
Masih berkutat dengan adonan kue.
" Kau di sini rupanya. "
Lia menjatuhkan sendoknya karena terkejut.
" Huh, mangagetkan saja. " Kesal Lia seraya mengambil kembali sendoknya yang jatuh ke dalam wadah.
Danu berjalan mendekat dan duduk di dekat gadis itu. " Awas, bajumu yang mahal itu bisa kotor terkena adonan kue. " Ledek Lia.
" Apa kau masih marah padaku? " Tanya Danu. Matanya mengikuti gerak tangan Lia yang menuangkan adonan ke dalam cetakan-cetakan kecil.
" Jangan mengajakku bicara. Aku tidak mau ditangkap polisi karena tersandung kasus memukul pemilik Perkasa Group. " Danu terkekeh mendengar ucapan Lia yang ngawur. Jadi gadis gitu berniat memukulnya kalau dia mengajaknya bicara.
" Aku baru saja dari rumahmu, tapi kosong. Ternyata kau ada di sini. " Ucap Danu. Tangannya bergerak menyingkirkan helaian rambut yang menutup sebagian wajah manis Lia.
" Kondisikan tanganmu Tuan. " Lia melirik sinis Danu karena seenaknya menyentuh helaian rambut miliknya.
" Tanganmu terkena adonan, tidak mungkin kau menyingkirkannya sendiri. " Danu menatap lembut gadis yang sudah dia sukai sejak lima tahun terakhir. Gadis yang hanya bisa dia pandangi diam-diam karena sikap gadis itu yang selalu menjaga jarak padanya.
" Ada apa kerumahku. " Tanya Lia ketus.
" Menemui calon istriku. Apa lagi. "
Takkk... Ucapan Danu membuat Lia menjatuhkan sendok sekali lagi.
" Ja.. Jangan bicara sembarangan. " Ucap Lia gugup. Dia mengambil kembali sendoknya.
" Bukannya kau sendiri yang bilang. " Lia menoleh ke kanan kiri, takut ada yang mendengar pembicaraan mereka. Bisa-bisa orang yang mendengar akan mengira dirinyalah yang meminta Danu menjadi calon suaminya.
__ADS_1
" A.. Aku asal bicara saja kemarin. " Lia berusaha membela diri.
" Tapi aku menanggapinya serius. " Jawab Danu. Meski pelan, ada nada ketegasan dalam ucapannya.
" Jangan bercanda. Mau kau kemanakan Niken. Dia sahabatku, awas saja kau berani menyakitinya. " Ancam Lia sambil melakukan gerakan akan memukul kepala Danu menggunakan sendok.
Bukannya takut, Danu malah tertawa kecil.
" Aku sudah putus dengan sahabatmu itu. Jadi sekarang aku jomblo, kau tahu? Ah tidak tidak. Tidak jomblo lagi, sekarang aku sudah punya calon istri. " Ucap Danu lalu mengedipkan sebelah matanya kepada Lia.
Jantung Lia tidak pernah normal kalau berdekatan dengan Danu, apalagi tingkah Danu yang akhir-akhir ini benar-benar menggoda imannya.
" Apa yang kau lakukan. Kenapa putus, kau menghianati Niken? " Tanya Lia setelah menormalkan mimik wajahnya.
" Ck. Justru sahabatmu itu yang menghianatiku. Dia punya pacar lain selain aku. " Lia terdiam mendengar jawaban Danu. Dia sama sekali tidak terkejut, itu memang sifat Niken, selalu mempermainkan hati laki-laki.
Danu semakin mendekatkan dirinya ke Lia. Merangkul pundak gadis itu dari samping.
" Kata siapa aku patah hati. Di dunia ini, kau satu-satunya wanita yang bisa membuatku patah hati. " Bisik Danu di telinga Lia. Laki-laki itu bisa merasakan kalau tubuh gadis di sampingnya menegang.
" Bi.. Bisakah kau menjauh? " Ucap Lia berusaha melepaskan diri dari rangkulan Danu. Cukup susah karena tepalak tangannya terkena adonan.
Bukannya melepaskan, Danu malah meletakan dagunya di pundak gadis itu dengan tangan yang masih merangkulnya dari samping.
" Mama sudah tahu. " Ucap Danu, tidak lagi menempelkan dagu, hidungnya mengendus aroma wangi pundak Lia yang dilapisi kain baju.
" Ta.. Tau apa. " Tanya Lia. Dia benar-benar gugup sekarang. Sikap Danu membuat tubuhnya kaku seketika.
Danu meraih pipi Lia dengan satu tangannya yang tidak merangkul gadis itu. Menolehkan kepala gadis itu agar menghadap ke arahnya.
__ADS_1
Sekaeang, Lia bisa melihat dengan jelas bentuk wajah Danu, karena jarak wajah mereka sangat dekat.
Danu tersenyum manis. " Tahu kalau.. Tetangganya yang cuek dan pemarah ini, sudah membuat putranya yang paling tampan jatuh hati. " Ucap Danu sambil menatap kedua mata gadis di hadapannya.
Lia tidak mampu menjawab. Jantungnya terasa ingin melompat keluar. Jadi itu sebabnya Tante Alexa memberikan seragam keluarga untuknya di hari pernikahan Selly.
Danu mengelus lembut pipi Lia dengan ibu jarinya . Sayangnya, suasana romantis yang tercipta harus pudar karena kehadiran seseorang.
" Ehem. " Danu dan Lia sama-sama menjauhkan tubuhnya.
" Maaf ya kalau kakak ganggu. Kakak cuma mau ambil minum. " Lia menundukan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menoleh ke arah Selly. Ya, seseorang yang tiba-tiba datang adalah Selly, kakaknya Danu.
" Mengganggu saja. " Ucap Danu menatap sinis kakaknya yang dibalas kekehan ringan perempuan itu.
" Lia, bukannya kamu bekerja di wedding organizer ya? " Lia mengangkat kepala mendengar pertanyaan Selly.
" I.. Iya Kak. " Jawab Lia. " Tapi.. Sudah tidak lagi. " Lanjutnya sambil melirik sekilas Danu.
Lirikan Lia terasa seperti sindiran baginya.
" Em. Begitu ya? Boleh nggak kakak minta tolong kamu temenin kakak mengawasi penataan dekor. Kakak yakin kamu lebih paham dari kakak. " Ucap Selly.
Tentu saja Lia mengangguk dengan antusias. Mendekor adalah hobinya sedangkan pemasaran dan marketing adalah keahliannya.
" Mau Kak. " Ucap Lia, lalu berdiri. Berjalan ke arah wastafel, muncuci tangannya lalu menghampiri Selly dan pergi bersama perempuan itu ke luar dapur.
Danu yang ditinggal sendirian di dapur mendengus kesal. " Pasti dia sengaja membawa Lia pergi. " Ucapnya. Dia berdiri dan keluar dari dapur. Untuk apa lama-lama di dapur kalau tidak ada Lia di sana.
__________
__ADS_1