CRUEL MARRIAGE

CRUEL MARRIAGE
Bab 10


__ADS_3

"Anak-anak….!" seru Alya di dalam kelas. Ibra dan Umi Fatimah pun sudah ada di dalam kelas.


Anak-anak yang asik dengan alat gambarnya, teralihkan karena seruan Alya. "Iya Bunda…." Serempak anak-anak menjawab seruan Alya.


"Bunda bawa teman baru nih buat kalian," ucap Alya dengan wajah cerianya.


Ibra sesekali memperhatikan Alya. Batinnya berkata, sungguh berbeda sekali ekspresinya, tidak seperti biasanya.


Sorak gembira anak-anak membuyarkan lamunan Ibra. 


"Siapa…. Siapa Bunda?" tanya Talita.


"Namanya Om… " Alya melirik kearah Ibra. Ia bingung untuk menyebutkan nama, Ibra atau Rafa kah.


Ibra menyadari apa arti dari lirikan Alya. "Ibra…tapi Umi Fatimah selalu panggil Om itu Rafa, jadi kalian bebas panggil Om yang mana aja.


"Kok nama Om ada dua?" tanya Talita.


"Nama Om cuma satu, yaitu Rafasya Ibra Asyaril. Jadi orang tua dan teman-teman Om biasa panggil Ibra. Khusus Umi fatimah panggil Om itu Rafa," kata Ibra mencoba menjelaskan.


"Aku panggil Om ganteng aja ya? Boleh ga?" tanya Talita mengerjapkan matanya.


Ibra tertawa melihat tingkah gadis kecil itu. "Boleh kok."


"Hai Om ganteng," sapa Talita dengan gaya genit.


"Hai cantik," sahut Ibra tertawa. Lagi-lagi Ibra tertawa oleh tingkah gadis kecil itu. 


"Aku...aku juga mau panggil Om ganteng," seru Dava. Dan anak-anak lain pun ikutan berseru ingin memanggil Ibra dengan panggilan Om ganteng.


Setelah sesi perkenalan, Umi Fatimah kembali ke ruangannya. Ibra dan Alya kini mengajar bersama. Seperti biasa Alya akan bernyanyi dan bermain di sela-sela kegiatan belajarnya. Ibra pun ikut apa yang Alya lakukan. 


"Pulang bareng yuk? Rumah kita kan berdekatan," ajak Ibra setelah kelas belajarnya selesai. 


"Terima kasih, saya masih ada urusan di tempat lain," sahut Alya. Ia berbohong demi menghindari Ibra. Ia tidak ingin berbuat kesalahan lagi. "Permisi."


Ibra hanya mengangguk-anggukkan kepala, sambil memperhatikan Alya yang sudah berjalan keluar panti.


'Benar kata Sarah, dia seperti dua orang yang berbeda' batin Ibra.


Lalu Ibra pun pergi dari panti. Ia urungkan niatnya untuk pulang. Ibra kembali ke kantornya.


***


"Widih…. Dari Mana Pak bos?" tanya Anton, yang merupakan sahabat dan sekertaris Ibra.

__ADS_1


"Dari Panti," jawabnya yang langsung mendudukkan dirinya.


"Tumben?"


"Bukannya emang gue biasa ke panti ya? Apanya yang tumben?" Sahut Ibra sambil membuka laptopnya.


"Ya biasanya lu ke panti tuh sabtu minggu, ga hari kerja kaya gini. Mendadak ijin, nge cancel meeting juga sama klien kita lagi" ujar Anton.


Ibra pun baru tersadar, apa yang dikatakan sahabatnya ini benar. Kenapa dirinya bisa seperti itu?


"Ada yang perlu gue urus sama pengurus panti," jawab Ibra berbohong. Tidak mungkin ia jujur sebenarnya ia pergi untuk bisa mengajar bersama Alya. Bisa-bisa ia akan jadi bulan-bulanan sahabatnya. Ibra memang bisa dibilang sangat jarang memiliki hubungan dekat dengan wanita.


"Oia mungkin gue akan sering ke panti. Handle beberapa kerjaan gue di pagi hari ya." ucap Ibra tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


Kecurigaan Anton semakin tinggi. "Ngapain lu? Wah kayaknya ada yang jadi target seorang Rafasya Ibra Asyaril." 


"Buang jauh-jauh imajinasi lu itu. Gue cuma bantu mengajar anak-anak disana." sahut Ibra yang kini tatapan beralih menatap Anton. "Mending lu kerjain tuh laporan yang gue minta tadi pagi."


"Iya… iya deh Pak bos," ucap Anton yang berlalu pergi untuk ke ruangannya.


Ibra membuang nafasnya berat. Ia menyandarkan punggungnya di kursi. Ia sedang bergulat dengan pikirannya.


'aku hanya penasaran karena ucapan Sarah dan luka lebam itu. Ya hanya itu.' gumamnya dalam hati.


Ibra mencoba menampik bahwa ia tertarik dengan wanita bersuami yang merupakan tetangganya. Ia hanya ingin cari tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Alya. Saat bertemu di minimarket beberapa waktu lalu, Ibra sempat melihat luka lebam di pergelangan tangan Alya.


****


Alya menutup pintu taksi yang ia tumpangi setelah sampai di depan rumahnya. Ia terkejut begitu melihat Ibu mertuanya sedang duduk di teras rumahnya.


"Mama." Alya langsung menghampiri Mama Anggraini. Ia mencium punggung tangannya.


"Nggak kok, baru sampai juga," sahutnya.


"Ayo masuk Ma," ucap Alya yang mengajak Ibu mertuanya masuk setelah membuka kunci pintu rumahnya.


Mama Anggraini mendudukan dirinya di sofa ruang tamu begitu mereka masuk. 


"Sebentar ya Ma, aku buatkan teh dulu," ucap Alya. 


"Nggak usah Alya, Mama cuma sebentar kok."


Alya pun terdiam, jika mertuanya hanya mampir sebentar pasti ada sesuatu. Lalu Alya duduk di sebelah Ibu mertuanya.


"Mama ingin bicara, tapi jangan bilang-bilang Doni ya?" 

__ADS_1


Alya mengernyitkan keningnya merasa heran. "Iya Ma, ada apa?"


"Mmm… begini Alya, kalian kan sudah menikah lama tapi belum memiliki anak. Dan kemungkinan besar kamu tidak bisa memberikan keturunan untuk Doni. Bagaimana kalau kamu mengijinkan Doni menikah lagi?"


Alya terkesiap mendengar apa yang diucapkan Ibu mertuanya. "Ma…"


"Alya, Mama mohon," ucap Mama Anggraini sambil menggenggam tangan Alya.


"Maaf Ma, aku tidak bisa melakukan itu. Jika Mama memang bersikeras ingin Mas Doni menikah lagi. Lebih baik Mama bilang langsung ke Mas Doni."


"Alya… kamu harusnya ngerti dong. Doni ga akan mau menikah lagi. Kalau kamu yang meminta pasti dia akan menuruti kamu," ucap Mama Anggraini yang mulai marah.


"Maaf Ma… Alya ga bisa," ucap Alya.


Air matanya mulai jatuh ke pipinya. 


"Kamu jangan egois, Alya! Kamu itu wanita mandul, sampai kapanpun kamu ga akan bisa kasih Doni keturunan. Harusnya kamu sadar diri Alya!"


Rasanya semakin menyakitkan untuk Alya. Meskipun rasa cintanya kepada Doni tidak sebesar dulu lagi. Tapi tetap saja rasanya sulit merelakan suaminya menikah lagi. Dan sekarang ibu mertuanya malah ikut-ikut menghina dirinya. Andaikan mertuanya itu tahu, siapa yang sebenarnya mandul?


"Ma, Alya sadar sampai kapanpun kita mungkin ga bisa kasih keturunan. Tapi dengan Mas Doni menikah lagi itu bukan solusi," ucap Alya berusaha menekan emosinya. Walau bagaimanapun Anggraini itu mertuanya, yang artinya orangtuanya juga bukan.


"Cuma kamu Alya, tidak dengan Doni. Kamu itu Mandul!" bentak Mama Anggraini.


"Mama!" Doni datang dengan langkah panjangnya. Wajahnya sudah memerah. 


"Maksud Mama apa mengatakan itu?" tanya Doni menggeram menahan emosinya.


"Mama cuma minta kerelaan hati Alya, agar kamu menikah lagi Doni. Mama ingin kamu memiliki keturunan." ucap Mama Anggraini.


"Mama keterlaluan! Bagaimana Mama bisa melakukan itu?!"


Alya hanya diam melihat perdebatan suami dan mertuanya. 


"Mama cuma ingin kamu bahagia dan memiliki anak."


"Cukup Ma!.... Aku tidak akan menikah lagi!"


"Doni kamu jangan bodoh. Masa depan kamu itu cemerlang…"


"Cukup Ma! Aku bilang cukup!... Jangan pernah memaksa Alya ataupun Doni lagi tentang rencana gila Mama." Doni sudah tidak sanggup menahan amarahnya.


Mama Anggraini lalu pergi begitu saja. Dia benar-benar marah dengan anak dan menantunya.


Doni mengalihkan pandangan pada Alya yang sejak tadi terdiam. Lalu Doni berlalu pergi ke kamarnya.

__ADS_1


Air Matanya yang sejak tadi di bendungnya kini tumpah juga membasahi pipinya. Alya hanya bisa menangis. Sungguh Alya tidak ingin berada di posisi ini. 


__ADS_2