
Foto Adelia (Lia)
___________________
Lia berjalan dengan percaya diri memasuki lobi Perkasa Group. Beruntung sekarang masih jam kerja, jadi tidak banyak karyawan yang barlalu lalang.
" Ada yang bisa saya bantu Dek? " Ucap resepsionis setelah Lia berdiri tepat di hadapan resepsionis itu. Lia bisa melihat keheranan di wajah resepsionis, Lia menyadarinya karena sekarang Lia memakai celana jeans dan kaos berwarna putih, rambutnya dia ikat jadi satu membentuk kucir kuda, tidak lupa tas slempang kecil yang melingkar di tubuhnya. Mungkin karena penampilan Lia yang seperti itu membuat sang resepsionis mengiranya anak remaja.
" Kenapa mirip dengan petugas WO kemarin ya? " Gumam resepsionis itu pelan tapi masih bisa terdengar oleh telinga Lia.
" Saya mau ketemu Mas Danu Mbak. " Ucap Lia. Dia sengaja tidak menggunakan nama Tuan Perkasa supaya respsionis itu percaya bahwa Lia adalah orang terdekat Danu.
" Mas Danu? Oh, Tuan Perkasa. Apa sudah membuat janji? Soalnya Tuan Perkasa setahu saya sedang ada meeting di luar. " Ucap resepsionis.
" Em... Itu.... " Lia bingung harus menjawab apa. Kalau dia bilang belum membuat janji apa nanti diizinkan menunggu? Secara perusahaan Danu sangat ketat.
" Lia!!!! " Belum sempat Lia menjawab pertanyaan resepsionis, Lia dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
" Sisil? " Heran Lia. Kenapa Sisil ada di sini. Apa dia juga mau menuntut Danu karena sudah membuatnya dipecat.
" Sisil, kamu ada di sini? " Tanya Lia.
" Iya. Tadi pagi aku dapat telepon mendadak dari Perkasa Group. Aku ditawari pekerjaan dii bidang marketing. Nggak nyesel deh dipecat dari Liona WO, kalau akhirnya ditawari kerja di sini. " Jelas Sisil. Nampak jelas raut bahagia di wajahnya.
Kenapa bisa kebetulan begitu. Di Liona WO, Lia dan Sisil sebelumnya sama-sama bekerja di bidang marketing, dan sekarang setelah dipecat, Sisil bekerja di bidang yang sama di Perkasa Group. Lia tidak akan lupa kalau penyebab dipecatnya mereka karena Perkasa Group.
__ADS_1
" Ah Lia. Aku duluan ya? Sebentar lagi aku ada wawancara. Kau tahulah, meskipun aku dipanggil, Perkasa Group pasti tidak akan mudahnya menerima karyawan. " Ucap Sisil hendak pamit. Lia mengangguk dan membiarkan temannya itu pergi.
" Ada yang mencurigakan. Tapi, kenapa cuma Sisil yang ditawari pekerjaan. " Gumam Lia pelan.
Lia menoleh ketika ekor matanya menangkap segerombolan orang masuk melalui pintu utama. " Danu? " Ucapnya dalam hati.
Seperti biasa, Danu selalu mempesona setiap kali berjalan, dia memang memiliki wibawa dan karisma yang tidak dimiliki orang lain.
" Sadar Lia, masih sempatnya kamu terpesona setelah laki-laki itu membuatmu dipecat. " Gumam Lia.
Tapi sepertinya Lia kalah, jantungnya semakin berdegup kencang setelah matanya bertemu pandang dengan mata tajam Danu. Danu menyadari kehadiran gadis itu, matanya juga tidak lepas memperhatikan Lia meskipun dia tidak menghentikan langkah kakinya.
" Mas Danu!!!!! " Teriak Lia.
Laki-laki yang usianya empat tahun lebih tua dari Lia itu berhenti. Diikuti ketiga laki-laki yang berdiri di belakang Danu. Mungkin satu dari mereka adalah asisten Danu dan duanya lagi bodyguard. Itu yang ada di pikiran Lia.
" Jaga sikap anda Nona. " Ucap salah satu dari mereka.
" Apa hak kalian menghalangi saya. Awas, minggir. Saya mau bicara sama Mas Danu. " Ucap Lia. Sungguh, dia semakin kesal sekarang. Kalau saja Danu bisa ditemui di rumahnya, dia tidak mau repot-repot datang ke tempat ini. Sayangnya, sudah beberapa bulan terakhir Danu jarang berada di rumah.
Lia memandang Danu dengan tatapan memelas, berharap laki-laki itu mau membantunya. Tapi tunggu, sepertinya Danu sama sekali tidak berniat membantu. Laki-laki itu justru menampilkan senyum miringnya. Seperti menikmati raut kesal yang terpampang di wajah Lia.
Merasa tangannya akan diseret keluar, Lia segera mencari cara agar lolos. " Saya calon istri bos kalian!!!! " Teriak Lia.
Bukan hanya dua bodyguard itu yang terkejut, asisten Danu, resepsionis, dan juga Danu juga terkejut.
Pelan-pelan dua bodyguard itu melepas tangan mereka dari Lia. Mendengar kata calon istri, nyali mereka menciut. Entah gadis itu berbohong atau tidak, mereka tidak mau ambil resiko kalau bosnya marah.
__ADS_1
" Apa anda sedang mengarang Nona? " Tanya bodyguard itu.
Lia gelagapan. " Bagaimana ini, kalau tiba-tiba Danu membantah bagaimana. Mau taruh dimana mukaku. " Gumam Lia dalam hati.
Hening, Lia tidak berani menjawab. Bodohnya kau Lia, kenapa memakai alasan calon istri. Kalau ketahuan berbohong bisa dikira perempuan gila kan?
" Dia memang calon istriku. "
Deg. Apa Lia tidak salah dengar. Itu suara Danu kan?
" Kami akan menikah setelah kakakku menikah. " Lanjut Danu. Karena terkejut, Lia sampai tidak sadar kalau Danu sudah berdiri di dekatnya. " Ayo sayang. " Bulu kuduk Lia merinding merasakan bisikan di telinganya.
Lia hanya mengikuti saja ketika Danu menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan.
" Ke.. Kenapa mereka tidak masuk? " Tanya Lia. Dia bingung kenapa hanya dirinya dan Danu yang masuk ke dalam lift. Sedangkan tiga laki-laki yang tadi bersama Danu menunggu di luar.
" Lift akan sempit kalau untuk berlima. " Ucap Danu sambil menekan tombol.
Pintu lift mulai tertutup. Bagaimana kondisi jantung Lia? Berdua di dalam lift dengan Danu benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Huh, lagian.. Apanya yang sempit, lift ini bahkan masih muat untuk beberapa orang lagi.
Hawa dingin terasa menyelimuti ruangan ini. Lia menunduk, tidak berani melihat apa yang ada di sekitar. Dia merasa seseorang yang berdiri di sampingnya tengah memperhatikannya.
" Pasti dia sedang menertawakan aku karena mengaku-ngaku jadi calon istrinya, atau justru marah? Ah Lia.. Kenapa bodoh sekali sih. " Gumam Lia dalam hati.
Lia memberanikan diri mengangkat kepala dan menoleh ke orang yang ada di sampingnya. Benar kan dugaannya? Danu sedang memperhatikannya.
Lia menahan gejolak hatinya ketika Danu malah menampilkan senyum termanis yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Senyum ini berbeda seperti yang biasa Danu tampilkan. Danu yang dia kenal jarang sekali tersenyum, yang ada hanya pandangan sinis, kadang pandangan heran, kadang tatapan meledek, sekalinya senyum ya senyum miring mirip senyum-senyum penjahat. Tapi sekarang, Lia melihat Danu tersenyum manis padanya. Sungguh, Lia ingin pingsan sekarang juga.
__ADS_1