
Mbak Nanas menghadap Eyang Putri dengan takutnya. Baru saja mereka pulang dari les berenang, tidak tahu pasti apa yang telah terjadi. Sepanjang yang dia tahu semua aman dan baik-baik saja tetapi bagaimana bisa Eyang Putri terlihat semarah itu?
"Kamu nggak bilang apa-apa sama Ayesha soal Lintang, kan?"
"Nggak, Ndoro Putri. Sama sekali nggak. Saya hanya menjalankan apa yang sudah menjadi tugas dan perkejaan saya, Ndoro Putri."
"Tapi, kenapa tiba-tiba Ayesha minta pulang ke Jakarta? Nggak mungkin kan, kalau bukan karena masalah itu? Kita sama-sama tahu, Ayesha senang tinggal di sini. Dengan sekolah favorit idaman sejuta pelajar tingkat SMA, les-les yang fantastis. Apa masih ada yang kurang?"
Mbak Nanas memberanikan diri untuk menjelaskan permasalahan yang sebenarnya, supaya tidak terjadi miss komunikasi. Selain berbahaya untuk Ayesha bisa juga berbahaya untuk dirinya sendiri. Dipecat, misalnya. Menyeramkan sekali.
"Sebenarnya, Ndoro Pu---"
"Saya memanggil kamu ke sini bukan untuk memberikan alasan dalam bentuk apa pun Nanas. Saya mau kamu membujuk Ayesha supaya tetap tinggal di sini. Terserah, bagaimana caranya. Pokoknya kamu harus berhasil. Kalau nggak, ya, yang jelas di luar sana banyak kok yang siap menggantikan kamu!"
Mbak Nanas bergidik ngeri, apa yang tadi mengisi ruang pemikirannya ternyata benar adanya. Setelah ini bisa saja Eyang Putri memecatnya, sewaktu-waktu. Bom waktu.
"Baik, Ndoro Putri. Saya akan berusaha semaksimal mungkin."
Meskipun tahu bagaimana Ayesha tetapi dia mewajibkan diri untuk terus berjuang hingga tetes darah penghabisan. Pantang menyerah sebelum raga tiada lagi bernyawa.
"Bagus. Saya tunggu kabar menggembirakan dari kamu, nanti malam."
"Ha, nanti malam, Ndoro Putri?"
Eyang Putri mengangguk mantap. "Ya, nanti malam. Setelah makan. Kaku harus sudah melaporkan hasil perjuangan kamu, Nanas."
Mbak Nanas ternganga dengan sempurna. Lupa tentang kewajiban yang baru saja ditetapkan untuk dirinya sendiri. Amnesia.
__ADS_1
"Ya, saya sih, nggak apa-apa kalah kamu keberatan. Sekarang juga saya bisa mendatangkan pengganti ka---"
"Ampun, Ndoro Putri?" Mbak Nanas cepat-cepat memberikan tanggapan, hingga setengah sadar memotong perkataan Eyang Putri. "Saya berjanji, saya pasti berhasil membujuk Ndoro Alit untuk tetap tinggal di sini bersama Ndoro Putri."
Eyang Putri mencebik lalu mengulas senyum tipis usai mengernyitkan kening tanda kalau sedang berpikir super keras. Tanpa mengucapkan secuil kecil kata pun meninggalkan Mbak Nanas yang berdiri mematung di ruang baca. Sekarang, wanita berusia enam puluh enam tahun itu melangkah santai tapi pasti ke kamar Ayesha. Bagaimanapun mereka harus berbicara empat mata dari hati ke hati.
"Ibu … Oh, Ibu!" Panggilan yang lembut dan tulus penuh kerinduan itu menghentikan langkah Eyang Putri. Membuatnya membalikkan badan, memandang penuh kerinduan. "Ibu …!"
***
"Nggak, Mbak Nanas!" Akhirnya setelah sekian menit lamanya, Ayesha membuka suara juga. Memberikan jawaban yang cukup melegakan bagi Mbak Nanas. "Ayesha nggak mungkin pulang kembali ke Jakarta."
Mengingat kenekatan Papa dan Tante Mika membuatnya muak. Sangat muak. Kalaupun Papa harus menikah lagi, misalnya, kenapa harus dengan Tange Mika? Itu saja yang membuatnya tak habis pikir. Gila.
"Oh, Ndoro Alit … Syukurlah kalau begitu. Saya senang sekali, Ndoro Alit. I am very happy."
Mbak Nanas mengangguk mengerti, memandang empatik. Memberikan sebuah senyuman tulus. "Jadi, serius nih, Ndoro Alit nggak jadi pulang ke Jakarta?"
Ayesha mengangguk mantap. Menyimpulkan senyum yang menampakkan lesung manis di pipi kirinya. "Memangnya kenapa, Mbak Nanas, kalau Ayesha pulang ke Jakarta?"
Kikuk, Mbak Nanas menjawab dengan jujur. "Yang jelas, saya bisa kehilangan pekerjaan di sini dalam sekejap mata, Ndoro Alit."
"Ha, apa?" Ayesha tidak mampu menutupi rasa terkejutnya. "Jadi, Eyang Putri mengancam Mbak Nanas?"
Reflek, Mbak Nanas menggeleng-gelengkan kepala. Memasang wajah tenang sekaligus aman. "Di dunia ini segala sesuatu bisa terjadi kan, Ndoro Alit?"
Setuju dengan pendapat Mbak Nanas, Ayesha mengangguk. "Ya, Mbak Nanas. Buktinya Mama dan Adek Alea. Mereka pergi dalam waktu bersamaan, di saat kami bahagia menyambut kelahiran Adek Alea. Salah besar kan, Mbak Nanas, kalau Ayesha bilang Tuhan nggak adil banget? Salah besar juga kan, kalau Ayesha bilang dunia ini kejam?" Tanpa sadar, tangis Ayesha menghujan lebat. Sakit sekali hatinya, mengenang mama dan adek tercinta.
__ADS_1
"Ndoro Alit … Yang sabar ya, yang kuat? Saya percaya ada pelajaran yang sangat berharga di balik musibah ini, Ndoro Alit."
"Apa itu, Mbak Nanas?" Dengan polosnya Ayesha bertanya lalu melanjutkan pertanyaan itu di dalam hati. "Tante Mika merebut posisi Mama? Tidak, tidak! Sampai kapanpun Mama takkan pernah terganti!"
***
Samar-samar, Ayesha mendengar suara khas Ocha dan Sachi di luar sana. Takut kalau ternyata itu hanyalah buah dari halusinasinya, gadis cantik berkulit seputih susu dengan bola mata berwarna biru laut itu melongok ke luar jendela. Seketika, darah dalam jantungn Ayesha berdasar hangat. Benar, itu mereka, Ocha dan Sachi sahabat dekatnya. Walaupun mereka berada di antara Tante Mika yang sudah dengan suksesnya mencabik-cabik hati, tetap saja dia terlonjak gembira.
Detik berikutnya, tanpa berbasa-basi dalam bentuk apa pun pecinta warna peach itu meluncur ke lantai satu rumah mewah Eyang Putri. Dengan segenap perasaan rindu, berlari ke luar, menyambut kedatangan Ocha dan Sachi. Tak peduli lagi bagaimana perasaannya terhadap Tante Mika. Baginya, setelah Mama dan Papa mereka adalah segalanya.
"Ocha, Sachi!"
"Ya ampun, Girl! " Ocha dan Sachi secara otomatis menubruk dan memeluknya. "Kok, nggak ngasih kabar sih, kalau mau pindah sekolah?" Lanjut Ocha dengan roman muka khawatir."
"Iya, Sha. Aku sampai kehilangan banget lho, dengar kamu pindah. Kaget banget pastinya." Timpal Sachi dengan jujur dan apa adanya.
Pelukan hangat mereka terlepas dlsecara alami. Ayesha menyeka rembesan air bening hangat di sudut-sudut matanya. Berusaha mengulas senyum meskipun berat. Tidak tahu mengapa, tiba-tiba kesedihan menyinggahi hati kecilnya. Bayang-bayang Mama kembali menari-nari laut di sana. Begitu juga dengan print out USG Adek Alea. Ayesha kembali berkabut.
"Lho, kok malah sedih gitu sih, Girl?" Ocha menepuk-nepuk sayang pundak Ayesha. "Kan, selalu ada kami buat kamu?"
Sachi mengangguk haru. "Iya, betul, Sha. Yuk, keep smile, yuk?"
Di tempat berdirinya, Ayesha bergeming. Menunduk dalam-dalam, menghalau kesedihan yang kian arogan menguasai.
"Oke, Ocha, Sachi … Tante masuk ke dalam dulu, ya? Kalian, selamat bersenang-senang saja, lah. Ya kan, Ayesha?"
Reflek, Ayesha mengangguk. Melirik marah Tante Mika. Bisa-bisanya bersikap setenang itu setelah semua yang dilakukannya terhadap Papa. "Dasar, pengkhianat!" Batinnya meledak-ledak.
__ADS_1