CRUEL MARRIAGE

CRUEL MARRIAGE
Bab 2


__ADS_3

"Nduk piye kabarmu?" tanya Safitri ibu Alya yang tinggal di kampung. Alya mendapat telepon dari ibunya.


"Kabar Alya baik ibu. Kabar ibu bagaimana?" 


"Alhamdulillah kabar ibu baik nduk." Dibarengi dengan suara kekehan dan batuk-batuk.


"Ibu terdengar sedang ga baik-baik saja," ucap Alya khawatir.


"Beneran nduk ibu baik-baik saja. Ya Sudah ada yang datang minta jimpitan. Assalamualaikum." Safitri langsung memutus panggilannya.


Alya tahu ibunya tidak ingin anaknya khawatir. Pasti ibunya berbohong demi menghindari pertanyaan-pertanyaan Alya. Dan nantinya membuat Alya khawatir.


Tapi Alya bisa merasakan jika ibunya sedang tidak baik-baik saja. Ia memejamkan matanya dan mendekap ponselnya.


"Ya Tuhan jagalah ibuku. Aku bertahan hanya karena ibu," gumam Alya. Air matanya keluar dari salah satu sudut matanya.


Sudah lama Alya tidak menemui ibunya. Bukan karena Alya lupa atau mengabaikan ibunya. Semua karena Doni yang tidak pernah memberikan izin. Setiap kali Alya meminta izin untuk berkunjung ke rumah ibunya. Ada saja alasan agar Alya tidak pergi. Alya tidak bisa berbuat apapun. Apalagi jika teringat wejangan ibunya saat ia menikah dengan Doni.


'Istri itu harus patuh sama suami nduk. Surgamu ada padanya sekarang. Istri harus bisa menjadi pakaian untuk suaminya. Menjaga kehormatannya'


Jadi hingga saat ini Alya hanya bisa meminta tolong pada kerabat dekatnya untuk menjaga ibunya. Safitri tinggal seorang diri di kampungnya semenjak diboyongnya Alya ke kota oleh suaminya. Ayah Alya sudah meninggal sejak ia masih duduk di bangku SMA.


Alya benar-benar menjaga agar ibunya tidak mendengar kabar buruk apapun. Ia teringat betul bagaimana ibunya hampir meregang nyawa karena serangan jantung. Ibunya syok ketika mendengar berita kalau Alya itu mandul. Bagaimana kalau ibunya tahu kalau Alya menjadi korban KDRT suaminya?


****


Alya menurunkan kakinya dari taksi. Ia baru saja tiba di panti asuhan. Sedikit terlambat dari waktu yang ia janjikan dengan kepala panti. Alya butuh waktu agar untuk mengontrol moodnya. Dengan balutan blouse lengan panjang berwarna putih dan roknya yang berwarna coklat. Alya selalu berusaha menggunakan pakaian yang tertutup demi menutupi lebam di tubuhnya. 


Alya berjalan memasuki pekarang panti asuhan. Dan dari arah samping yang terdapat lapangan kecil. Seorang anak kecil berlari ke arahnya.


"Bunda…." teriak Mini.


Alya berlutut menangkap Mini dalam dekapannya. Dengan sedikit meringis karena luka lebamnya tertekan oleh Mini. Tapi sebisa mungkin Alya menutupinya.


Alya merenggangkan dekapannya menatap anak kecil berusia 5 tahun itu. "Loh kok kamu di luar sayang? Ini kan waktunya belajar." Sambil menyematkan anak rambut mini ke telinganya.


"Bu Anne sudah ga mengajar lagi bunda. Jadi aku ga belajar lagi," sahut Mini dengan suara yang menggemaskan.


Alya terkesiap, Ia baru mengetahui hal itu. Sudah hampir 2 minggu Alya tak berkunjung ke panti asuhan.

__ADS_1


"Sejak kapan?" tanya Alya.


"Sudah…" Mini mengetuk-ngetukkan jari di pelipisnya khas gaya orang berpikir. Sungguh menggemaskan. " 4 hari deh kayanya bunda."


"Ya sudah nanti belajar sama bunda ya? Nanti setelah bunda menemui Umi Fatimah. Sekarang kamu main dulu ya." Sambil Alya mengusap-usap puncak kepala Mini.


Gadis kecil bersorak gembira dan langsung berlari menghampiri anak-anak yang lain. Alya tersenyum melihat betapa cerianya mereka. 


Alya berdiri dan beranjak menemui Umi Fatimah. Selain sudah rindu, ia juga ingin minta penjelasan atas berhentinya anne. Umi Fatimah sudah seperti ibu kedua untuknya. 


Alya salah satu donatur yang sering mendatangi panti asuhan milik Umi Fatimah yaitu Panti Asuhan Amanah. 


Panti asuhan adalah tempat penghiburan bagi Alya. Tawa ceria dan keriuhan anak-anak mampu mengalihkan kesedihan Alya.


Tok tok tok


Alya mengetuk pintu ketika ia sudah sampai di depan ruangan umi Fatimah. Terdengar suara yang menyuruhnya masuk.


Alya membuka pintu dan masuk ke ruangan umi Fatimah. Senyum Alya merekah ketika melihat umi Fatimah juga tersenyum.


"Assalamualaikum umi."


"Apa kabar putriku?" tanya umi Fatimah setelah melepas pelukannya. Umi menggenggam kedua tangan Alya.


"Kabarku baik umi. Umi sendiri bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah kabar umi juga baik," jawab umi Fatimah tersenyum. "Ayo kita duduk," sambung umi Fatimah.


Mereka duduk di sofa yang berada di ruangan umi Fatimah.


"Umi apa benar Anne berhenti mengajar disini?" tanya Alya.


Umi Fatimah menghela nafasnya. "Benar Alya. Suaminya dipindah tugaskan keluar kota. Sebagai istri dia harus selalu mendampingi suaminya. Umi tidak mempermasalahkan itu." 


"Lalu apakah sudah ada calon pengajar yang baru?" tanya Alya.


Umi Fatimah menggelengkan kepalanya.


"Sebenarnya aku ingin sekali umi mengajar disini."

__ADS_1


"Ya sudah kamu saja menggantikan Anne," ucap Umi.


Alya menundukkan kepalanya. "Umi kan tau aku itu dilarang bekerja sama mas Doni. Pasti dia ga akan mengijinkan."


Semenjak menikah dengan Doni, ia dilarang bekerja. Usaha butik yang ia kelola pun Alya percayakan kepada sahabatnya. 


"Umi yakin pasti Doni mengijinkan. Percaya sama umi. Coba kamu bicarakan sama Doni," kata umi Fatimah.


Apa yang dikatakan umi ada benarnya. Bukankah Doni adalah orang yang haus akan nama baik. Dengan dirinya menjadi relawan pengajar di panti asuhan pasti membuat namanya jauh lebih dipuji-puji, karena memiliki istri yang baik.


"Baiklah umi nanti akan aku coba," ucap Alya.


"Yasudah umi aku akan menemui anak-anak," sambung Alya. 


"Iya baiklah" sahut umi Fatimah.


****


Mahasiswa banyak berlalu lalang di koridor kampus dimana Doni mengajar. Doni dikenal sebagai salah satu dosen terbaik. Dia cukup disegani dan juga di idolakan. 


Meski usianya cukup matang, namun tidak mengurangi ketampanannya. Tubuhnya yang tinggi dan kulitnya yang tidak terlalu putih. Banyak mahasiswi yang jatuh akan pesonanya. 


"Kamu harus cepat merevisi ini. Saya paling tidak suka ada keterlambatan" ucap Doni tegas pada salah satu mahasiswinya. Ia sedang berada di ruangannya bersama seorang mahasiswi yang sedang bimbingan bernama Vira.


"Baik pak, tapi saya masih kurang mengerti. Apa bapak bisa membantu saya pak?" Vira berbicara dengan gayanya yang lembut namun menggoda. 


Doni menatap Vira tajam. Dia tahu maksud dari mahasiswinya. "Ok… temui saya besok di cafe Prince jam 5 sore. Jangan sampai telat," 


"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu pak," sahut Vira tersenyum puas.


Doni mengangguk dengan tatapan tajamnya. Dia nampak terdiam kemudian tersenyum asimetris. Gadis itu cukup berani. Tidak ada salahnya sesekali menerima tawaran yang menggiurkan.


 


Sebelum merapikan mejanya, Doni menghubungi Alya. Ia ingin memastikan kalau istrinya sudah di rumah.


"Halo sayang, apa kamu sudah pulang?"


"Sudah mas, aku baru akan memasak untuk makan malam," jawab Alya.

__ADS_1


"Baguslah. Aku akan pulang sekarang." Doni langsung mengakhiri panggilannya tanpa menunggu jawaban istrinya. 


__ADS_2