
Srak… srak… srak…
Sekuat tenaga Alya menyikat lantai kamar mandi yang sebenarnya masih sangat bersih. Sejak kepergian mertuanya dari rumahnya, Doni pun pergi entah kemana.
Alya menyibukkan dirinya dengan membersihkan rumahnya. Padahal rumahnya tidak sama sekali kotor. Ia hanya ingin mengalihkan pikirannya.
Menyapu, mengepel dan bahkan mencuci kembali piring-piring yang belum ia pakai.
Saat ini Alya berada di kamar mandinya. Setelah selesai menyikat lantai kamar mandi Alya membersihkan cermin yang berada di dalam kamar mandi.
Alya menyiram cermin itu dengan air. Kemudian ia mengelapnya dengan kain. Alya menatap pantulan dirinya dalam cermin itu.
"Apakah memang aku pantas mendapatkan perlakuan ini." Alya memejamkan matanya. Air matanya meluncur bebas di pipinya.
Alya benar-benar tidak pernah menceritakan kepada siapapun masalah rumah tangganya.ia menikmati sendiri perih dan luka yang dia alami.
***
"Punya masalah tuh diselesaikan, bukan malah lari. Dosen terkemuka kok lari dari masalah." Celetuk Rifki yang sedang duduk bersama Doni di cafenya.
Doni hanya diam sambil menyesap wine nya. Rifki hanya tersenyum menggelengkan kepala.
"Ke tempat Grace yuk?"
Doni menaikan satu alisnya lalu melirik Rifki. "Ngapain?"
"Ngeronda bang… Ya jengukin dia lah. Lu ga baca chat dia di grup tadi pagi?" Kesal Rifki.
"Ayo." Tanpa pikir panjang lagi Doni langsung mengiyakan. Dan mereka pun beranjak keluar dari cafe.
***
Sesampainya di apartemen Grace, mereka langsung masuk ke dalam. Mereka hafal betul sandi pintu apartemen Grace. Sejak mereka masih kuliah, Grace sudah menempati apartemen itu. Dan sejak saat itu mereka tahu sandi pintu Grace.
"Grace… Grace…" Rifki melangkah masuk dan membuka pintu kamar Grace.
Doni hanya mengekori langkah Rifki.
"Kalian?" Grace terkejut akan kedatangan para sahabatnya itu. Ia yang sejak tadi berbaring mendudukan dirinya.
"Sudah ke dokter?" tanya Doni yang sudah duduk di tepi ranjang Grace.
Grace tersenyum dan menggelengkan kepalanya lemah.
"Sudah tau sakit, bukannya ke dokter." Doni meletakkan telapak tangannya di dahi Grace guna mengetahui panas tubuhnya.
"Ck… sepanas ini dan lu masih belum ke dokter?"
Grace hanya tersenyum kaku menanggapi Doni.
__ADS_1
Rifki sedari tadi memperhatikan foto-foto yang terpajang di kamar Grace.
"Foto mantan udah ga ada aja." Celetukan Rifki membuat Grace dan Doni menoleh.
"Gue emang ga pernah pajang foto dia disini," sahut Grace dan cukup membuat mereka merasa heran.
"Masa sih? Kok bisa?" tanya Rifki yang masih tak percaya. Kini ia mendudukan dirinya di kursi dekat ranjang.
Grace terkekeh. "Selama kami menikah, dia belum pernah sekalipun datang kesini. Jadi gue pikir ga perlu lah pasang foto kita berdua."
Rifki hanya mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan Grace.
"Lu harus ke dokter Grace," ucap Doni.
"Gue ga apa-apa kok. Nanti juga demamnya turun," sahut Grace.
"Eh lu belum ke dokter juga?" tanya Rifki.
"Tadi kan gue udah tanya ke dia. Sibuk ngeliat foto aja sih. Bilangnya mau jenguk," gerutu Doni.
Rifki terbahak dan memukul bahu Doni. "Sekalinya banyak ngomong, gerutu mulu kaya nenek-nenek. Heran gue si Alya bisa betah sama laki modelan kaya lu."
"Sialan," umpat Doni.
Perdebatan mereka berhenti ketika ponsel Rifki berdering. Rifki sedikit menghindar untuk menjawab panggilan teleponnya.
"Grace… lu kenapa?" tanya Doni sedikit panik.
"Kepala gue sakit banget Don," sahut Grace dengan suara lemahnya.
"Lebih baik lu tiduran aja," ucap Doni.
Rifki menghampiri mereka berdua setelah mengakhiri panggilannya. Dan melihat Doni sedang membantu Grace merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Grace kenapa?" tanya Rifki.
"Kepalanya mendadak sakit," jawab Doni setelah selesai merebahkan Grace dan membenarkan selimutnya.
"Mending lu ke dokter deh," ucap Rifki.
"Ga usah, dibawa tidur sebentar juga hilang," sahut Grace dengan suara lemahnya dan matanya yang terpejam.
"Ck… dasar keras kepala,"
"Gue harus balik Don. Nyokap juga lagi ngedrop. Lu gimana?" tanya Rifki.
Doni terdiam dan melihat Grace.
"Gue bakal jagain dia. Lu pulang aja," ucap Doni kemudian.
__ADS_1
"Kalian pulang aja, gue ga apa-apa kok," ucap Grace yang sudah membuka matanya.
"Gue tetep disini sampai keadaan lu membaik," ucap Doni tegas tidak ingin di bantah.
"Ok deh gue balik ya," ucap Rifki menepuk bahu Doni.
"Hati-hati lu. Salam buat tante Riana," sahut Doni.
"Sip, nanti gue sampein." Ucap Rifki.
"Cepet sehat lu," sambung Rifki ke lagi mengusap rambut Grace dan hanya di balas anggukan saja.
Seperginya Rifki dari apartemen Grace. Grace akhirnya tertidur kembali setelah Doni mengkompresnya.
Ia tampak terdiam sambil memandangi wajah Grace. Sahabatnya sejak masa kuliah yang pernah ia nikmati tubuhnya.
Doni pun merebahkan dirinya ke sofa yang berada di kamar itu setelah demam Grace menurun. Ia memutuskan untuk tidur disana tanpa mengabari istrinya.
***
Pagi hari Alya terbangun dengan tubuh yang rasanya teramat lelah. Ia bangun dan terduduk di ranjang. Alya terdiam melihat sisi ranjang dimana biasa Doni tidur. "Dia ga pulang."
Alya mengambil ponselnya dan melihatnya. Dan tidak ada pesan apapun dari suaminya itu. Ia menghembuskan nafasnya berat lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah mandi dan berpakaian Alya menyiapkan sarapan. Mungkin saja nanti suaminya pulang. Tapi nyatanya hingga siang hari Doni tidak pulang. Alya menikmati sarapannya yang kesiangan sendiri, setelah menunggu suaminya yang tak kunjung pulang itu.
Ini bukan pertama kalinya Doni pergi dan tidak pulang. Alya awalnya khawatir akan keadaan suaminya jika tidak pulang ke rumahnya. Entah mengapa sekarang ia merasa biasa saja.
Mungkinkah rasa cintanya sudah benar-benar terkikis karena sikap suaminya itu?
Alya kembali ke kamarnya setelah mencuci piring bekas ia makan dan membersihkan meja makan. Alya akan menyiapkan keperluan suaminya selama di Surabaya nanti.
Hari ini Alya tidak menghubungi ibunya. Suasana hatinya sedang tidak baik. Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir.
***
Doni dan Grace masih terlelap di balik selimut yang sama dengan tubuh mereka yang polos. Pagi tadi terjadi pergulatan panas yang kedua kalinya dilakukan dua orang sahabat itu.
Entah setan apa yang merasuki Grace. Tiba-tiba Grace memagut bibir Doni ketika sedang mengecek keadaannya.
Doni yang yang terkejut dengan serangan Grace yang tiba-tiba hanya diam hingga pagutannya terlepas.
"Jangan gini Grace, gue ga mau ngerusak persahabatan kita," ucap Doni lirih.
"Gue yang pengen Don. Kita bakalan tetap bersahabat kok. Gue janji," ucap Grace kemudian memagut bibir Doni lagi.
Kali ini Doni membalas apa yang dilakukan Grace. Suasana pagi cukup mudah meningkatkan gairah mereka.
Yang awalnya berciuman panas menjadi cumbuan-cumbuan. Dan berakhir ke adegan ranjang yang panas.
__ADS_1