Deadly Girls Transmigration

Deadly Girls Transmigration
23


__ADS_3

"Baiklah Aku akan pergi keluar sekarang." Ucap permaisuri Xio Lu saat ia sudah selesai bersiap.


Ia melangkahkan kakinya dengan mengendap-endap seperti seorang ninja. Tadi sebelum bersiap, ia sudah memberitahu pelayan Mei-yin kalau ia akan pergi keluar istana malam ini juga dan meminta pelayan Mei-yin untuk mengawasi paviliunnya agar tidak ada orang yang masuk kedalam kediamannya. Jika ada yang mencari permaisuri Xio Lu, maka akan di jawab oleh pelayan Mei-yin. "Yang mulia permaisuri sedang beristirahat dan yang mulia permaisuri berkata sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun." Seperti itulah kalimat yang harus pelayan Mei-yin ucapkan kalau ada orang yang datang.


Cadar yang menutupi sebagian wajahnya membuat semua orang tidak mengenali siapa dirinya. Melewati jalanan ibu kota di malam hari yang dingin karena sedang turun hujan.


"Huizhong, keluarlah! Temani aku, kita akan menemui ketiga sahabatku." Ucap permaisuri Xio Lu kepada siluman pendamping melalui telepati.


"Baiklah." Balas Huizhong Jun, kemudian ia keluar dari ruang dimensi.


Mereka berdua pun akhirnya memilih untuk berteleportasi menuju penginapan yang di tinggali oleh ketiga gadis lainnya, agar mereka tidak kehujanan.



"Xin, bagaimana dengan baju ku? Apa-akhhh..." Pekik Xia He, saat tiba-tiba pintu kamar mereka di dobrak.


Brak


Mendengar pintu yang di dobrak kasar dari luar, Xin Qian segera berdiri dan melempar sebuah suriken, untungnya dengan gerakan cepat Xiu He juga melempar sebuah suriken untuk menghalau lemparan dari Xin Qian.


Sring


"Hei! Hati-hati dengan senjata mu!" Teriak kaget Huizhong Jun yang datang bersama Xio Lu sekaligus selaku orang yang mendobrak pintu kamar itu.


"Siapa suruh main dobrak saja! Aku kira kan penjahat yang mencoba untuk menyusup masuk." Ucap Xin Qian membela dirinya saat ia tau siapa orang datang.


"Untung saja ka Xiu cepat menghentikan suriken yang di lempar Xin, kalau tidak Huizhong Jun pasti sudah tinggal nama tadi." Ucap Xia He.


"Hampir saja jantungku terlepas dari tempatnya!" Ucap Huizhong Jun dengan mengelus dadanya dramatis.


"Aku kemari ingin menemui kalian, di istana sangat membosankan." Jedanya. "Wah, apa itu? Terlihat seperti baju yang kita pakai dulu sewaktu menjalankan misi." Ucap Xio Lu saat ia baru sadar kalau Xia He memakai baju khas seperti yang mereka pakai dahulu di jaman modern.


Melihat arah pandangan Xio Lu, Xia He paham betul apa yang dimaksud sahabatnya itu.


"Ya, ini memang baju yang sama persis seperti yang kita pakai dulu, Xin lah yang meminta madam Qiaofeng untuk membuatkannya untuk kita. Bukan hanya baju ini, Xin juga membuatkan senjata yang sama persis seperti yang kita miliki dahulu. Ini ambilah, ini milikmu." Ucap Xia He lalu ia menyerahkan sebuah baju berwarna hitam polos dengan banyak tali yang menggantung, serta berbagai macam jenis suriken dan dua buah belati kecil.


"Wah, ini benar-benar persis seperti yang aku miliki dulu. Terimakasih Xin Qian karena telah membuatnya untukku." Ucap Xio Lu setelah ia menerima baju dan senjata dari tangan Xia He.


"Sama-sama Xio." Balas Xin Qian tersenyum manis.


"Oh iya, bagaimana dengan pedang milikmu ka? Apakah itu sudah sesuai?"Tanya Xia He kepada kakak kembarnya.

__ADS_1


"Memang sama persis, tapi sedikit berbeda. Tak apa, aku akan tetap memakainya nanti." Jawab Xiu He.


"Hm, baiklah ka." Ucap Xia He menanggapi.


Kemudian mereka semua duduk santai sambil mengobrol di malam hari yang dingin.



Sedangkan di istana, tepatnya di paviliun teratai kediaman milik permaisuri Xio Lu, saat ini sedang di serang oleh segerombolan orang berbaju hitam yang di sebagian wajahnya tertutup sebuah kain berwarna senada dengan baju yang mereka pakai.


Hap


Hap


Hap


Sekitar dua puluh orang pria berbaju hitam terlihat sedang berusaha masuk kedalam paviliun dengan mengendap-endap seperti pencuri.


"Kalian masuklah terlebih dahulu, aku akan memastikan sesuatu sebentar." Ucap salah satu dari segerombolan pria itu.


Kemudian orang itu bergerak menuju belakang kediaman permaisuri Xio Lu.


"Sepertinya disini akan aman." Ucap orang itu, lalu ia juga masuk kedalam paviliun milik permaisuri Xio Lu mengikuti yang lainnya.


Didalam kamar permaisuri Xio Lu.


Ruangan yang gelap karena minimnya pencahayaan disana.


"Dimana wanita itu, kenapa aku tidak bisa melihatnya dengan jelas?" Bisik seorang pria yang merupakan salah satu dari segerombolan orang yang menyusup masuk.


"Sebaiknya kita serang saja langsung wanita itu, pasti dia sedang tidur. Akan sangat mudah membunuhnya jika ia sedang tertidur lelap." Bisik pria lainnya.


Dengan cepat mereka menyerang dan menodongkan senjata kearah peraduan. Namun, mereka tidak menemukan siapapun disana. Diatas peraduan itu tidak ada siapapun, kemana perginya wanita yang mereka jadikan sebagai target untuk mereka bunuh itu? Sial! Mereka tidak boleh gagal, karena misi mereka kali ini adalah misi yang sangat mahal bayarannya! Mereka harus melakukan sesuatu.


"Wanita itu tidak ada disini! Sebaiknya kita semua keluar dari sini." Ucap seorang pria yang di ketahui sebagai ketua dari kelompok orang yang bekerja sebagai pembunuh bayaran itu.


Mendengar ucapan sang ketua, mereka semua keluar dari dalam ruangan itu.


"Bakar kediaman itu, biarkan semua menjadi abu!" Ucap si ketua memerintahkan kepada para bawahannya.


Dengan kekuatan sihir elemen api, kediaman permaisuri Xio Lu terbakar hebat dengan bunyi ledakan yang sangat nyaring.

__ADS_1


Booommm


Setelah itu, para pria pembunuh bayaran itu pergi begitu saja dari sana. Sebelumnya, ketua kelompok pembunuh bayaran itu sudah mengambil kembali sesuatu yang tadi ia simpan di belakang kediaman permaisuri.



Didalam ruangan kerjanya, kaisar Zhaoyang yang sedang sibuk dengan kertas-kertas yang menumpuk di hadapannya pun terkejut bukan main saat ia mendengar suara dentuman nyaring yang berada cukup jauh dari ruang kerjanya itu.


"Suara ledakan apa itu? Tapi suara ledakannya terdengar berasal dari paviliun teratai." Jedanya. "Apa?! Paviliun teratai adalah kediaman milik permaisuri Xio Lu. Aku harus segera kesana!" Ucap kaisar Zhaoyang, lalu ia berjalan dengan terburu-buru menuju paviliun teratai yang merupakan kediaman permaisurinya.


Saat sampai, kaisar Zhaoyang melebarkan matanya terkejut. Sekarang ini, kediaman permaisuri Xio Lu habis terbakar. Seluruh paviliun teratai habis di lahap si jago merah.


Hanya tersisa abu dan puing-puing bangunan yang terlihat. Semua penjaga dan para pelayan yang ada di istana pun berlalu lalang berusaha untuk memadamkan api yang menyala sangat besar.


"Yang mulia permaisuri! Hiks...hiks... Yang mulia!" Teriak pelayan Mei-yin dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.


Melihat pelayan pribadi permaisurinya itu yang sedang menangis tersedu-sedu, kaisar Zhaoyang berjalan mendekat dan bertanya.


"Dimana permaisuri Xio Lu?" Jedanya. "Kenapa kau menangis dan meneriakinya disini? Bukankah seharusnya permaisuri Xio Lu selalu ada bersama denganmu?" Ucap kaisar Zhaoyang datar menahan marah.


"DIMANA PERMAISURI XIO DI!" Teriak kaisar Zhaoyang yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.


Rasa khawatir di hatinya membuat ia tidak sabar ingin mendengar jawaban dari pelayan Mei-yin yang merupakan pelayan pribadi permaisurinya itu.


Mendengar teriakan kaisar Zhaoyang, membuat pelayan Mei-yin bergetar ketakutan, ia langsung bersujud di tanah dan meminta maaf berkali-kali.


"Ma-maaf yang mulia kaisar, hamba tidak tau dimana yang mulia permaisuri berada. Karena hamba tadi di minta oleh yang mulia permaisuri untuk membuatkannya teh hangat. Te-tetapi saat hamba ingin mengantar teh hangat yang di minta oleh yang mulia permaisuri, tiba-tiba saja muncul sebuah ledakan dari dalam kediaman dan hamba sudah berusaha mencari keberadaan yang mulia permaisuri, tetapi hamba sama sekali tidak menemukannya dimana pun." Ucap pelayan Mei-yin dengan panjang lebar menjelaskan situasinya.


Mengepalkan kedua tangannya marah, kaisar Zhaoyang menggeram dan berteriak kencang.


"Ahhkkk!!!" Teriaknya.


Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, kaisar Zhaoyang langsung saja pergi dari sana entah kemana.


Sebenarnya, pelayan Mei-yin dan permaisuri Xio Lu sudah merencanakan semuanya. Karena pada saat permaisuri Xio Lu sebelum pergi dari istana, ia sudah berpesan dan memberitahukan kepada pelayan Mei-yin tentang rencana jahat selir Tingting yang ingin membunuhnya dengan mengirim sekelompok pembunuh bayaran menyerang paviliunnya.


Permaisuri Xio Lu meminta pelayan Mei-yin untuk mengarang cerita dan membiarkan dirinya di anggap menghilang jika semua yang ia dengar saat selir Tingting menemui seseorang di belakang istana itu benar terjadi. Alhasil inilah kejadiannya, paviliun teratai kediaman permaisuri di bakar oleh orang suruhan selir Tingting itu.


Pelayan Mei-yin berdiri dari posisinya yang bersujud di tanah tadi, lalu ia mengusap air matanya perlahan.


"Semoga Xio baik-baik saja." Batin pelayan Mei-yin dengan menghela nafas lega. Lalu ia berbalik dan kembali ke tempat tinggalnya yang terletak di bagian belakang istana.

__ADS_1


__ADS_2