Danu

Danu
Tiga


__ADS_3

Lia masih tahu diri untuk tidak mendekati kekasih orang lain, apa lagi orang itu adalah sahabatnya sendiri. Seminggu setelah pertemuannya dengan Danu di restoran, Lia tidak lagi menemui tante Alexa. Bagi Lia, semakin sering bertemu mama dari laki-laki itu, akan sulit baginya melupakan Danu. Lia tidak mau ambil resiko. Danu milik Niken, terlepas Niken serius dengan Danu atau tidak, Danu tetaplah kekasih Niken.


" Tinggi banget gedungnya. " Lia menoleh ke samping. Ragu, Lia menangkap raut ragu dan takut di wajah Sisil, teman kerjanya.


" Are you oke? " Tanya Lia kepada Sisil.


Sisil mengangguk. " Aku hanya takut bertemu pemilik gedung ini. " Jawab Sisil.


Lia menyerngit, tidak biasanya Sisil setidak percaya diri itu ketika bertemu klien. " Apa yang kau takutkan? " Tanyanya.


" Menurut cerita yang aku dengar, pemilik perusahaan ini sangat perfeksionis. Aku takut tawaran kita ditolak. Aku tidak mau bos marah dan kita dipecat. " Jelas Sisil. Nampak jelas wajah pesimisnya.


Lia menghela nafas, dia paham apa yang dirasakan temannya itu. Dia juga pernah mendengar ketegasan dan kengerian pemilik perusahaan Perkasa Group, ya, perusahaan yang akan ditemui mereka siang ini. Perkasa Group akan mengadakan pesta pernikahan. Entah siapa yang menikah, mungkin pemilik perusahaan itu yang akan menikah, dan meminta Perusahaan WO tempat Lia bekerja untuk mengurus segala keperluan pesta pernikahan itu.


Perusahaan WO tempat Lia bekerja hanya perusahaan kecil, mendapat tawaran bekerja sama dengan Perkasa Group, perusahaan terbesar di kota adalah kesempatan yang bagus, tidak boleh disia-siakan. Liona, pemilik perusahan WO tempat Lia bekerja mempercayakan tugas itu kepada dirinya dan Sisil, sebagai karyawan terbaik di perusahaan.


" Kita hanya perlu menunjukan beberapa tema dan konsep yang akan kita tawarkan, atau menerima dan menyanggupi konsep yang mereka minta. " Ucap Lia. Berusaha menumbuhkan kepercayaan diri Sisil, padahal dia sendiri juga merasa takut. Takut gagal.


" Come on. Kita pasti bisa. " Tambah Lia dan menarik tangan Sisil agar segera masuk ke gedung bersamanya.


" Permisi Mbak. " Sapa Lia ketika mereka sudah berada di dalam gedung Perkasa Group dan menemui seorang resepsionis yang ada di sana.

__ADS_1


" Iya. Ada yang bisa saya bantu? " Tanya resepsionis itu dengan ramah.


" Kami dari Liona WO, dan sudah membuat janji dengan... Pemilik perusahan ini. " Jawab Lia, sedikit bingung karena dia tidak tahu nama pemilik Perkasa Group. Sisil yang tahu, hanya saja gadis itu masih sibuk mengatur kegugupannya.


" Sudah ditunggu oleh Tuan Perkasa. Silahkan bisa ke lantai lima puluh, di sana letak ruangan beliau. " Jelas resepsionis itu, tak tertinggal senyum ramah yang sejak tadi diperlihatkan.


" Baik. Terima kasih Mbak. "


Sebelum naik ke lantai lantas, resepsionis itu memberikan kartu akses kepada mereka berdua agar bisa masuk dengan leluasa.


____________________


" Wahh.. Sepertinya ini lantai paling mewah. "


" Iya. Liona WO tidak apa-apanya. " Sahut Sisil menyetujui ucapan Lia.


" Permisi Mbak. Kami dari Liona WO mau bertemu dengan Tuan Perkasa. " Ucap Sisil setelah mereka sampai di dekat ruangan yang mereka yakini adalah ruangan pemilik Perkasa Group, dan perempuan cantik yang ada di hadapan mereka saat ini pasti sekretarisnya.


" Silahkan masuk saja. Tuan Perkasa sudah menunggu. " Jawab sekretaris itu dengan ramah.


" Terima kasih. " Lia dan Sisil segera menuju ke pintu yang akan menghubungkan mereka ke ruangan Tuan Perkasa.

__ADS_1


Tok tok tok.


" Permisi. " Ucap Lia seraya membuka pintu yang menjulang tinggi.


Setelah mendapat sahutan dari dalam, Lia masuk ke ruangan itu. Diikuti Sisil.


" Selamat siang Tuan. Kami dari Liona WO. " Ucap Lia pelan, sambil menatap takut-takut laki-laki yang duduk di kursi dengan posisi membelakangi mereka. Dilihat dari belakang saja Tuan Perkasa memang punya aura menakutkan.


Laki-laki itu tidak langsung menyahut, dia memutar kursinya agar menghadap ke dua perempuan yang menyebut dirinya dari Liona WO.


Lia bersiap untuk menampilkan senyum terbaiknya, tapi? Belum sempat senyum manis terbit di bibirnya, dia dibuat terkejut dengan apa yang ada di hadapannya sekarang.


" Danu???? "


Lia menutup mulutnya dengan telapak tangan karena kelepasan memanggil nama Danu.


" Ma.. Maaf Tuan Perkasa. " Ucapnya.


Lia merutuki kebodohannya karena bersikap tidak sopan dengan klien sepenting Tuan Danu Perkasa. Ya, kenapa dia sampai melupakan hal sepenting itu. Nama lengkap Danu adalah Danu Perkasa. Tapi dia juga tidak menyangka kalau Tuan Perkasa pemilik Perkasa Group adalah Danu Perkasa.


Lalu, untuk apa perusahaan Danu memanggil WO. Apa Danu akan menikah? Dengan siapa? Pacar Danu adalah Niken, dengan siapa lagi kalau bukan Niken. Tapi kenapa Niken tidak bilang kalau dia akan menikah. Biasanya hal sekecil apapun Niken akan bercerita padanya. Lia....? Tamatlah kisah cintamu.

__ADS_1


__ADS_2