Debora

Debora
Bab 6


__ADS_3

Pagi ini dikediaman Sebastian seperti biasa tidak ada kehidupan, semua penghuni rumah keluar dari kamar dengan kesibukan masing-masing.


Disaat sarapan pun mereka tidak ada waktu untuk saling bersenda gurau. walaupun pagi ini kekurangan satu anggota keluarga yakni Debora, tetapi tidak membuat aktivitas makan mereka terganggu, yang ada di benak mereka semua Debora masih marah akan keputusan ayahnya.


"Siapkan sarapan untuk nona besar yang dikamar, jika dia sakit yang akan kerepotan juga saya" perintah Sebastian sambil berdiri dan berangkat ke perusahaan, lalu disusul oleh bunda dan gilang.


"gilang berangkat bun" ucap gilang pergi menyusul ayahnya.


Widuri pun juga ikut pergi meninggalkan ruang makan tersebut, namun di perjalanan menuju bagasi mobil, ia teringat debora.


"Dimana Debora mbok?" tanya Widuri sambil masuk kedalam dapur


"non Debora masih didalam kamar nyonya" ucap mbok i


tumben nyonya menanyakan anaknya, biasanya dia mah nggak mau tau aja.batin mbok i


Widuri melangkah kan kakinya menyusuri anak tangga menuju kamar debora.


tok tok tok


"de" panggil Widuri

__ADS_1


tok tok tok


"Debora" panggilnya lagi


"Bunda tau kamu marah dengan ayah, tapi setidaknya kamu paham dengan situasi keluarga kita, ayah mu sedang menjalankan sebuah proyek besar, bunda juga sedang menyusun rancangan untuk launching pakaian baru yang hanya menghitung bulan, dan kakak mu gilang. dia sibuk mengurus perusahaan ayah, tanpa usaha dari mereka berdua dan bunda kamu tidak akan bisa menikmati hidup seperti ini, kamu Hanya tinggal menikmati apa yang kami berikan.."


"tolong kamu pahami itu.. turunkan egomu! acara sekolah 2 hari lagi bukan? semua keperluan sudah di urus sekretaris bunda, kamu tinggal pergi bersama kak gilang" setelah mengucapkan kalimat tersebut Widuri pun pergi.


Sedangkan dibalik pintu, Debora berusaha menahan tangisannya supaya tidak terisak, sebenarnya disaat Widuri memanggil dirinya tadi, debora akan membukakan pintu, jarang sekali bundanya mengkhawatirkan dirinya, namun kebahagiaan yang dirasakan hanya sementara, hatinya hancur setelah mendengar tuturan kalimat dari Widuri.


ceklek!


Jika kehadiran aku menyusahkan bagi kalian, aku minta maaf.. mungkin aku bukan anak yang patut dibanggakan di keluarga ini.


"non" panggil mbok i memecahkan lamunannya


"heh si mbok,, iya mbok kenapa"


"itu, mbok cuma mau menyampaikan, makanannya mau dibawain ke kamar atau makan dibawah" tanya mbok i


"mmm letakkan didapur saja deh mbok, kita makan bareng-bareng" ucap Debora sambil berjalan

__ADS_1


kini Debora dan beberapa pelayan di rumah sarapan bersama, namun kali ini mereka memandang Debora berbeda, ada yang aneh dari nona rumahnya kali ini.


"non" ucap uci pelayan di rumahnya


"iya ci kenapa" tanya Debora


"nggak ada non, ci rasa nona pagi ini sedikit berbeda hehe" ucap uci


"nggak kok ci, yaudah yok lanjut sarapan, aku juga mau siap-siap ke sekolah" ucap Debora


Kasihan non Debora, punya keluarga utuh tetapi seperti tidak memiliki keluarga. batin mbok i


Selesai sarapan Debora pun pergi ke kamar untuk siap-siap ke sekolah, sebelum berangkat seperti biasa Debora selalu berpamitan dengan mbok i dan semua pelayan yang ada dirumah nya.


"Mbok dukung Debora ya nanti dengan semua keputusan yang Debora ambil, cuma mbok i yang mengerti apa yang Debora rasain" ucap Debora sambil memeluk erat mbok i


"pasti non, pasti mbok i dukung asalkan keputusan yang non ambil membuat hati non bahagia" ucap mbok i sambil mengusap-usap punggung Debora.


#BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE YA KK 🤍

__ADS_1


__ADS_2