
Seminggu sudah Alya mengajar di panti asuhan. Hari-harinya kini memiliki semangat baru untuknya. Bercengkrama dengan anak-anak benar-benar menyenangkan.
Doni seminggu ini pun berperilaku baik. Dan Alya selalu berharap Doni akan seperti ini terus. Ya, Alya hanya bisa berharap dan terus berdoa agar suaminya kembali menjadi suami yang penyayang dan lembut. Walaupun itu tampak mustahil, tapi Alya tetap tak lelah berdoa.
"Sayang, lusa saya ada seminar selama seminggu di Surabaya," ucap Doni di sela-sela sarapan paginya.
"Apa aku harus ikut Mas?" tanya Alya.
"Tidak perlu, kamu kan harus mengajar di panti. Acaranya lumayan padat disana. Saya tidak mau kamu kelelahan dan merepotkan nantinya," sahut Doni.
Alya tersenyum dan mengangguk. Dianggap merepotkan untuk suaminya sedikit membuat hatinya berdenyut sakit.
Doni mengusap bibirnya menggunakan tisu setelah menyelesaikan sarapannya. "Saya berangkat dulu."
"Baik Mas," sahut Alya beranjak berdiri mengikuti Doni untuk mengantarkannya sampai didepan rumah.
"Oh iya, besok kamu jangan mengajar dulu. Saya mengosongkan jadwal besok sebelum berangkat ke Surabaya," ucap Doni setelah sampai di depan mobilnya.
Alya mengangguk. "Baik Mas."
Alya mencium punggung tangan suaminya dan Doni mencium kening Alya sebelum Doni masuk kedalam mobilnya.
Seperti biasanya Alya akan kembali masuk setelah mobil suaminya itu menghilang dari pandangannya.
"Nak Alya." Tiba-tiba seseorang memanggilnya, sebelum Alya masuk ke rumahnya.
Alya menoleh dan ternyata Bu Meri yang memanggilnya. "Iya Bu."
"Darimana Bu Meri?" tanya Alya menghampiri Bu Meri.
"Habis dari warung si Udin, beli Sanadol buat Bapak. Pagi-pagi katanya udah pusing," jawab Bu Meri terkekeh.
"Begini nak Alya, besok ada undangan pengajian selamatan khitanan anaknya Bu Tini. Nak Alya ikut ya?" tanya Bu Meri.
"Maaf Bu, saya tidak bisa janji untuk datang. Suami saya lusa akan keluar kota. Jadi mungkin besok saya harus dirumah untuk menemaninya sebelum berangkat keluar kota." Sahut Alya merasa tak enak hati.
"Iya tidak apa-apa nak Alya. Suami lebih penting," ucap Bu Meri tersenyum sambil mengusap bahu Alya.
"Iya Bu," sahut Alya tersenyum.
"Tapi nanti pengajian mingguan bisa datang kan?" tanya Bu Meri.
"Insha Allah Bu, nanti saya usahakan datang. Giliran di rumah Bu Lusi ya?"
"Bukan nak Alya. Di rumah saya." jawab Bu Meri.
"Loh bukannya di rumah ibu itu minggu depan?" tanya Alya bingung.
"Bu Lusi berhalangan minggu ini. Keluarganya di Bekasi katanya ada hajat," terang Bu Meri.
"Oh… baik kalau begitu, saya usahakan datang," ucap Alya.
"Iya datanglah, pasti Sarah senang kamu bisa datang," ucap Bu Meri.
"Iya Bu saya usahakan," sahut Alya.
"Ya sudah saya pulang dulu ya. Sanadolnya ditungguin Bapak," ucap Bu Meri sambil kembali terkekeh.
"Iya Bu," jawab Alya tersenyum.
Alya cukup aktif di lingkungan rumahnya. Pengajian ataupun kegiatan yang ada di lingkungan rumahnya selalu diusahakan Alya datang.
Seperginya Bu Meri dar rumahnya, Alya bergegas masuk untuk bersiap berangkat ke panti. Dan seperti biasanya sebelum berangkat ke panti, Alya selalu menyempatkan untuk menghubungi ibunya yang berada di kampung.
***
__ADS_1
"Dari mana Bu?" tanya Ibra yang melihat Ibunya dari luar.
"Beli sanadol buat Bapak," jawab Ibu Meri.
"Kenapa ga pergi ke dokter aja?"tanya.
"Alah orang cuma sakit kepala biasa. Minum sanadol juga sembuh," sahut Pak Rudi yang keluar dari kamarnya karena mendengar suara istri dan anaknya.
ibra hanya menggelengkan kepalanya.
"Warung si Udin pindah ya Bu?" tanya Pak Rudi.
"Hah… enggak kok Pak," sahut Bu Meri bingung.
"Kok lama banget beli obat doangan," ucap Pak Rudi mengambil obat yang di pegang Bu Meri.
Bu Meri baru mengerti apa maksud dari pertanyaan suaminya hanya bisa tersenyum. "Tadi tuh Ibu mampir dulu ke rumah Alya. Mau kasih tau ada undangan pengajian."
Ibra berhenti merapikan beberapa dokumen yang ia kerjakan, ketika mendengar orang tuanya membahas Alya.
Diam-diam ia mendengarkan apa yang dibicarakan orang tuanya.
"Bukannya nak Alya udah tau kalau pengajian mingguan disini. Ngapain di kasih tau lagi?" tanya Pak Rudi.
"Bukan itu Pak,ini tuh undangan pengajian untuk selamatan khitanan anaknya Bu Tini," sahut Bu Meri.
"Jadi minggu ini akan ada pengajian Bu?" tanya Ibra.
"Iya," jawab Bu Meri. Ibra hanya mengangguk-anggukkan kepala.
Ibra yang sudah merapikan dokumen-dokumennya siap untuk berangkat bekerja. "Bu, Pak pamit berangkat ya."
"Ya.. ya.. hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut bawa mobilnya,"
****
"Assalamualaikum Umi."
"Walaikum salam Nak Alya," jawab Umi Fatimah.
Alya mencium punggung tangan Umi Fatimah. "Sudah siap mengajar nak?"
"Iya Umi," sahut Alya. "Mmm begini Umi, maaf sebelumnya besok saya ijin tidak mengajar Umi. Saya ada sedikit keperluan," lanjut Alya tersenyum.
"Oh iya nak Alya silahkan," ucap Umi Fatimah.
"Terima kasih ya Umi."
"Sama-sama nak Alya," sahut Umi Fatimah.
"Kalau begitu saya permisi Umi. Anak-anak pasti sudah menunggu," ucap Alya.
"Silahkan nak, pasti mereka sudah tidak sabar menunggu kamu," sahut Umi Fatimah.
Alya tertawa ringan. "Iya Umi… permisi ya Umi."
Umi Fatimah memperhatikan Alya yang berjalan ke kelas untuk mengajar.
"Umi…" panggil Ferdi salah satu anak panti yang sudah cukup dewasa.
"Iya ada apa?" sahut Umi Fatimah.
"Ada Pak Rafa menunggu di ruangan Umi" ucap Ferdi.
"Oh iya iya… Umi kesana. Terima kasih ya Ferdi," ucap Umi Fatimah.
__ADS_1
Umi Fatimah pun bergegas ke ruangannya.
Ceklek…
"Assalamualaikum." Umi Fatima masuk ke dalam ruangannya.
"Waalaikumsalam Umi," sahut pria yang disebut Rafa itu, sambil berdiri. Ia menghampiri Umi Fatimah dan mencium punggung tangannya.
"Maaf Umi saya baru sempat kesini lagi," ucap pria itu.
"Tidak apa-apa nak, Umi mengerti kesibukan kamu," sahut Umi.
"Terima kasih Umi."
"Umi, apa saya bisa sudah bisa ikut membantu untuk mengajar?"
"Oh tentu saja bisa nak. Mau sekarang atau nanti," tanya Umi Fatimah.
"Sekarang Umi."
"Baik kalau begitu, ayo Umi antar," ucap Umi.
Mereka berdua berjalan menuju kelas dimana Alya mengajar. Begitu sampai di depan kelas, Umi Fatimah mengetuk pintunya.
Tok… tok… tok…
"Assalamualaikum," Umi memberi salam.
"Waalaikumsalam," sahut Alya yang sedang membagikan buku menggambar. "Sebentar ya anak-anak."
"Iya Bunda…" seru anak-anak bersamaan.
Alya lalu membukakan pintu kelasnya. "Umi… ada apa ya?"
"Umi mau mengantar nak Rafa," jawab Umi.
"Rafa…" Alya tampak mengingat-ingat.
"Yang mau bantu mengajar jiga disini," ucap Umi Fatimah.
"Oh iya Umi saya ingat. Dimana orangnya Umi?" tanya Alya.
"Sebentar tadi pamit ke toilet," sahut Umi. "Nah itu dia nak Rafa," sambung Umi Fatimah.
Alya memperhatikan pria yang berjalan ke arahnya. Wajahnya ia sepertinya kenal, tapi namanya berbeda.
"Anda…" Alya tampak ragu ingin bicara.
"Selamat pagi Bu Alya," sapa pria itu.
"Anda Ibra kan? Kok Umi panggil Anda Rafa?" tanya Alya sedikit kebingungan.
"Rafa nama depan saya Bu. Nama saya Rafasya Ibra Asyaril," ucap Ibra menjelaskan.
"Kemarin Umi mau bilang kalau nak Rafa ini tetangga kamu, tapi tidak sempat nak Alya," timpal Umi Fatimah.
Alya tersenyum canggung, sungguh ia senang ada teman untuk mengajar. Tapi entah mengapa hatinya mulai gelisah.
Masih jelas di ingatan Alya, bagaimana Doni murka ketika mendengar mereka pulang bersama waktu itu.
Dan sekarang mereka bersama dalam satu ruangan. Mengajar bersama. Bisa-bisa ijin yg ia dapat dengan tidak mudah akan dicabut kembali.
"Nak Alya," seru Umi Fatimah membuyarkan lamunan Alya.
"Ah iya mari-mari masuk," ucap Alya mempersilahkan mereka masuk.
__ADS_1