CRUEL MARRIAGE

CRUEL MARRIAGE
Bab 15


__ADS_3

"Bodoh banget sih lu Ibra… bisa-bisanya lu salting sama bini orang," umpat Ibra sambil meremas rambutnya. Setelah kejadian di dapur dia langsung pergi ke kamarnya. Ibra tidak ingin semakin membuat dirinya malu oleh perbuatannya sendiri.


"Ya Tuhan...pesona istri orang kenapa kuat banget sih." Ibra terheran sendiri dengan dirinya. Banyak yang mendekati dia. Gadis cantik, bahkan seksi. Tapi tidak sekalipun ia tertarik.


Kemudian Ibra menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali. Ia mencoba menetralkan hati dan pikirannya.


"Ok Ibra… lu harus bisa stay cool kaya biasanya. Ingat bini orang dan suaminya galak," ucap Ibra bermonolog.


***


Setelah hampir 2 jam kue-kue cantik hasil karya Alya dan Sarah pun jadi. Wanginya yang mengoda menyeruak seisi ruangan rumah Bu Meri.


"Waaah Kuenya harum banget," ucap Bu Meri yang baru datang ke dapur. " Pasti enak nih," sambungnya lagi. 


Alya menggulung lengan bajunya hendak mencuci perabotan yang tadi ia dan Sarah pakai untuk membuat kue.


"Loh, nak Alya tangannya kenapa?" tanya Bu Meri ketika melihat memar di pergelangan tangan Alya.


Alya yang baru menyadari kecerobohannya langsung menutupi dengan memanjangkan kembali lengan bajunya yang sempat ia gulung tadi. Ternyata cengkeraman suaminya membekas lebam di pergelangannya.


"Ga apa-apa Bu. Kayanya gara-gara kepentok tadi pagi," ucap Alya beralasan dengan senyum yang dipaksakan.


Ibra yang kebetulan melewati dapur berhenti mencuri dengar. Dia tampak terdiam dan berbalik kembali ke kamarnya.


"oh begitu," sahut Bu Meri.


"Saya permisi numpang shalat ya Bu."


Alya teringat belum melaksanakan kewajibanya dan sekaligus upaya ia menghindar dari Bu Meri dan Sarah.


"Ya nak silahkan. Mukena nya sudah ada di ruang shalat," Sahut Bu Meri.


"Iya Bu permisi."

__ADS_1


Sedangkan Sarah sejak tadi ia terdiam dan memperhatikan Alya.


'Kaya ada yang di aneh sama Kak Alya. Lebamnya bukan kaya kepentok' gumam Sarah dalam hati.


"Aduuuh Ibu kenapa sih dorong-dorong?" pekik Sarah karena bahunya didorong Ibunya.


"Lagian ngapain kamu malah bengong disitu? Bukannya bantuin Ibu di depan bungkusin nasi kotaknya."


"Siapa yang bengong sih Bu? Lagian Ibu juga ga bilang. Kak Ibra noh suruh turun bantuin bungkusin nasi. Jangan sibuk sama laptop mulu." 


"Dih kamu tuh ya ngiri aja sama Kakak kamu. Ibra udah dari tadi bantu Ibu," sahut Bu Meri.


Sarah hanya bisa nyengir bagai kuda. "Kan Sarah ga tau Bu,"


Bu Meri memutar bola matanya malas dan berlalu pergi dari dapur yang diikuti sarah.


***


Alya telah menyelesaikan ibadahnya lalu keluar dari ruang ibadah.


Alya mendongakkan kepalanya melihat Ibra yang sedang menyodorkan sebuah tube salep.


"Pakai dan simpan salep lebam ini. Kamu kan terlalu sering lebam," kata Ibra.


Alya mengernyitkan keningnya. "Maksudnya?"


Ibra meraih tangan Alya dan meletakan salep itu di genggaman Alya. "Aku harap ga ada lebam lagi di tangan atau bagian tubuh kamu yang lain."


Ibra pergi begitu saja meninggalkan Alya yang sedikit bingung dengan perkataan laki-laki itu.


***


Hari sudah sore, pengajian pun telah usai. Kini Alya tengah bersiap untuk berpamitan pulang. 

__ADS_1


"Bu Meri, Pak Rudi, Sarah saya pamit dulu ya. Sudah sore," ucap Alya.


"Iya nak, ini dibawa ya," sahut Bu Meri sambil memberikan 1 kotak nasi dan 1 kotak kue yang sudah dibungkus dengan plastik.


"Maaf Bu, bukannya maksud saya menolak tapi saya cuma sendirian. Ink kebanyakan," kata Alya yang memang sudah dapat satu bungkus nasi kotak.


"Oh iya saya lupa. Pak Doni kan lagi tugas luar kota."


"Aku anterin ya Kak Alya?," sambung Sarah.


"Ga usah Sarah, kaya jauh aja," sahut Alya sambil tertawa kecil.


" Yasudah kalau gitu saya pamit."


"Iya nak Alya. Hati-hati di jalan. Terima kasih karena sudah membantu istri saya," icap Pak Rudi. 


"Iya Pak Rudi, sama-sama. Assalamualaikum," ucap Alya berpamitan dan berjalan keluar.


"Apa aku ga keliatan ya?" tanya Ibra yang sedari tadi berdiri di belakang Pak Rudi.


Mereka semua menoleh dan menatap Ibra. Lalu mereka tertawa setelah tahu apa maksud pertanyaan.


***


Alya masih berusaha menghubungi suaminya. Sejak suaminya pergi belum ada kabar darinya. Sejak siang tadi selalu saja mengecek ponselnya barangkali ada pesan dari suaminya. Namun nyatanya hingga malam hari tidaka ada telepon atau pesan dari suaminya.


Alya kembali teringat dengan kecurigaannya terhadap suaminya yang sedang bermain api.  Tanda kemerahan di tubuhnya bukan dari dirinya jelas sudah bisa menjadi bukti.


Tapi dengan siapa? Apakah benar dengan sahabatnya atau wanita lain?


Ketika pikirannya sedang berkecamuk, ponselnya berdering. Alya bergegas menjawab panggilan telepon itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya. Berharap itu suaminya.


"Halo... "

__ADS_1


"Halo..." jawab seorang wanita di seberang sana.


__ADS_2