
Suara napas yang tersengal-sengal begitu merdu. Setelah terjadinya kegiatan panas yang menggelora. Peluhnya membanjiri tubuh keduanya manusia tanpa ikatan yang sah itu.
Doni bangun dari ranjang menuju kamar mandi. Setelah 15 menit membersihkan diri. Ia keluar dari kamar mandi sudah rapi dengan pakaiannya.
"Bapak mau kemana?" tanya vira yang masih berada di balik selimut dengan tubuh yang masih polos.
Doni memakai jam tangannya dan memakai sepatunya. "Saya harus pulang, ini sudah cukup malam. Istri saya pasti menunggu."
"Bilang aja Pak sama istrinya kalau bapak pulang telat," ucap Vira memberi usul. Rasa masih belum rela melepas suami orang yang satu ini. Pesonanya sungguh luar biasa menurutnya.
"Kamu sudah tidur dengan saya, bukan berarti bisa mengatur saya dan ikut campur urusan saya," ucap Doni dingin.
Vira cukup terkejut walaupun ia tahu ini bagaimana sikap Doni yang sebenarnya. Tapi dalam benaknya juga kesal. Rasanya seperti terbuang. Ia terlalu berharap berlebihan tentang hubungan antara dirinya dan Doni. Harusnya ia siap dengan ini. Doni pasti hanya membutuhkan tubuhnya saja. Dan dia tidak harus merasa terbuang, toh Vira sendiri yang menyerahkan tubuhnya. Tapi emosi membuat akal sehatnya hilang. "Kalau memang mencintai istri Bapak. Kenapa Bapak mau tidur dengan saya? Harusnya tidur aja sama istri Bapak!!"
Doni menoleh, sorot matanya tajam menatap Vira."Saya bilang, jangan pernah ikut campur urusan saya. Apa kamu tidak mengerti Hah?!"
Vira tersentak mendengar ucapan Doni. Ia merutuki dirinya yang sudah begitu berani.
Doni mencengkram rahang Vira. Sorot matanya benar-benar membuat Vira ketakutan.
"Ingat untuk menjaga Rahasia ini. Kalau sampai ada 1 orang pun yang tau. Kamu akan terima akibatnya yang tidak pernah kamu bayangkan," ucap Doni mengancam dengan suara yang begitu dingin.
Vira yang sudah ketakutan hanya bisa mengangguk.
Doni menyeringai, lalu ia mengeluarkan uang dari dompetnya. Ia lempar uang beberapa uang ratusan ribu ke arah Vira. "Kamu bayar kamar ini."
Kemudian Doni mengambil tasnya lalu beranjak keluar kamar.
Vira terdiam menatap uang yang berada di atas selimutnya. Iya tersenyum miris dengan dirinya sendiri. "Aku bakalan bikin Pak Doni ga bisa lepas dari aku."
***
Tiga hari berlalu dan hari ini tiba saatnya arisan keluarga Doni yang berada di rumah Tante Anna. Selama tiga hari ini, suasana hati Doni cukup baik. Tidak terjadi apapun selama tiga hari ini.
Doni sudah siap untuk berangkat. Ia memakai baju yang dipilihkan Alya. Kemeja casual berwarna putih dan celana panjang berwarna coklat muda. Doni duduk di ruang tamu menikmati kopi pagi sambil menunggu Alya.
__ADS_1
Alya keluar dari kamar dan dengan langkah cepat menghampiri suaminya.
Doni yang mendengar langkah kaki istrinya pun menoleh. Melihat istrinya yang memakai dress long sleeve berwarna rust red. Dalam hati berkata sungguh istrinya selalu cantik mengenakan apapun.
"Ayo mas."
Doni mengangguk tersenyum, lalu berdiri. Ia menggenggam tangan istrinya. Mereka pun keluar rumah untuk menuju rumah Tante Anna. Mereka memasuki mobil dan memasang sabuk pengaman. Sebelum melajukan mobilnya Doni menoleh ke Alya. "Ingat jaga sikap dan perilaku kamu."
Alya hanya bisa menganggukan kepala. Sejujurnya Alya sangat gugup saat ini. Ia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Ingatan tentang perlakuan mereka di saat arisan keluarga sebelumnya, masih amat teringat jelas.
Alya berusaha menguatkan hatinya. Mencoba sebisa mungkin untuk tenang.
Sesampainya di rumah Tante Anna, mereka disambut beberapa kerabat. Ada benar-benar ramah dan ada pula yang tersenyum palsu.
Alya kembali menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskan kembali sebelum masuk kedalam rumah. Akan tetapi saat ini terasa bukan sebuah rumah bagi Alya. Melainkan bagaikan ruang penghakiman.
Di dalam nampak orang tua Doni sedang bercengkrama dengan Tante Anna dan suaminya.
"Doni, Alya… akhirnya datang juga pasangan romantis yang satu ini," seru Tante Anna begitu melihat mereka.
Setelah selesai bersalaman, mereka duduk bersebelahan dengan orang tua Doni.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Mama Anggraini. Wajahnya terlihat amat datar. Melontarkan pertanyaan terkesan seperti basa basi belaka.
"Kami baik kok Ma," sahut Doni tersenyum.
Alya mulai merasa tak nyaman.
Mama Anggraini tampak mengambil sesuatu dari tasnya. Lalu ia memberikannya pada Alya. "Ini ada obat kesuburan dari China. Kamu minum ini setiap hari dan jaga makanan kamu."
"Iya ma, terima kasih," ucap Alya tersenyum.
Kemudian Alya terdiam ia melihat sekotak obat bertuliskan aksara China yang berada di genggamannya.
Entah ini sudah obat yang keberapa yang ia terima dari mertuanya. Tidak hanya obat dari dalam negeri dari luar negeri pun sering ia dapatkan. Semua itu terjadi sejak Doni mengatakan kepada keluarganya bahwa Alya sulit hamil. Kemungkinan Alya hamil hanya 5 persen. Dan sejak saat itu pula gunjingan dan sindiran terdengar dari keluarganya saat ada acara kumpulan keluarga.
__ADS_1
Seperti sekarang sayup terdengar suara beberapa wanita oleh Alya ketika ia akan ke toilet. Ada mengatakan 'kasian ya Doni punya istri mandul, cantik sih tapi ga bisa kasih keturunan buat?'
Dan ada pula yang mengatakan. "Aku kalau jadi Doni, pasti sudah menikah lagi. Buat apa mengharapkan yang tidak mungkin."
Alya berusaha menulikan telinganya. Dia berjalan seolah-olah tidak terjadi apapun. Ia harus tetap tersenyum. Alya tidak ingin suaminya kembali marah karena sikap yang menurutnya tidak baik. Pesan Doni selalu terngiang di ingatannya.
Alya tetap berusaha sebisa mungkin bersikap baik. Namun ada kalanya Alya lengah dan membuat dirinya kembali menjadi korban kemarahan suaminya.
Rasanya sungguh melelahkan berada disana. Padahal Alya hanya duduk-duduk. Karena memang mertuanya tidak mengijinkan Alya melakukan apapun. Katanya ia harus menjaga kesehatannya. Tidak boleh kelelahan.
Kesannya terdengar begitu baik bukan. Pada kenyataannya, Mama Anggraini lah yang selalu saja bersikap tidak menyenangkan. Sikapnya berubah menjadi ketus, berbeda saat awal menikah. Alya mendapatkan kasih sayang melimpah dari Mama mertuanya. Alya seperti sedang bersama Ibu kandungnya.
"Sudah sayang?" tanya Doni lembut ketika melihat istrinya datang.
Alya mengangguk lalu duduk di sebelah Doni. Sebelumnya saat Alya belum berbelok ke arah taman belakang , ia mendengar beberapa orang berbicara, termasuk suaminya. Akan tetapi setelah Alya datang mendadak menjadi hening.
Rasanya Alya ingin berlari keluar dan berteriak. Saat ini yang bisa dilakukan Alya hanya bersikap seolah-olah baik-baik saja.
"Mba Alya ga coba buat bayi tabung? Siapa tau kan berhasil." ucap Bibi Pipit.
Alya bingung harus jawab apa. Sebisa mungkin jawabannya tidak menyudutkan suaminya.
"Saya tidak mengizinkannya Bibi," ucap Doni.
"Kenapa? Memangnya kamu ga ingin punya anak?,"
"Jika Tuhan berkehendak pasti kelak Alya bisa hamil," sahut Doni.
"Tapi kan…"
"Kami permisi Bibi," ucap Doni menyela ucapan Bibinya.
Acara arisan telah berlangsung lama. Mereka memutuskan untuk pulang. Mereka berpamitan dengan semua kerabatnya, terutama orang tuanya.
Doni pun merasa pusing dengan saran-saran yang disampaikan oleh kerabatnya. Mereka memaksa Doni menikah lagi atau mengadopsi anak.
__ADS_1
Sungguh dimanapun orang berada ada saja nyinyiran. Saat belum menikah tapi usia sudah cukup umur, dianggap ga laku. Dan banyak lagi bentuk nyinyiran.