Danu

Danu
Tujuh


__ADS_3

" Kenapa kau membawaku kemari. " Tanya Lia. Pasalnya Danu membawa Lia masuk ke dalam ruangannya.


Danu tidak langsung menjawab, dia memilih duduk di kursi kerjanya.


" Danu! " Kesal Lia karena Danu seolah tidak mendengar ucapannya.


" Aku tahu ada yang ingin kau bicarakan. " Ucap Danu.


Benar juga, Lia datang kemari kan ingin meminta penjelasan Danu, dan dia memang berniat menemui Danu di ruangannya kan? Kenapa sampai lupa.


" Oke. Aku tidak mau basa-basi. Jelaskan, kau yang membuat aku dan temanku dipecat kan? " Ucap Lia tegas.


Danu tersenyum sinis. " Temanmu itu sudah mendapat gantinya, bahkan lebih baik. " Jawab Danu santai.


" Temanku memang mendapat ganti. Tapi aku tidak. " Bantah Lia. Dia tidak sadar kalau nada bicaranya mulai tinggi.


" Kenapa kau menuduhku yang membuatmu dipecat. Bukannya kau yang tidak kompeten? " Ledek Danu.


Lia menggeram kesal. " Jangan sok pura-pura tidak tahu. Calon suami Kak Selly sudah mencari WO tiga bulan yang lalu dan pernikahan mereka tinggal menghitung hari. Kau sengaja kan melakukan itu? "


" Kau sudah tahu rupanya. " Danu tersenyum tipis. Ternyata tindakannya memancing Lia berhasil. Selama ini Lia selalu menjaga jarak dan menjadi tetangga yang asing, ini pertama kalinya Lia tidak canggung berbicara padanya bahkan sampai bernada tinggi.


" Em.. Sepertinya di kantorku masih ada pekerjaan. Kalau kau mau, aku bisa memberikannya. Ya itung-itung sebagai ganti pekerjaanmu. " Ucapan Danu membuat Lia berpikir. Jadi Danu juga menyiapkan pekerjaan untuknya.

__ADS_1


" Benarkah? " Tanya Lia memastikan. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Kapan lagi mendapat pekerjaan di perusahaan sebesar Perkasa Group.


Danu mengangguk. " Tentu. " Ucapnya.


" Sebagai apa? Kapan aku bisa interview. " Tanya Lia lagi.


" Tidak perlu, kau pasti langsung diterima. Pekerjaan ini cocok untukmu. " Jelas Danu.


Lia menunggu Danu melanjutkan ucapannya.


" Em.. Kau bisa bekerja di sini sebagai... " Danu menggantung ucapannya. " Sebagai office girl. " Lanjutnya disertai kekehan kecil.


Brakkk.....


" Apa salahku, apa kita pernah ada urusan sebelumnya. Apa alasanmu melakukan ini padaku? Aku tahu kau orang kaya, mudah bagimu melakukan ini pada orang kecil sepertiku. " Lia menatap tajam Danu. Kedua telapak tangannya masih menempel di meja kerja Danu.


Lia menarik tangannya dan kembali menegakkan tubuhnya. Tanpa bisa ditahan, setetes air lolos dari ujung matanya.


" Kenapa kau tega melakukan ini. Apa salahku. " Ucapnya lirih.


Melihat Lia yang mulai menangis, Danu berdiri dari duduknya dan menghampiri Lia. Dia tidak menyangka kalau Lia akan menangis. Apa perbuatannya benar-benar keterlaluan?


" Lia..Lia.. Jangan menangis. " Danu berusaha meraih bahu Lia tapi langsung ditepis oleh gadis itu.

__ADS_1


Danu mengacak rambutnya frustasi, bingung harus melakukan apa. Dia tidak pernah menghadapi hal semacam ini sebelumnya. Dengan mantan-mantan pacarnya dia tidak pernah peduli kalau mereka menangis, sekalipun itu menangis karenanya. Tapi sekarang, kenapa dia tidak tega melihat Lia menangis.


" Lia.. Sudah ya sudah.. Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu menangis. " Masih berusaha menenangkan Lia yang mulai tak terkendali menangisnya.


" Tidak bermaksud membuatku menangis bagaimana? Kenyataannya kau yang membuatku menangis. " Teriak Lia. Kalau saja dia tidak menyukai laki-laki itu, mungkin Lia sudah memukul, mencakar, pokoknya melakukan apapun untuk melampiaskan kemarahannya. Sayangnya, hati Lia tidak bisa berbohong kalau dia sangat menyayangi laki-laki itu.


" Iya iya. Aku salah. Aku minta maaf ya? " Ucap Danu dengan penuh kelembutan. Satu lagi, ini bukan Danu. Danu tidak pernah mengucap kata maaf kepada pacar-pacar dia sebelumnya.


" Awas. " Ucap Lia. Dia mendorong pelan Danu agar tidak menghalangi jalannya.


" Lepasin. " Ucap Lia lagi ketika Danu menahan pergelangan tangannya. Danu terpaksa melepas tangan Lia karena tidak mau menyakiti tangan gadis itu.


" Lia. Kau bisa bekerja di sini. Kamu bebas memilih pekerjaan apa yang kau mau. " Teriak Danu ketika Lia sudah sampai di dekat pintu.


" Lebih baik aku jadi pengemis jalanan dari pada harus bekerja di tempatmu. " Balas Lia seraya meraih gagang pintu dan membukanya.


" Tidak Lia. Berhenti di sana. Kau tidak boleh jadi pengemis. " Danu berusaha mengejar Lia. Tapi sebelum kakinya melangkah, ponselnya tiba-tiba berbunyi.


Tertera nama Pak Johan Company. Danu menggenggam ponselnya dengan perasaan kesal. Dia lupa kalau ada meeting dengan Pak Johan pimpinan Perusahaan Company.


Danu menghela nafasnya pelan. " Lia.. Cukup lima tahun aku menunggumu. Sekarang, aku tidak akan pernah melepaskanmu. " Ucapnya penuh keyakinan.


_______

__ADS_1


__ADS_2