CRUEL MARRIAGE

CRUEL MARRIAGE
Bab 7


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Alya langsung membersihkan diri. Sedangkan Doni masuk ke ruang kerjanya. 


Sesudah mandi dan berpakaian, Alya duduk di tepi ranjang. Ia teringat tentang keinginannya mengajar di panti. Suasana hati suaminya cukup baik beberapa hari ini. Alya berpikir, apakah dia harus mengatakannya sekarang?.


Alya terdiam dan memikirkan bagaimana cara mengatakannya. Jangan sampai apa yang ia katakan menjadi petaka. 


Ceklek…


Doni membuka pintu kamar. Alya menoleh dan menatap Doni.


Doni nampak terdiam melihat Alya yang menatapnya. Ia berjalan menghampiri Alya setelah menutup pintu. 


"Kamu sudah mandi?" tanya Doni.


"Hmm."


Doni mengangguk dan tersenyum. "Yaudah aku mandi dulu."


"Baik Mas."


Doni melangkahkan kakinya ke kamar mandi. 


Alya beranjak untuk mengambil pakaian untuk suaminya. Lalu meletakkannya di atas ranjang. 


Kemudian Alya keluar kamar untuk membuatkan teh untuk suaminya. Sekembalinya Alya dari dapur dengan membawa secangkir teh, Doni sudah selesai mandi dan sudah memakai pakaiannya.


Alya melangkahkan kaki masuk dan menaruh teh di meja nakas. "Tehnya mas."


"Terima kasih," ucapnya lalu duduk di tepi ranjang. Ia mengambil secangkir teh yang dibuat istrinya. Ia sedikit menyeruput teh itu dan menikmati rasa harumnya. 


"Mas…" 


Alya rasa ini waktunya untuk bicara. Walaupun. Sebenarnya ia cukup takut juga. Kedua tangannya saling meremas. Tangannya mulai berkeringat.


Doni mendongakkan kepalanya menatap Alya. Lalu kembali menyeruput tehnya.


"A...aku ingin jadi pengajar di panti asuhan," ucap Alya.


Doni tersentak kaget mendengar apa yang istrinya katakan. Ia berhenti meminum teh, lalu meletakan cangkir teh itu kembali ke meja nakas.


Doni menatap Alya dengan tajam. "Kamu sudah tau jawaban apa yang akan aku berikan bukan? Untuk apa bertanya lagi? Aku tidak akan mengijinkan istriku bekerja."


Mendengar ucapan Doni yang dingin dan tegas, membuat Alya semakin takut. Keringat dingin kini mulai mengalir di tubuhnya.


Alya menelan salivanya beberapa kali. Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. "I..iya aku tau itu mas. Aku disana bukan untuk bekerja. Hanya sebagai relawan saja."


Doni terdiam dan masih menatap tajam Alya. Ia tampak sedang berpikir. Dalam benaknya bertanya, apakah harus mengizinkannya? Dengan dia menjadi relawan tidak akan mencoreng namanya bikan? 


Doni menggusahkan napasnya. "Baiklah, tapi ingat kamu sudah harus ada dirumah sebelum aku pulang. Dan jangan lupa jaga sikapmu di luaran sana. Mengerti!!"


Alya cukup terkejut, ternyata suaminya mengizinkannya. Alya menganggukkan kepalanya berkali-kali. Ia benar-benar bahagia. Rasanya ingin berlompatan karena begitu bahagianya. Tapi itu hanya angan. Jika Alya benar-benar berlompatan, bisa jadi akan ditarik lagi persetujuan suaminya. "Iya mas aku mengerti."


"Ayo kita istirahat. Aku sudah lelah," ucap Doni yang sudah mengangsurkan tubuhnya ke balik selimut.  


Alya pun beranjak mengikuti suaminya untuk tidur.

__ADS_1


***


Keesokan harinya Doni mengantarkan Alya untuk ke panti asuhan. Ia harus memastikan apa yang dikatakan istrinya benar. 


"Assalamualaikum Umi Fatimah," sapa Doni yang sudah berada di depan ruangan Umi Fatimah.


"Waalaikumsalam," jawab Umi Fatimah. 


"Masya Allah Pak Doni. Masuk… masuk," ucap Umi Fatimah bangun dari tempat duduknya.


Mereka bersalaman satu sama lain. Sedangkan Alya memeluk Umi Fatimah.


"Ayo duduk," kata Umi Fatimah.


Doni dan Alya pun duduk di sofa yang ada di ruangan Umi Fatimah.


Doni berdehem. "Bagaimana kabar Umi Fatimah?.


Umi Fatimah tersenyum. "Alhamdulillah saya baik Pak Doni."


Umi Fatimah mengangsurkan dua botol air mineral yang selalu disediakan di meja kepada Doni dan Alya. "Silahkan diminum, maaf ya hanya air mineral."


"Terima kasih Umi, ini saja sudah cukup," sahut Doni. 


"Begini Umi, apa benar panti asuhan sedang membutuhkan pengajar?" tanya Doni basa basi. Doni ingin memastikan kebenarannya.


Alya hanya terdiam dan terus menggenggam tangan suaminya.


"Ya Pak benar sekali. Kami sudah lama mencari pengganti Anne, tapi belum dapat juga. Tidak banyak yang mau jadi relawan disini," kata Umi Fatimah tersenyum.


"Alhamdulillah… tentu saja Pak Doni. Saya tentu sangat berkenan, justru saya yang merasa tidak ke Pak Doni," ucap Umi Fatimah tersenyum bahagia.


"Saya tidak masalah Umi, yang terpenting dia bisa bahagia. Saya yakin juga dia bisa menjaga dirinya," sahut Doni.


Alya menundukkan kepalanya. Ia tahu apa maksud dari perkataan Doni. Menjaga diri berarti menjaga nama baik suaminya.


"Pak Doni tidak perlu khawatir. Saya yakin nak Alya bisa menjaga marwahnya sebagai seorang istri," ucap Umi Fatimah meyakinkan.


"Iya Umi, inshaAllah saya juga yakin," ucap Doni. Lalu ia melihat jam tangannya.


"Kalau begitu saya pamit dulu Umi. Saya ada kelas jam sebelas nanti. Saya titip Alya ya Umi," kata Doni.


"Baik Pak Doni," sahut Doni.


Mereka beranjak bangun dari duduknya. Doni bersalaman dengan Umi kemudian melangkahkan kakinya keluar. Umi fatimah mengantarkan sampai di depan pintu ruangannya.


Alya sedari tadi terus menggenggam tangan suaminya. Begitulah Alya jika bersama suami menemui orang lain ataupun rekannya. Lebih banyak diam dan tersenyum saja.


"Umi, saya antarkan Mas Doni ke depan dulu," ucap Alya.


Umi Fatimah hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum.


Alya dan Doni berjalan sampai dimana mobil suaminya di parkirkan.


"Ingat, kamu harus menjaga sikap kamu disini. Jangan sampai kamu melakukan tindakan yang mempermalukan saya," ucap Doni tegas sedikit mengancam.

__ADS_1


"Iya Mas. InshaAllah aku bisa menjaga sikapku," ucap Alya.


Aly mencium punggung tangan suaminya dan Doni mengecup puncak kepala Alya.


"Yasudah, saya jalan dulu," ucap Doni.


"Iya Mas, hati-hati di jalan," sahut Alya.


Doni masuk kedalam mobilnya. Kemudian ia melajukan mobilnya keluar panti.


Alya kembali ke dalam panti setelah mobil suaminya tak terlihat lagi dari pandangan matanya.


***


Sesampainya Doni di kampus, ia langsung menuju ke ruangannya. Doni terkejut ketika ia membuka pintu.


"Ada apa Vira?" tanya Doni sambil melihat Vira dari ujung kepala sampai kaki.


"Tidak apa-apa Pak. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih. Karena Bapak, skripsi saya sudah selesai," ucap Vira dengan suara yang mendayu.


"Kamu mau menggoda saya dengan berpakaian seperti itu?!" ucap Doni tajam.


"Enggak kok Pak. Kebetulan saya mau ada acara. Jadi mampir kesini dulu Pak," kata Vira mencoba mengelabui.


Doni melangkahkan kakinya memasuki ruangannya setelah menutup pintunya. Ia duduk di kursi di balik meja kerjanya.


Sorot matanya yang tajam, sungguh membuat Vira takut. Rasanya dia akan ditelannya hidup-hidup. Tapi dia sudah bertekad untuk mendapatkan Doni. Dia berusaha menghilangkan rasa takutnya


"Kamu pikir saya bodoh! Jangan berusaha mengelabuiku!" ucap Doni tegas.


Vira menunduk. "Maaf Pak, bukan maksud saya bohongi Bapak. Jujur saya ga bisa lupa tentang kejadian waktu lalu," 


Doni tertawa cukup keras mendengar apa yang dikatakan Vira.


"Apa kamu mau meminta pertanggungjawabanku? Bukankah kamu sendiri yang menawarkan tubuhmu" sahutnya begitu dingin dengan tatapan yang semakin tajam.


Vira menggelengkan kepalanya. "Bukan itu maksud saya Pak. Sungguh saya tidak punya keberanian untuk itu. Karena saya sadar, saya lah yang menyerahkan tubuhku. Hanya saja entah mengapa rasanya aku ingin mengulanginya lagi."


Doni terdiam dengan tatapan yang masih tertuju pada Vira. "Apa yang sedang kamu rencanakan?!"


"Sungguh Pak, saya tidak merencanakan apapun," sahut Vira.


"Kamu boleh sekarang. Saya ada kelas sebentar lagi," ucap Doni sambil menyiapkan diri.


"Tapi Pak…" Vira tercekat ketika tiba-tiba Doni menatapnya tajam. Vira menunduk. "Baik Pak, saya keluar."


"Jangan pernah kamu ke ruangan saya untuk mengatakan hal itu. Kamu mengerti?!" ucap Doni begitu dingin dan menakutkan.


"Lalu bagaimana saya bisa hubungi bapak?" tanya Vira begitu beraninya.


"Apa kamu tuli hah?!" tanya Doni dengan suara kerasnya.


"B...baik Pak," ucap Vira langsung bergegas keluar.


Vira merutuki dirinya. Kenapa dia bisa menyukai laki-laki seperti Doni. 

__ADS_1


Sedangkan Doni di ruangannya sedang kesal setengah mati. Bisa-bisa nama baik yang ia jaga bisa hancur oleh gadis itu.


__ADS_2