Di Balik Diamnya Ayesha

Di Balik Diamnya Ayesha
Remote Control


__ADS_3

"Kalau iya, kenapa, Mbak Nanas?" Ayesha mengerucutkan bibir tipisnya. Melambaikan tangan kepada Ocha dan Sachi di layar smartphone. "Bosan tahu, Mbak, diatur-atur terus kayak gini? Memangnya Ayesha robot? Kalau Aysha mau, Ayesha bisa kok, pergi ke toko buku sendiri. Nggak perlu ditemani Mbak Nanas."


"Halo, Girls!" Tanpa menunggu respon apa pun dari Mbak Nanas, Ayesha menyapa sahabat-sahabat dekatnya. Menutup pintu, mengunci sampai maksimal. "Kenzy mana, nih?" 


"Bentar lagi katanya, Girl!" 


"He'emh, katanya dia OTW rumah dari tempat main futsal. Cieeeh, sudah kangen berat ya, Sha?"


Ayesha membela diri dengan tegasnya. "Dih, kenalan juga belum, masa sudah kangen, sih? Pakai berat pula, tuh? Memangnya aku cewek jenis apa, coba?"


Ocha yang semakin asyik dengan permen karetnya, berseloroh, "Ya, kali aja virus rindunya sudah mencuri start? Hahahaha …!"


"Nah, betul itu. Ditambah lagi virus penasaran plus plus plus, hihihihi …!" Timpal Sachi tanpa perasaan berdosa membuat Ayesha tertawa lepas, bebas. Dia tak terganggu sama sekali dengan canda tawa mereka. Sebaliknya, dia justru merasa terhibur. Setidaknya, masih ada mereka yang bisa mengerti bagaimana dirinya. "Siap-saja kita, Cha."


"Oke, Kakak Bos!" Sahut Ocha tak kalah heboh dari Sachi. "Aku siap-siap jadi Pagar Ayu lah, pokoknya, bukan hanya teman video call. Hahahaha, sahabat siaga ya harus gini. Hihi."


"Setuju, setuju!" Sachi terus menimpali dengan riangnya. Full spirit. "Ya, aku juga siap kok, jadi Pagar Ayu tapi …!"


"Tapi, kalau berat badan kamu sudah turun lima belas kilo kan, Chi?" Ayesha menembak langsung sahabatnya yang sedikit berisi tetapi selalu merasa kegendutan itu dengan santainya. "Sudahlah, Chi! Percayalah, kamu tuh nggak over weight. Ya ampun! Lagian, kita ini kan, baru tujuh belas tahun? Nggak masalah kan, bagaimanapun body shape kita? Namanya juga dalam masa pertumbuhan!"


"Eh, halo, Kenzy!" Sumringah, Ocha menerima video call dari laki-laki paling tampan, cerdas, strong dan humble di sekolahnya. "Girls, kenaikan, ini Kenzy!" Katanya setelah berhasil menyambungkan video call dari Kenzy. 


"Halo, Kenzy!" Sachi yang mendahului menyapa. "Aku Sachi, sahabat Ocha yang paling imut, manis, lucu, baik hati tapi nggak som---"


"Jangan dengarkan dia, Kenzy!" Potong Ocha tanpa perasaan sedikit pun. "Semua itu hanya pencitraan, hihihihi …!"


"Ye, gitu?" Protes Sachi tak terima. "Ya ampun! Kenzy kan, bisa melihat semua itu dari layar smartphone dia?" 

__ADS_1


"Oh, iya. Kamu anak baik, kok. Senang kenalan sama kamu." Sopan, penuh wibawa, Kenzy merespon Sachi yang menggebu-gebu. Melemparkan senyum tulus untuk semua. 


"Nah, apa kataku?" Kepala Sachi membesar secara otomatis. 


"Kenzy, yang dari tadi diam tapi salah tingkah itu namanya Ayesha." Lagi dan lagi Ocha membercandai Ayesha. "Nama panjangnya Ayesha Tazkiya. Umur tujuh belas tahun, sekolah di SMA Puteri Indonesia Yogyakarta. Untuk hobi, habbit, pet, cita-cita dan lain-lain, kamu bisa tanya langsung sama orangnya. Tenang saja, santai, enjoy … Ayesha anaknya baik banget, kok. Kamu nggak bakalan digigit atau apa pun itu  yang membuat cidera pas kenalan nanti. Hihi. Hihi."


***


Sudah sepuluh menit Mbak Nanas menunggu di samping mobil tetapi Ayesha belum keluar juga. Gemas sekali rasanya, geregetan tetapi tak bisa berbuat apa-apa, tentu saja. Gadis pemilik tahi lalat kecil di pucuk dagu berbentuk daun sirih itu, sudah wanti-wanti supaya dia menunggu di sana. Jangan sampai menjemput ke kamar dalam bentuk apa pun. Titik. 


"Halo, selamat sore, Ndoro Jeng Laksmi!" Kikuk, sedikit gugup, Mbak Namas mengangkat telepon Bude Laksmi yang hampir mati lantaran Ayesha tak kunjung datang. Tadi, menolak waktu mau dijemput Pakde Haryo. Katanya mau berangkat sendiri, bersama Pak Tardi dan Mbak Nanas. "Maaf, ini kami baru mau berangkat. Ndoro Alit belum selesai ganti bajunya."


"Oh, syukurlah kalau begitu, Mbak Nanas. Baik, baik. Kami tunggu, ya?" Walaupun tidak bisa dikatakan sepenuhnya, Bude Laksmi menjadi lega di sini. "Hati-hati di jalan ya, Mbak Nanas?" 


"Baik, Ndoro Jeng Laksmi. Terima kasih. Maaf, jika telah merepotkan."


"Oh, nggak. Nggak merepotkan sama sekali, kok. Kami senang Ayesha mau datang ke rumah." 


"Oalah, Lintang, Lintang!" Bude Laksmi benar-benar prihatin. "Lha wong, mau ketemu sama Ayesha kok, malah begini? Kamu kenapa ta, Lintang? Nggak suka ketemu sama Ayesha?"


"Nggak gitu lho, Bu!" Pakde Haryo mewakili Lintang menanggapi perkataan Bude Laksmi. "Ini namanya demam cinta, hahahaha …!"


"Ah, Romo. Aku beneran sakit ini, lho. Kok, malah dieledekin? Nggak asyik!"


Bude Laksmi tertawa lirih antara sayang dan merasa lucu dengan kondisi Mas Lintang. "Sudah, sudah. Romomu hanya bercanda, Lintang. Ini, diminum dulu teh jahenya, biar enakan badan kamu."


"Lagian, kamu tuh ya lucu kok, Lintang!" Pakde Haryo membantunya duduk. "Tampang dingin, tak acuh tapi mau ketemu sama cewek saja kok ya, tumbang? Nggak sesuai gitu lho, menurut Romo."

__ADS_1


***


"Apa, Mika?" Eyang Putei lebih dari terkejut, berkali-kali lipat. "Jadi, selama ini kamu tinggal di rumah Vino?" 


Tante Mika mengangguk pasrah. Tak mampu lagi dia menyembunyikan fakta ini dari Eyang Putri. Jangankan bersembunyi, untuk menghindar pun sudah tak memungkinkan lagi. Tertangkap basah.


"Ya Tuhan, Mika!" 


"Maaf, Bu. Selama ini aku nggak jujur sama Ibu."


"Hemmm, Mika?" 


"Ya, waktu itu, kan … Ya, Mas Vino sendiri lho Bu, yang minta aku tinggal di sana. Ngurusin rumah sama Ayesha. Ibu juga dukung aku waktu itu, kan?" 


Sampai di sini Eyang Putri hanya bisa meneguk sesal. Tak terbersit sedikit pun dalam benaknya kalau akan seperti ini kejadiannya. 


"Bu!"


"Ya, Mika. Waktu itu Ibu juga malah senang kamu ada di sana. Ada yang ngurusin Ayesha. Paling nggak ada yang masak buat dia. Ada yang antar jemput juga."


Tante Mika mengangguk-anggukkan kepala. "Lha terus, masalahnya di mana, Bu? Aku nggak salah apa-apa kan, Bu? Maksudku, mungkin Ayesha masih patah hati, Bu. Kehilangan Mbak Ayumi kan, bukan sesuatu yang ringan, Bu. Sakit banget pa---"


"Lha itu, kamu tahu!" Eyang Putri menunjuk kening Tante Mika. Terlihat jelas betapa Eyang Putri kecewa sekaligus marah terhadapnya. Tidak habis pikir, bagaimana bisa Tante Mika justru bersikap kekanak-kanakan? 


"Hehe … Iya, Bu. Aku minta maaf."


"Untuk?"

__ADS_1


"Ya, itu … Berantem sama Ayesha kemarin. Sungguh lho, Bu, aku nggak sengaja buat nampar dia. Itu tuh, emosi sesaat saja, Bu. Percaya sama aku."


Eyang Putri mencebik. Memandang tajam dan dalam. "Jujur saja lah, Mika! Nggak mungkin Ayesha bersikap nggak sopan kayak gitu kalau kamu nggak buat masalah sama dia." 


__ADS_2