
"Mama habis dari rumah Doni? " tanya Irsyad disela-sela makan malam.
"Alya ngadu ke Papa?" tanya Anggraini.
"Doni tadi siang mampir ke kantor dan cerita apa yang kamu lakuin ke Alya," sahut Irsyad.
Anggraini menghentikan kegiatan makannya. "Pa, aku cuma ingin yang terbaik untuk Doni."
"Doni sudah dewasa dan dia tau apa yang terbaik untuk dirinya. Jangan pernah ikut campur masalah rumah tangganya," ucap Irsyad tegas.
Anggraini bangun dan pergi dari ruang makan. Ia sudah tidak lagi selera untuk melanjutkan makan malamnya. Anggraini benar-benar kesal dengan suaminya yang selalu saja membela menantunya.
"Mau kemana kamu? Makananmu belum habis," tanya Irsyad
"Mau ke kamar. Nafsu makan Mama hilang," sahutnya bersungut-sungut.
Irsyad menghembuskan nafasnya lelah. Ini bukan yang pertama kalinya dilakukan istrinya. Dengan dalih demi kebaikan anaknya. Irsyad benar-benar merasa kasihan dengan menantunya itu. Bukan keinginannya menjadi wanita mandul. Tapi semua orang menghakiminya.
***
Seusai makan malam Doni dan Alya duduk di sofa yang berada di ruang tv. Doni mendekap bahu Alya dan Alya menyandarkan kepalanya di bahu Doni. Menonton film ditemani coklat dan beberapa cemilan. Setelah sekian lama akhirnya mereka bisa menonton film bersama. Alya pun sampai lupa kapan terakhir kali mereka seperti ini. Yang Alya ingat akhir-akhir ini adalah kekerasan yang dilakukan suaminya.
Doni bisa menjadi begitu penyayang dan di lain waktu bisa menjadi monster yang mengerikan. Alya sebenarnya tidak benar-benar menonton tv. Pikirannya masih terganggu dengan apa yang dilakukan ibu mertuanya itu. Seharusnya suaminya itu jujur saja kepada kedua orang tuanya. Tapi ada rasa takut dalam dirinya untuk mengatakan itu semua.
"Mas… " Alya memanggil suaminya setelah berusaha mengumpulkan keberaniannya.
"Hmm…" sahut Doni tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tv.
Bukannya menjawab, Alya kembali terdiam. Niat hati ingin menanyakan masalah ibu mertuanya itu. Tapi keberanian yang tadi ia kumpulkan kini lenyap. Rasa takut itu datang kembali. Ia benar-benar takut jika suaminya itu akan bertindak kasar lagi. Bayangan-bayangan kekerasan yang Alya dapat melintas di pikirannya.
Doni mengalihkan pandangannya ke Alya ketika tidak ada sahutan dari istrinya itu. "Ada apa? "
Alya menggelengkan kepala. Ia urungkan niatnya untuk membicarakan masalah itu. Lebih baik sekarang Alya mencari aman.
Doni menatap mata Alya dengan tatapan yang sulit dibaca. Setelah sepersekian detik saling menatap, Doni mendaratkan ciumannya di bibir ranum Alya. Cukup lama mereka berciuman. Saling ******* dan semakin memperdalam ciumannya. Gairah yang memuncak semakin membuat suasana makin panas. Melepaskan apa yang perlu dilepaskan agar memudahkan tujuannya. Doni meraba apa yang memang seharusnya ia raba. Mencumbui istrinya untuk menemukan titik nikmatnya. Suara ******* yang bersahutan dengan suara tv. Pergumulan panas itu tak terelakan.
__ADS_1
***
Alya menggeliat ketika mendengar suara alarm yang menggema di kamarnya. Setelah kegiatan olahraga malam, mereka berpindah ke kamar. Alya memasang Alarm pukul 3 pagi sebelum tidur karena suaminya harus sudah berada di bandara pukul 5.30.
Alya tidak langsung membangunkan suaminya. Ia teringat apa yang terjadi semalam. Alya melihat tanda merah di dada suaminya di sela-sela pergumulannya. Sedangkan mereka baru melakukan hubungan setelah hampir seminggu lamanya tak tersentuh. Lalu jejak percintaan dengan siapa?
Ini kedua kalinya Alya melihat jejak kemerahan di tubuh suaminya. Dan itu bukan hasil karyanya.
"Mas…" Alya mengguncangkan dada suami nya berusaha membangunkan suaminya itu.
"emm." Hanya suara erangan dari suaminya itu.
"Mas… bangun yuk. Udah jam 3," ucap Alya yang tidak menyerah membangunkan suaminya.
Akhirnya Doni terbangun dari tidurnya. Ia mendudukan dirinya lalu menggeliatkan tubuhya.
"Mas… kok dada kamu merah-merah? Mmm aku kayanya ga bikin tanda itu?" tanya Alya memberanikan dirinya.
Doni dibuat terkejut dengan apa yang istrinya katakan. Ia yang masih bertelanjang dada langsung melihat tanda merah itu.
Doni mencecar Alya dengan pertanyaan demi menutupi kesalahannya.
"Mas Doni lupa ya? Sejak kita baru nikah, kamu sendiri yang minta untuk tidak membuat tanda merah di tubuh mas saat melakukan itu. Dan sampai sekarang aku tidak melakukan itu," jawab Alya.
"Saya juga ga tau kenapa ada tanda merah ini. Jadi ga usah mikir yang macam-macam." Doni beranjak bangun dan memasuki kamar mandi demi menghindari Alya.
Doni mengumpat di kamar akibat kecerobohannya yang kedua kalinya. Sedangkan Alya hanya terdiam dengan air mata yang jatuh di pipinya. Alya semakin yakin jika suaminya itu melakukan hal yang tidak seharusnya.
Pertanyaan-pertanyaan pun berseliweran di kepalanya. Kenapa suaminya begitu? Apa kurangnya aku? Siapa wanita itu?
Dan satu nama yang terpikirkan oleh Alya yaitu Grace. Karena semalaman mereka bersama. Walaupun mereka bersahabat, tetap ada kemungkinan untuk melakukan itu. Atau suaminya hanya beralasan bersama Grace tetapi sebenarnya bersama wanita lain.
Karena sibuk berkutat dengan pikirannya, Alya tidak menyadari Doni sudah keluar dari kamar mandi.
"Kamu ga mau mandi? " tanya Doni yang melihat istrinya terdiam dengan pandangan yang kosong.
__ADS_1
"Hah… Kamu sudah selesai mandi? Maaf aku belum siapkan baju," ucap Alya yang langsung beranjak dari ranjangnya dengan melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Kamu mau ngapain?" tanya Doni yang melihat Alya membuka lemari pakaian.
"Ambil baju kamu Mas. Sebentar ya, " ucap Alya sambil memilih pakaian mana yang cocok digunakan hari ini untuk suaminya.
"Tidak perlu, lebih baik kamu mandi sekarang. Saya bisa ambil sendiri."
Dengan ragu Alya mengiyakan apa yang dikatakan suaminya. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah setengah jam persiapan. Kini Alya dan Doni dalam perjalanan ke bandara. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam saja. Sesekali ekor mata Doni memperhatikan istrinya yang jauh lebih diam dari biasanya.
"Saya pergi dulu. Ingat jangan berbuat macam-macam selama saya ga ada," ucap Doni ketika sudah sampai di bandara.
"Iya Mas, aku harap kamu juga ga berbuat macam-macam," jawab Alya.
Doni langsung mencengkram tangan Alya. "Apa maksud perkataan kamu? Kamu masih curiga sama saya? Kamu menuduh saya selingkuh? "
Alya meringis menahan sakit akibat cengkraman suaminya yang semakin kuat. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Mas sakiiit…" Alya merintih.
Doni terkesiap ketika Alya merintih kesakitan. Kenapa dia bisa lepas kontrol di tempat umum. Lalu menghempaskan tangan Alya.
"Hapus air mata kamu! Jangan sampai orang mengira saya menyiksa kamu," ucap Doni ketika melihat air mata Alya yang menetes di pipinya.
Alya lekas menghapus air matanya.
"Yasudah saya pergi dulu. Ingat pesanku!" Doni memberikan peringatan kemudian mengecup kening Alya.
"Iya Mas, hati-hati, " jawab Alya.
################################
Maaf baru up 🙏
__ADS_1
Ponselku sempat rusak jadi baru bisa kembali update