CRUEL MARRIAGE

CRUEL MARRIAGE
Bab 4


__ADS_3

"Americano dingin satu." Doni duduk di depan meja bar yang ada di cafe temannya.


"Ok siap pak," sahut bartender di cafe itu.


"Waah pak dosen, kayaknya lagi bete banget," ucap Rifki sambil menepuk bahu Doni. 


Doni hanya melirik saja, enggan menanggapi. Lalu bartender meletakan kopi pesanan Doni. "Thank you."


"Kenapa lagi lu?" tanya Rifki yang kini sudah duduk disebelahnya.


"Cuma lagi kesel aja." ucap Doni sambil menyesap americano dinginnya.


"Gue tau, mesti masalah bini lu lagi?" 


Doni tersenyum kecut. Rifki yang notabene si pemilik cafe dan menjabat sebagai sahabat Doni ternyata terlalu banyak tahu tentang dirinya. Bagaimana Rifki tidak tahu, kalau hampir setiap Doni bermasalah dengan istrinya selalu datang ke cafenya. 


"Bini lu kan nurut banget tuh. Kenapa lagi sih? Dia ga setuju lu kawin lagi?" tanya Rifki random.


"Sialan lu! Lu kali kawin mulu," umpat Doni.


"Dih lu lupa minggu lalu yang abis gre-pe gre-pe Grace di rumah gue, terus masuk kamar kalau ga kawin, lu ngapain? Latihan vokal?" gerutu Rifki.


Doni tidak menanggapi, ia hanya terus meminum perlahan kopinya.


"Desahannya hampir bikin tetangga gue grebek rumah," sambung Rifki lagi.


Ia ingat betul minggu lalu bagaimana ia bercumbu dengan seorang wanita yang juga sahabatnya. Itu adalah pertama kalinya dia menyentuh wanita selain istrinya. Itu bukanlah disengaja, mereka berdua terpengaruh oleh alkohol. Dan yang membuat dia heran. Grace bersikap biasa saja ketika dia tahu telah terjadi pergumulan antara mereka berdua.


"Grace kemana? Sejak itu gue ga pernah liat," tanya Doni yang baru menyadari sudah lama tidak mendapat kabar Grace.


"Ke Bandung dia, masih ngurusin perceraiannya yang belum beres," sahut Rifki.


Doni kembali terdiam. Dia bukanlah tipe orang yang banyak bicara. Lalu ia mengeluarkan uang dari dompetnya dan diletakan disebelah gelas kopinya.


"Gue balik," ucap Doni beranjak berdiri.


"Cepet banget tumben?" tanya Rifki.


"Besok gue ada kelas pagi," ucap Doni sambil menepuk bahu Rifki lalu berjalan keluar cafe.


***


Tok tok tok


"Masuk aja!" ucao sarah berteriak.

__ADS_1


Ceklek


Muncullah Ibra di balik pintu. Ia berjalan dan duduk di pinggir ranjang adiknya. Sedangkan sarah sedang duduk sibuk dengan buku-bukunya yang berserakan di meja belajarnya.


"Kamu abis belajar apa abis berantakin meja?" tanya Ibra yang melihat kekacauan di meja belajar adiknya.


"Belajarlah kak. Tugasku tuh banyak banget dan jawabannya ga cuma ada satu buku kak," sahut Sarah.


"Belum selesai emangnya dek tugasnya?" tanya Ibra.


"Udah kok kak, tinggal rapihin bukunya aja," ucap sarah setelah merapikan buku terakhirnya dan memasukkannya di rak buku. "Kenapa kak?" Sambung Sarah.


"Kakak agak kepikiran sama istrinya pak Doni," ucap Ibra.


"Waah kakak naksir ya sama kak Alya," seru Sarah.


"Sembarangan kamu." Ibra melempar bantal yang ada di ranjang ke arah Sarah. Lalu dengan sigap Sarah menangkapnya.


"Biasa aja kak, ga usah kesel gitu. Kalau suka ngaku aja," ledek Sarah lagi.


"Nih anak makin ngaco aja."


Sarah langsung tertawa melihat ekspresi kakaknya yang kesal.


"Bukan itu maksud kakak dek, jadi waktu kakak balikin dompetnya Alya, pak Doni tuh kaya nahan kesel gitu. Jadi kakak kepikiran takut pak Doni marah ke Alya," kata Ibra setelah Sarah berhenti ketawa.


"Astaga kamu tuh ya, makin ngaco aja."


"Hahaha… ingat kak itu istri orang. Tunggu dia udah janda baru sikaaat," ucap Sarah.


"Baju kali disikat," ucap Ibra sedikit kesal.


"Tenang aja kak, pak Doni tuh bucin banget sama kak Alya. Jadi ga mungkin dia bertindak yang aneh. Kak Alya ga bisa punya anak aja masih setia," ucap Sarah.


"Hush… jangan sembarangan dek. Belum punya anak bukan berarti ga bisa punya anak." Menurut Ibra rasanya ga pantas membicarakan itu. Apalagi masalah pribadi.


"Kakak tuh ya. Aku ga ngomong sembarangan, orang pak Doni sendiri yang cerita ke pak RT waktu ditanya momongan." 


Ibra terdiam tidak menanggapi. Ia tampak berpikir dalam diamnya.


'apa iya seorang suami sampai tega menceritakan aib istrinya ke orang lain' gumamnya dalam hati.


Sarah berdiri dan mengibas-ngibaskan tangan menyilang tepat di depan wajah Ibra. "Kak… kak Ibra."


Ibra tersadar. "Apa dek?"

__ADS_1


"Yeee kakak malah melamun. Udah sih kak ga usah di lamunin. Doain aja di sepertiga malam. Siapa tau kan kak Alya naksir kakak juga," ucap Sarah random.


"Astagfirullah. Nih anak mulai lagi," ucap Ibra sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanannya.


"Ga apa-apa kak. Aku setuju banget kalau kakak punya istri kak Alya." 


Ibra hanya memutar bolanya malas, sedangkan Sarah hanya terkikik.


"Teganya kamu nyuruh kakak jadi pebinor," ucap Ibra menggelengkan kepala. 


"Ya ga gitu maksud Sarah, kak." Sarah tampak mengingat-ingat. "Aku tuh ngerasa kalau kak Alya itu punya dua sisi yang berbeda. Dia lebih menjaga diri, lebih hati-hati gitu kalau lagi sama suaminya. Sedangkan kalau lagi ga ada suaminya dia bisa lebih lepas berekspresi gitu kak."'


Ibra tampak mencerna apa yang dibicarakan adiknya.


"Jadi mungkin aja pernikahan mereka ga seperti orang-orang bilang. Kalau pernikahan mereka itu harmonis. Pasti ada sesuatu," kata Sarah.


Cetak…


Sebuah sentilan di dahi Sarah. Pelakunya siapa lagi kalau bukan Ibra.


"Kakak sakit tau," ucap Sarah mengadu.


"Itu hukuman buat anak kecil yang sok tau. Itu urusan rumah tangga orang. Ga usah kepo," ucap Ibra.


"Ih siapa yang kepo, orang aku lihat…"


"Masih aja ya nyaut, udah sana tidur. Anak kecil jam segini bukannya tidur malah ngurusin rumah tangga orang," ucap Ibra memotong.


"Dih kakak yang kesini buat ngobrolin kak Alya. Kok aku yang di salahin," ucap Sarah protes.


"Ya udah sana tidur." Ibra beranjak berdiri sambil melempar bantal lagi ke arah Sarah.


"Iiih kakak suka banget sih lempar-lempar bantal!!" teriak Sarah.


Sedangkan Ibra sudah berlari keluar.


"Tuh kan kakak, kebiasaan kalau keluar pintunya ga di tutup!!" teriak Sarah lagi yang melihat pintu kamarny terbuka lebar.


Ibra yang sudah masuk dikamarnya tertawa mendengar teriakan adiknya.


Sarah menutup pintunya lalu kembali naik ke ranjang. Ia merapikan bantalnya lagi kemudian merebahkan dirinya lalu memakai selimutnya


"Tapi seru juga kalau beneran kak Ibra punya istri kak Alya hihihi," gumam Sarah.


"Mudah-mudahkan kak Alya cepat ceraikan suaminya. Aamiin," sambung Sarah berdoa. 

__ADS_1


"Ya ampun Sarah doamu itu loh hihihi." Sarah geli sendiri dengan kelakuannya.


Di kamar sebelah Ibra dia tampak termenung mengingat apa yang di katakan adiknya. Ia yang mengatakan untuk tidak mengurusi urusan orang lain, tapi ia sendiri terus memikirkan itu.


__ADS_2