
_____________________________
Spagetti, menu makanan yang pasti dipesan Lia setiap kali Niken mengajaknya makan di lestoran mewah. Mungkin sudah tak terhitung lagi dirinya ditraktir makan enak oleh Niken, sahabatnya.
Dua gadis yang sudah menjalin persahabatan sejak mereka duduk di bangku SMP itu sama-sama memiliki kelebihan masing-masing. Niken Anjani, gadis beruntung yang lahir dari orang tua kaya, wajah cantik bersih, banyak laki-laki yang berharap menjadi kekasihnya. Sedangkan Lia, dia tidak seberuntung Niken, Lia hanya gadis biasa yang tinggal seorang diri di sebuah rumah peninggalan orang tuanya. Dia bersyukur, sejumlah uang peninggalan orang tuanya cukup untuk membiayai Lia sampai perguruan tinggi. Setelah lulus, dia harus bekerja dengan gigih untuk memenuhi kebutuhan karena warisan orang tuanya semakin menipis. Pekerja keras dan mandiri, itulah kelebihan seorang Adelia.
" Pacarmu kapan datang. " Ucap Lia di sela-sela kegiatan makannya.
" Nggak tahu. " Jawab Niken seraya mengedikan bahu. " Katanya sih kalau kerjaannya udah selesai langsung ke sini. " Lanjutnya.
Niken memang berniat mengenalkan kekasihnya pada Lia. Kekasih yang baru dia pacari selama dua bulan. Sebagai sahabat, Niken merasa Lia harus mengenal laki-laki penting dalam hidupnya.
" Aku nggak bisa lama-lama. Kalau pacarmu itu nggak datang sepuluh menit lagi, aku tinggal. " Ucap Lia yang sudah menyelesaikan makannya. Sore ini memang dia berniat ziarah ke makam orang tuanya sebelum pulang ke rumah.
__ADS_1
" Iya iya. " Balas Niken malas. Sudah jadi kebiasaan sahabatnya itu. Lia selalu tidak berminat jika diajak bertemu seseorang. Ada saja alasannya untuk menolak.
Lia memandang Niken sekilas, bukannya dia tidak mau berkenalan dengan kekasih Lia. Tapi ini bukan kali pertama Niken mengajaknya bertemu dengan laki-laki yang dia sebut sebagai kekasihnya. Berkali-kali Niken mengenalkan kekasihnya dan berkali-kali juga sahabatnya itu mengadu putus dengan mereka. Entah sudah berapa banyak deretan mantan Niken yang Lia ketahui.
Lia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam enam belas lebih tiga puluh menit.
" Sepuluh menit. Bahkan sudah lebih. " Menatap wajah sahabatnya dengan maksud memberi tahu waktu menunggunya sudah habis.
" Ayolah Lia. Pasti sebentar lagi dia datang. " Lia memutar bola matanya jengah. Selalu saja mengeluarkan senjata andalannya. Memohon, Lia tidak pernah tega jika Niken sudah memasang wajah memelas seperti itu.
Mereka duduk di dekat jendela, dengan posisi Lia menghadap ke pintu masuk. Sambil menunggu laki-laki yang Niken sebut kekasihnya itu datang, mata Lia memperhatikan setiap orang yang keluar masuk pintu restoran. Sampai satu sosok laki-laki membuatnya terdiam kaku di tempat. Idaman, itulah kata yang muncul dalam benak Lia setiap kali melihatnya. Danu, iya Danu. Laki-laki yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Lia menyukai Danu. Sudah lima tahun semenjak Danu dan keluarganya pindah ke samping rumah Lia. Mereka bertetangga, namun Lia tidak pernah berbincang, atau bertegur sapa dengan laki-laki itu.
Lia merasakan jantungnya berdetak sangat cepat. Apa ini nyata? Laki-laki yang dia sukai berjalan ke arahnya? Semakin dekat, semakin dekat. Sebentar lagi, dan.....
__ADS_1
" Sudah lama? "
" Sayang???? Kamu udah datang? "
Satu, dua, tiga.
Duaarrrr.....
Rasanya seperti ada petir yang menyambar. Dua manusia di depannya tengah berpelukan layaknya sepasang kekasih yang saling bertemu. Terus tadi. Sayang? Tadi Niken memanggil Danu sayang. Jadi, laki-laki yang Niken bilang kekasihnya itu adalah.....
Demi apa, Lia tidak menyangka kalau laki-laki yang dia sukai selama lima tahun ternyata pacar Niken, sahabatnya.
Hah. Belum juga kenalan, sudah patah. Lia, malangnya nasibmu.
__ADS_1
To be continue.....