya saya ingat anda," sahut Alya.
Tiba giliran Ibra untuk melakukan pembayaran. Sebelum Ibra melihat belanjaan yang tak banyak. "Mau sekalian? Kayanya belanjaannya ga terlalu banyak."
"Nggak usah terima kasih," ucap Alya tersenyum.
"Ok kalau gitu," ucap Ibra. Lalu Ibra melakukan pembayaran.
"Saya keluar duluan ya?" Ucap Ibra yang telah selesai melakukan pembayaran.dan bergantian Alya yang melakukan pembayaran.
***
"Ngobrol sama siapa kamu?" tanya bu Meri setelah Ibra masuk ke dalam mobilnya.
"Oh itu, istrinya pak Doni," jawab Ibra sambil memberikan belanjaan yang di pesan ibunya.
"Jadi tadi perempuan yang sedikit berlari itu istrinya Doni," ucap pak Rudi.
Ibra pun sudah siap di kursi kemudi. Ia mulai menyalakan mobilnya.
"Jangan jalan sulu kak. Ajak Alya bareng kita. Kasian kalau dia harus jalan kaki lagi," ucap bu Meri.
Ibra pun urung melajukan mobilnya. Menunggu Alya keluar dari minimarket.
Alya tampak sedang memasukan dompetnya ke dalam tas belanjaannya setelah keluar dari minimarket.
"Nak Alya." Bu Meri memanggil.
"Bu Meri."
"Ayo bareng, daripada jalan kaki. Sudah mulai gelap loh ini," ucap bu Meri.
"Terima kasih bu, lagian ga begitu jauh nanti malah merepotkan," sahut Alya tersenyum paksa.
"Nggak merepotkan kali kak. Daripada kak Alya jalan kaki. Menghemat waktu dan tenaga," timpal Sarah yang sedari sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
Alya tampak berpikir lalu mengangguk. "Baiklah."
Alya membuka pintu mobil itu. Lalu duduk setelah sarah bergeser ke tengah. Mobil Ibra adalah jenis mobil sedan. Alya menutup pintunya perlahan.
Ibra lalu melajukan mobilnya.
"Belanja apa nak Alya sampai berlari begitu?" tanya bu Meri.
"Saus tiram bu. Tadi saya mau masak udang saus tiram kesukaan mas Doni tapi saus tiramnya habis. Jadi saya berlari takut mas Doni keburu pulang."
"Wah istri idaman banget ya kak Alya," celetuk Sarah.
Alya tersenyum canggung. "Ga kok, saya masih banyak kurangnya."
Ibra yang ada di kursi kemudi sedikit melirik ke arah Alya melalui kaca spion tengah.
Ibra kemudian memberhentikan mobilnya ketika mereka sampai di depan rumah Alya.
"Sudah sampai, saya permisi dulu ya. Terima kasih atas tumpangannya," ucap Alya.
"Iya sama-sama nak Alya," sahut bu Meri.
"Bye kak Alya," sambung Sarah melambaikan tangan.
"Bye Sarah."
Alya lalu turun dari mobil dan menutup pintunya perlahan. Ibra menganggukan kepalanya sebelum melajukan mobilnya.
Alya masuk ke rumahnya setelah mobil keluarga Ibra pergi. Ia dengan cepat masuk ke rumahnya dan kembali ke dapur. Ia harus segera memasak udangnya sebelum suaminya pulang.
***
Doni melangkah turun setelah memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya.
"Pak Doni!"
Seseorang memanggil namanya ketika akan membuka pintu rumah. Ia menoleh lalu tersenyum setelah tahu siapa yang memanggilnya.
"Mas Ibra, ada apa ya?" tanya Doni.
"Ini saya mau mengembalikan dompet bu Alya, tadi jatuh di mobil saya," ucap Ibra sambil menyodorkan dompet berwarna coklat.
Doni mengernyitkan dahinya. Lalu menerima dompet itu. Ia membukanya dan benar saja itu dompet istrinya.
"Kenapa dompet istri saya bisa ada di mobil anda?" tanya Doni.
"Kebetulan tadi sore kita ketemu di minimarket di depan komplek jadi saya sekalian ajak pulang bersama," ucap Ibra tersenyum.
"Terima kasih sudah mengembalikan dompet istri saya. Permisi saya harus masuk," ucap Doni begitu dingin.
Ibra hanya mengangguk dan tersenyum canggung. Ia merasa tidak ada yang salah dengan sikapnya. Tapi kenapa Doni bersikap seolah tak menyukainya?
Ibra mengedikkan bahunya dan berlalu untuk pulang.
__ADS_1
***
Langkah Doni begitu cepat dengan nafas yang memburu. Ia mencari keberadaan istrinya. Doni menemukan istrinya sedang berada di dapur.
"Mas sudah pulang?" tanya Alya tersenyum.
"Maaf aku ga menyambut kamu didepan. Aku ga mendengar…."
Belum selesai Alya berbicara, doni mencengkram rambut Alya dan menariknya ke belakang.
"Auuu!!" teriak Alya merintih.
"Baru pulang bareng pria lain sudah lupa cara menghormati suami hah!" seru Doni dengan meninggikan suaranya. Ia juga semakin mencengkram rambut istrinya.
"Sss...sakiiiit mas." Alya kembali merintih. Rasanya rambutnya terasa akan tercabut dari kulit kepalanya.
"Senang kamu bisa berduaan pria lain?" ucap Doni menggeram menahan amarahnya.
Alya hanya menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah mengalir membasahi wajahnya. Mulutnya rasanya tak sanggup berkata karena menahan rasa sakitnya.
"JAWAB!!" teriak Doni dengan suara yang memekakkan telinga.
"A.. aku ga pu..pulang berduaan dengan pria lain," jawab Alya terbata.
"Berani berbohong kamu ya sekarang," ucap Doni mengeratkan giginya.
Alya kembali menggeleng pelan.
"Ini apa hah?! Kenapa dompet kamu bisa ketinggalan di mobil Ibra HAH!!"
Alya membulatkan matanya melihat dompetnya yang berada di tangan suaminya. Batinnya berkata, Bagaimana bisa dia begitu ceroboh? Karena terburu-buru ingin menyelesaikan masakannya ia sampai lupa dengan dompetnya yang ia taruh di kantong belanjanya.
"I...itu aku tidak hanya berdua. Kita berlima, ada ibu Meri, pak Rudi dan juga Sarah. Sungguh aku tidak berbohong." Alya mencoba menjelaskan dengan menahan sakit.
Doni hanya terdiam setelah mendengar penjelasan Alya. Tatapan masih sangat tajam melihat Alya. Sungguh menakutkan.
"Aku sudah menolaknya tapi bu Meri terus saja memaksa dan aku tidak bisa menolaknya. Aku tidak sengaja menjatuhkan dompetku" jelasnya lagi dengan terisak.
Brak.. praaang…
Doni melepaskan cengkraman dengan mendorong Alya ke meja makan. Sayur spp yang belum lama di letakan di meja makan pun tumpah mengenai tangannya dan beberapa piring lauk jatuh ke lantai.
"Aaaah." Alya mengadu kepanasan.
Sedangkan Doni berlalu pergi ke kamarnya.
Alya mengibas-ngibaskan tangannya. Lalu berlari ke wastafel yang berada di dapur. Ia mengucurkan air dingin pada tangannya yang terkena kuah panas.
Kedua tangan Alya memerah. Rasa terbakar mulai terasa. "Sakit sekali," rintih Alya. Untung saja sayurnya sudah tidak terlalu panas. Mungkin bisa saja tangan Alya melepuh jika sayurnya baru saja matang.
Alya terduduk dan menangis. Luka lebamnya yang kemarin saja belum sembuh. Kini tangannya harus terkena kuah panas juga.
Rasanya ingin pergi saja dari kehidupan Doni. Akan tetapi dia ingat ibunya. Jika ibunya tahu keadaannya dan bercerai. Pasti ibunya bisa kembali terkena serangan jantung. Dia tidak ingin kehilangan ibunya. Maka dari itu mencoba bertahan. Dan tetap berharap suatu saat Doni akan berubah.
__ADS_1
Alya bangun dari duduknya. Dengan masih terisak ia membersihkan dan merapikan meja makan yang berantakan itu. Meski tangannya terasa panas dan perih.
Doni keluar dari kamarnya. Ia sudah mengganti pakaiannya. Tampaknya ia akan pergi. Langkah terhenti saat ia sampai di samping meja makan. Doni menatap Alya sekilas lalu melanjutkan langkahnya untuk keluar rumah.