
“Papa … Tante Mika!” Pekik Ayesha sambil membungkam mulut dengan telapak tangannya. “Kalian berdua …?”
Sudah hampir satu bulan Mama meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Bukan hanya sedih dan kehilangan, Ayesha juga bingung sekarang. Terkejut, takut, marah. Mengapa begitu cepat Papa berpaling? Begitu mudahnya Papa bermesraan dengan wanita lain? Lagi pula menyapa harus Tante Mika? Apa Papa lupa, kalau dia itu adik kandung semata wayang Mama?
“Tega kalian, jahat!” Rutuk Ayesha sambil memutar badan membelakangi mereka lalu berlari cepat menuju kamar di lantai dua. “Papa jahat, Tante Mika jahat! Aku benci kalian berdua!”
Brak!
Ayesha membanting pintu kamar dengan begitu kerasnya. Amarahnya semakin berkobar-kobar sekarang. Tanah kuburan Mama masih merah dan basah tetapi Papa sudah melupakannya. Mana yang katanya cinta sehidup semati? Mana yang katanya mati rasa?
“Halo, cucu kesayangan Eyang Putri?”
Ayesha membanting tubuh tinggi sesampainya ke tempat tidur. Terpaksa dia menelepon Eyang Putri untuk berbagi rasa. Siapa lagi? Ocha sedang berlibur ke luar negeri sedangkan Sachi sedang sibuk dengan sekolah kepribadiannya di Bali. Kalau sama-sama ada di Jakarta, mereka berdua sahabat yang setia dan baik hati. Bisa menjadi tempat curhat yang paling aman sekaligus pendengar yang budiman. “Halo, Eyang Putri!”
“Lho, cucu kesayangan Eyang Putri kok, sedih gitu, sih?” Eyang Putri melembutkan suara, mencurahkan seluruh perhatian untuk Ayesha. “Sudah dong, Ayesha, jangan sedih terus. Nanti Mama malah ikutan sedih lho, di sana. Ya, jangan sedih lagi ya, Ayesha? Masih ada Eyang Putri, kok.”
Alih-alih menjawab, air mata Ayesha justru semakin deras mengalir. Sampai-sampai napasnya tersengal-sengal. Terbatuk-batuk hebat, nyaris muntah.
“Lho, Ayesha, ada apa …?” Eyang Putri tak mampu menutupi rasa khawatirnya, tentu saja. Jangankan mendengar Ayesha menangis sejadi-jadinya seperti itu, mendengar dia kurang semangat saja sudah kalang kabut setengah mati. “Eyang Putri ke sana ya, besok pagi? Kamu bisa cerita banyak sama Eyang nanti, ya?”
Menyadari apa yang akan terjadi---Papa tidak suka kalau Eyang Putri sering-sering berkunjung ke rumah---sesegera mungkin Ayesha menyusut air mata. Membendung tangis yang sudah berubah menjadi banjir. “Ah, nggak, Eyang Putri. Ayesha nggak apa-apa kok. Ayesha hanya rindu sama Mama, Eyang Putri.”
__ADS_1
Sebetulnya Ayesha ingin sekali menceritakan tentang tragedi yang baru saja dilihatnya di dapur tetapi urung. Rasa-rasanya kurang pas kalau harus membahas masalah yang lain sedangkan Eyang Putri masih sangat sedih akan kehilangan Mama. Ayesha dapat merasakan semuanya, meskipun tidak bertatap muka dengan Eyang Putri. Getaran suaranya tak dapat berdusta lagi.
Eyang Putri menghela napas lega. “Oh, rindu sama Mama? Ya, itu wajar, Ayesha. Eyang Putri juga kangen banget kok, sama mama kamu. Kangen banget. Ya, kita doakan saja ya, Ayesha? Semoga mama kamu diterima di sisi Allah dan diberikan tempat terindah.”
Sesenggukan, Ayesha menjawab, “Aamiin Ya Allah. Iya, Eyang Putri. Semoga Allah sayang sama Mama selalu.”
“Ya, dan Adek Alea juga, ya? Semoga mereka sama-sama bahagia di sana.”
“Aamiin … Ummm, Eyang Putri, Ayesha nggak sedih lagi kok, sekarang. Terpenting Mama dan Adek Alea bahagia. Kebahagiaan mereka kebahagiaan Ayesha juga, Eyang Putri.”
Eyang Putri tersenyum penuh haru. Lebih tepatnya sedih, haru dan bahagia bercampur menjadi satu di ceruk hati terdalamnya. Ibu mana yang rela kehilangan anak tersayangnya? Walaupun Mama meninggal dalam keadaan tenang, tersenyum tulus. Tetap saja hati Eyang Putri tercabik-cabik. Jika boleh meminta, dia rela menjadi penggantinya.
Secara medis Mama mengalami preeklamsia berat. Tim dokter yang menangani sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi nyawa keduanya tak dapat diselamatkan lagi. Mama menghembuskan napas terakhir di meja operasi. Bagaimana lagi? Siapa yang berkuasa menepiskan maut?
Dug!
Sungguh, sekeras itu jantung Ayesha berdetak. Bagaimana bisa dia melupakan tawaran yang seistimewa itu, ya? Minimal dia tidak harus melihat kegilaan Papa dan Tante Mika lagi. Ya, walaupun harus terpisah dari Ocha dan Sachi, sih!
****
Tok, tok, tok!
__ADS_1
“Ayesha, buka pintunya, Ayesha!” Terus dan terus Papa mengetuk pintu kamar Ayesha yang tertutup rapat. Berharap sang Puteri semata wayang segera membuka untuknya. Bagaimanapun, Papa harus memberikan penjelasan bahwa apa yang terjadi di dapur tidak seperti yang mungkin dia pikirkan. “Ayesha, tolong buka pintunya, Sayang! Kita harus bicara.”
Di atas tempat tidur, Ayesha menghapus bersih-bersih air matanya. Menguatkan diri untuk berbicara dengan tenang. Perlahan-lahan, gadis berumur tujuh belas tahun itu turun dari tempat tidur. Berjalan gontai ke pintu. Dalam hati ingin mengajukan banyak pertanyaan kepada Papa namun apalah daya? Ayesha hanya mampu berdiri mematung. Matanya nanar memandang pintu yang tertempel banyak stiker tokoh karakter kesayangannya. Ada Barbie, Masha and the Bear, Doraemon, Kak Ros, Upin & Ipin, Hello Kitty, Pippi si Kaus Kaki Panjang. Ada juga stiker bunga-bunga favorit. Tulip, Sakura, Aster, Lily, Dahlia, Mawar, Kenanga, Kamboja dan Wijaya Kusuma.
"Ayesha, tolong, Sayang!"
"Oh, ummm … !" Ayesha gugup, geragapan. Dia sudah seperti tubuh yang baru saja terisi ruh. "Ya---Yakin, Papa mau nikah sama Tante Mika?"
"Apa, Ayesha?" Papa lebih dari terkejut, berlipat-lipat. Bagaimana bisa Ayesha berpikir sejauh itu? "Nikah? Siapa yang mau nikah, Ayesha? Mama baru saja meninggal!"
"Kalau nggak mau nikah, kenapa pelukan?" Polos, Ayesha melontarkan pertanyaan sambil memukul-mukul pintu. "Kenapa ciuman juga, ha? Hahahaha, Ayesha bukan anak kecil lagi, Papa!"
Papa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Ya tapi itu nggak seperti yang kamu pikirkan, Ayesha. Percayalah sama Papa!"
Ayesha menjauh dari pintu. Berkacak pinggang. Mengacak-ngacak rambut ikal pirang yang panjang sepinggang, meremas-remasnya. "Apa, Ayesha harus percaya sama Papa, Pa? Setelah Papa melupakan Mama begitu saja? Ck! Sudahlah, Pa. Lakukan saja semua yang Papa mau. Toh, Ayesha akan selalu jadi anak kecil kan, di mata Papa? Anak kecil yang nggak tahu apa-apa!"
Brak, brak!
Emosional, Papa menendang pintu. "Jangan kurang ajar ya, kamu, Ayesha? Hargai sedikit papa kamu!"
Reflek, Ayesha tertawa. Cekikikan. Kebingungan di hati kian mencapai puncaknya. Apa yang harus dia hargai dari Papa? Sifat tidak setia atau egoisnya? Ayesha benar-benar tidak mengerti.
__ADS_1
"Sudahlah, Mas. Jangan terlalu diambil hati sikap Ayesha. Namanya juga anak-anak. Nanti kan, dia reda dengan sendirinya." Sama-samar Ayesha mendengar Tanta Ayesha berujar dan itu justru membuatnya meradang. Bukankah Eyang Putri meminta Tante Mika tinggal di sini untuk mengurus rumah dan mereka berdua? Jadi, mengapa malah menggoda Papa dengan bahagianya? Tante macam apa dia? "Yuk, kita lanjutkan ngobar kita, yuk? Ngopi bareng."