CRUEL MARRIAGE

CRUEL MARRIAGE
Bab 14


__ADS_3

"Dek, Ibu sama Ayah mana? Kok ga keliatan? " tanya Ibra setelah melihat di meja makan hanya ada Sarah. Lalu Ibra mendudukkan dirinya di kursi untuk sarapan. 


Bukannya menjawab Sarah memperhatikan kakaknya yang sudah berpakaian rapi.


"Kakak mau ngantor? " tanya Sarah. 


Cetak… 


Satu sentilan mendarat di kening Sarah. 


"Kakaaaak…. ! Sakit tau," seru Sarah sambil mengusap keningnya yang memanas.


"Kamu tuh di tanya bukannya di jawab malah balik tanya."


"Ibu sama Ayah lagi ambil pesanan belanjaan sayur di warung sayur Bang Agus" jawab Sarah bersungut-sungut. 


"Biasa aja dek, itu bibir ga usah di monyong-monyongin. Ntar ga ada cowok yang naksir kamu." Ledek Ibra sambil mengambil nasi goreng teri buatan Ibu Meri. 


"Au ah… heran deh aku, punya kakak satu-satunya demen banget nganiaya mulu. Dasar jomblo karatan," timpal Sarah.


"Lah kamu juga ga ada sopan-sopannya sama kakak, sembarangan ngatain kakak jomblo karatan. Gini-gini juga kakak tuh jomblo berkualitas," ucap Ibra. 


"Berkualitas kok ga laku-laku." Cibir Sarah. 


Ibra ingin membalas cibiran sang adik namun kedua orang tua mereka datang. 


"Kalian berdua yah udah pada gede kerjaannya berantem mulu," keluh Ayah Rudi sambil menggelengkan kepalanya setelah meletakan belanjaan mereka. 


"Kakak duluan Yah yang mulai." Sarah mencoba membela diri. 


"Sudah…  sudah jangan ribut terus.  Mending kalian bantu Ibu." Ibu Meri mencoba menengahi. 


"Belanjanya banyak banget Bu? Mau ada acara? " tanya Ibra. 


"Kan hari ini giliran pengajian di rumah ibu. Kamu sih sibuk kerja terus, sampai ga tau kegiatan ibunya apa aja, " Jawab Ibu Meri yang kini sudah ikut duduk bersama di ruang makan. 


"Usaha Ibra kan memang lagi mulai berkembang Bu, jadi perlu kerja keras ekstra. Demi masa depan," sahut Ibra. 


"Jangan cuma kerja keras ngembangin usaha aja, tapi kerja keras ngejar jodoh," ucap Ibu Meri. 


"Jodoh kok dikejar Bu? Capeklah." Celetuk Ibra sambil membawa belanjaan Ibunya ke dapur.


"Kamu tuh ya ngeles mulu kalau urusan jodoh." Ibu menghembuskan nafas lelah dan beranjak bangun untuk ke dapur yang disusul juga oleh Ayah Rudi. 

__ADS_1


Ibra hanya tertawa menanggapi Ibunya. 


"Kakak beneran mau kerja? Kasian Ibu ga ada yang bantuin," tanya Sarah sekembalinya Ibra dari dapur.


"Kan ada kamu sama Ayah. Kakak cuma sebentar kok."


"Yakin tetep mau kerja?" tanya Sarah.


"Iyalah," jawab Ibra meyakinkan. 


"Kemarin sih, Ibu minta tolong sama Kak Alya buat bantuin bikin brownies. Pasti sebentar lagi datang, " ucap Sarah dengan santainya sambil kembali menikmati sarapannya. 


Sedangkan Ibra menghentikan makannya mendengar nama Alya disebutkan. 


Sarah tersenyum melihat ekspresi kakaknya itu. 


"Udah sana berangkat kerja, ntar kesiangan lagi," ucap Sarah setelah menghabiskan suapan terakhir sarapannya. Kemudian pergi ke dapur membawa piring kotornya untuk ia cuci sambil tertawa kecil. 


****


Alya kini sedang di supermarket untuk membeli bahan kue. Sebenarnya pikiran Alya saat ini penuh suaminya. Ia yakin suaminya melakukan sesuatu diluar. Ingin sekali Alya mendatangi Grace. Karena dia satu-satunya wanita yang bersama suaminya semalam yang Alya tahu. Tapi Alya teringat dengan janjinya untuk membantu Bu Meri. Maka ia urungkan niatnya itu. 


Seusai berbelanja Alya langsung menuju ke rumah Ibu Meri. Sepanjang perjalanan Alya berusaha menetralkan suasana hatinya. Ini hal yang biasa Alya lakukan demi menutupi apa yang terjadi pada dirinya. 


Sebelum turun dari taksi yang ditumpanginya.  Alya menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya. Dan ia menyematkan senyumnya. 


"Iya Mbak, sama-sama," jawab supir taksi itu sambil menganggukan kepala.


Alya kemudian memasuki halaman rumah Bu Meri yang memang tak berpagar itu.


"Kak Alya…!" seru Sarah dari halaman samping rumahnya.


Alya menoleh dan tersenyum. Sedangkan Sarah menghampiri Alya dengan senyum yang merekah.


"Kirain Kak Alya ga jadi kesini?" tanya Sarah.


"Tadi aku nganterin Mas Doni dulu ke bandara  terus mampir supermarket bentar buat beli bahan kue," jawab Alya sambil menunjukkan belanjaannya.


"Oh gitu… ngapain Kakak repot-repot sih? Kayaknya Ibu udah beli bahan kuenya deh."


"Yaudah ga apa-apa, biar banyak kuenya," ucap Alya. Kemudian mereka tertawa.


"Ayo Kak masuk dulu."

__ADS_1


Alya mengangguk dan berjalan bersama memasuki rumah Bu Meri. Ini bukan yang pertama kalinya Alya datang ke rumah Bu Meri. Sudah beberapa kali Alya membantu Bu Meri untuk kegiatan pengajian dan lainnya. Tapi belum pernah sekalipun bertemu secara langsung. Karena sebelumnya Ibra menetap di Bandung untuk memulai usahanya.


"Loh… kok Kak Ibra udah pulang?" tanya Sarah yang melihat Ibra sedang duduk sambil bekerja di ruang tamu.


"Ga jadi, meetingnya dibatalin sama klien," sahut Ibra yang tetap fokus dengan laptopnya.


"Dibatalin apa ngebatalin?" tanya Sarah, meledek Kakaknya.


"Kamu tuh ya demen banget …." Ibra tidak bisa melanjutkan kata-katanya ketika ia mendongak dan ternyata ada Alya.


Alya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ibra yang masih tidak fokus karena kehadiran Alya hanya terdiam.


"Isshh si Kakak, biasa aja Kak liat istri orang," ucap Sarah menyadarkan Ibra.


Ibra yang merasa canggung karena sikap tadi pura-pura berdehem karena serak. 


"Ah sorry ya… mendadak rasanya tenggorokan serak." Ibra langsung beranjak pergi ke dapur.


"Dih si Kakak makin ga jelas aja deh." celetuk Sarah dan Alya hanya tersenyum. "Ayo kak kita ke dapur,"


Ibra dengan buru-buru mengambil minum setelah sampai dapur dan meminumnya dengan cepat. Tiba-tiba Ibra tersedak air yang baru saja melewati tenggorokannya itu. Ia terkejut dengan Alya dan Sarah yang sudah ada di dapur.


"Hati-hati kalau minum," ucap Alya lalu memberikan sapu tangannya ke Ibra karena Alya tak melihat ada tisu disana. "Pakai ini untuk membersihkan wajah kamu."


"Terima kasih." Ibra mengambil sapu tangan itu dan mengelap wajahnya yang basah itu.


'Ampun Ibra… lu tuh bego banget sih? Kok bisa-bisanya gue bertindak bodoh gini cuma gara-gara ngeliat Alya cantik banget hari ini. Inget Ibra bini orang,' batin Ibra.


"Sama-sama," sahut Alya.


"Kakak tuh kaya bocah tau ga? Minum air putih aja sampe keselek," ucap Sarah.


"Dih ini juga gara-gara kamu. Tiba-tiba ngikutin ke dapur. Bikin kaget aja," 


"Kak kita tuh emang niatnya mau ke dapur. Kak Alya kan mau bantuin ibu bikin kue. Kepedean banget sih?!" ucap Sarah yang tidak terima dengan tuduhan kakaknya.


"Ayo Kak Alya kita siapin bahan buat bikin kue aja. Ga ngurusin si jomblo karatan."


Ibra membulatkan matanya mendengar olokan sang adik.


"Adek kok gitu sih sama Kakak," ucap Ayah Rudi yang hendak mengambil pisau dapur. 


Ibra tersenyum senang akhirnya si adik ditegur ayahnya. 

__ADS_1


"Ibra tuh bukan jomblo karatan dek, tapi bujang lapuk," sambung Ayah Rudi dan berlalu pergi setelah mengambil pisau sambil tertawa kencang.


Sarah pun ikut tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan Alya berusaha menahan tawanya.


__ADS_2