
Happy Reading 😊😊
🌹🌹🌹
“Mawar Hitam?.....”
“Benar ayah, dua kuda besar dan kuat mati sekaligus setelah bagian tubuhnya tertancap Mawar itu”-Chen Tian
“Dimana dia sekarang?”-Tuan Besar Chen
“Setelah kuda-kuda itu mati, angin kencang datang tiba-tiba. Dan dia menghilang setelah di selimuti kabut hitam”-Chen Long
"Apa! Kabut hitam?!" Tuan Besar Chen sangat terkejut ketika mendengar kata Mawar Hitam. Namun ia lebih terkejut lagi mendengar seseorang yang dapat menghilang dengan kabut hitam
Sudah berpuluh-puluh tahun ia mengembara dan membaca buku tentang Kultivator dan Alchemist. Namun belum pernah mendengar kisah Perempuan Berkabut Hitam. Mustahil, pikirnya
"Tapi yang lebih mengherankan, Tuan Besar Zhou dan Tuan Muda Xiao menghampiri gadis itu dan berkata kalau dia adalah orang yang sama. Apa mereka pernah bertemu orang itu, ya?”-Chen Liam
“Kalian panggilkan kakek. Setelah itu jangan menguping pembicaraan kami. Ini sangat-sangat penting, jika kalian menguping satu persatu telinga kalian akan hilang”-Tuan Besar Chen
“B-baik ayah, ka-kami permisi” Ketiga pangeran muda itu terbirit-birit meninggalkan pendopo Klan. Pernah sekali mereka mendapat ancaman sebelum menguping. Dan setelah menguping ancaman itu benar-benar terjadi
Ayah nya sangat misterius. Ia punya sihir-sihir aneh yang rumit dan tidak diketahui mereka. Maka dari itu mereka sudah kapok
__ADS_1
Setelah termenung beberapa saat seorang pria tua dengan rambut sebahu dan janggut yang panjangnya sekilan menghampiri Tuan Besar Chen. Seluruh rambutnya sudah di penuhi uban. Aura yang dikeluarkan nya sangat berwibawa, tegas, dan bijaksana
“Ada apa memanggilku Chen Chi?” Ucap pria tua itu yang tak lain adalah Tuan Tua Chen
“Jadi......”
.....
.....
“Apa?....” Tuan Tua Chen juga sama terkejutnya. Namun bukan terkejut karena penasaran atau pun bingung. Ia terkejut dengan bibirnya yang melengkungkan senyum tipis
“Carikan aku tujuh bunga mawar terbaik. Dan kalau perlu termahal” Ia dengan tiba-tiba menyuruh sang putra. “Untuk apa ayah?”. “Jangan banyak tanya!”
“Dan panggilkan ketiga cucu ku”
“Untuk ap-”
“Jangan banyak bicara!”
“Baik... Baik ayah”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Ketiga pangeran itu duduk dengan kaku. Kedua mata mereka ditutupi kain hitam bercorak merah. Kedua tangan mereka masing-masing memegang mawar hitam. Kakek mereka pun juga duduk dengan satu mawar hitam di tangannya. Namun tidak memakai penutup mata
Didepannya terdapat papan lukis dan kuas juga wadah cat. “Diam dan jangan bergerak” Ucap Tuan Tua Chen. Ketiga cucu-cucu nya semakin kaku di tempat. Kakeknya sangatlah garang
Tuan Tua Chen memejamkan mata. Ia melukis sesuatu acak. Yang lama kelamaan menjadi lukisan seorang perempuan. “Ingat-ingat wajah gadis mawar hitam itu”
Setelah mendapat petunjuk yang jelas dari fikiran ketiga cucunya yang tersalur ke dalam otaknya, dia menggambar wajah dan tubuh Dewi Mawar Hitam
Ia tambah terkejut. Tangannya bergerak dengan sendirinya ketika menggambar bagian wajah
Tubuh dan wajah itu terbentuk sempurna. Ia menjatuhkan palet dan kuasnya. Seluruh tubuhnya bergetar kaku. Kuas itu terangkat di udara menuliskan tulisan kuno di lukisan yang ia buat tadi
Tulisan kuno yang tertulis “Dewi Mawar Hitam” dengan abjad yang rumit
“De....Dewi....” Ia bersimpuh, bersujud di depan lukisan itu. Hampir saja ia menangis
“Dewiii.....”
Sedangkan jauh berkilo-kilo meter disana, seroang gadis duduk bersila. Tersenyum lembut, telapak tangannya terangkat. Angin kencang berhembus menerbangkan gaun dan rambutnya
“Aku datang, Chen.....”
Bisiknya, hingga membuat tubuh Tuan Tua Chen semakin bergetar dan tangisnya semakin terdengar pilu. Ketiga pangeran Chen yang matanya masih tertutup kain merah itu terheran-heran sekaligus waspada takut terjadi apa-apa hingga sang kakek menangis
__ADS_1
“Selamat datang, Dewi....”