Di Balik Diamnya Ayesha

Di Balik Diamnya Ayesha
Jangan Tenggelam


__ADS_3

Ayesha menggedikkan bahu. "Entahlah, Mas Lintang. Eyang Putri orangnya pembersih banget. Jangankan buku kucing, sebutir debu pun tak boleh menempel di lantai rumah." 


Bukannya prihatin atau bagaimana, Mas Lintang justru tertawa lepas. 


"Ye, malah diketawain. Tahu gitu, nggak usah cerita tadi." Ayesha mengerucutkan bibir. Memeluk Moli dengan gemasnya. 


"Sorry, Ayesha!" Tanpa sengaja Mas Lintang menyentuh pundaknya. "Aku nggak bermaksud ngetawain kamu, kok. Habis, kamu lucu banget, sih." 


Ayesha memutar mata jengkel. "Ah, masa, sih?"


Mas Lintang mengangguk. Dalam hati membatin bingung, "Belum pernah aku sehangat ini sama cewek. Belum pernah juga sampai bercanda, tertawa. Aneh! Tadi kan, aku sempat kena demam panggung sebelum Ayesha datang, kenapa sekarang malah begini? Hangat, dekat begitu saja. Kayak yang sudah sama-sama saja?"


"Aku sih nggak percaya!" 


"Ya sudah kalau nggak percaya, yang penting aku sudah mengatakan yang sejujurnya." Mas Lintang menghempaskan tubuh di samping tempat tidur Moli, berseberangan dengan Ayesha. "Kamu tuh lucu, Ayesha. Cantik, menarik, sexy, cerdas, baik hati, mempesona seperti bidadari turun dari khayangan."


Kalau tadi Ayesha merasa tersinggung lantaran Mas Lintang tertawa tadi, sekarang justru Ayesha yang tertawa. Terpingkal-pingkal, terjungkal-jungkal. Dia menyangka Mas Lintang sedang hilang ingatan, minimal  terperangkap dalam ruang halusinasi. 


"Lah, kok malah ketawa?" 


"Impas kan, Mas Lintang?"


"Aku serius, Ayesha!" Dengan tegas, penuh dengan penekanan ketika menyebut nama Ayesha, Mas Lintang mengungkapkan perasaannya. "You are beautiful, you are beautiful and I love you!"


"Bullshit,  big  bullshit!" Bantah Ayesha dengan lirih, lembut, merdu namun tegas. Sangat tegas, sambil mengembalikan  Moli ke tempat tidurnya. "I don't trust you!"


"Ayesha, tunggu!" Gegas, Mas Lintang menyusul Ayesha yang seketika berjalan cepat, setengah berlari keluar dari kamarnya. "Ayesha!"


Gadis yang sebenarnya masih patah hati atas meninggalnya Mama itu, berlari cepat ke tangga. Berderap turun sambil mengerjap-ngerjapkan mata, menahan tangis. Ayesha paling tidak suka dengan laki-laki yang suka memuji-muji dirinya. Siapa pun itu dan apa pun niatnya, Ayesha tetap tidak suka. Kecuali Papa dan Om Jethro---adik kandung Papa---tentu saja.


"Lho, ada apa, Ayesha?" Spontan, Bude Laksmi berdiri dari sofa, diikuti oleh Pakde Haryo dan Mbak Nanas. "Mana Mas Lintang?"


Ayesha menarik tangan Mbak Nanas, sebagai isyarat mengajak pulang. Tak peduli lagi dirinya dengan ekspresi syok Bude Laksmi terutama dan Pakde Haryo. Toh, bukan dia yang membuat masalah.

__ADS_1


"Ka--Kami permisi pulang, Ndoro Jeng Laksmi. Mari, Ndoro Mas Haryo!"


"Tunggu!" Mas Lintang yang sudah sampai di pangkal tangga berseru khawatir. "Ayesha, tunggu!" Serunya lagi sambil berjalan cepat mendekati Ayesha dan Mbak Nanas di depan pintu. "Aku minta maaf, Ayesha. Aku benar-benar minta maaf."


***


Di Jakarta, Papa semakin resah dan gelisah. Kalut, takut. Ayesha masih mendiamkannya. Tak pernah menerima video call, voice cal ataupun call dirinya. Jangankan itu, pesan di chat room dan short message pun tak ada yang dibaca. Rasanya Papa benar-benar hampa sekarang. Tak ada lagi Mama, Ayesha pun malah menjatuhkan pilihan di Yogyakarta. Semakin bingung, apa yang harus dia lakukan?


Ting, tooong! 


Suara bel pintu yang sangat nyaring sungguh mengejutkan. Memberai seluruh kenangan bersama Mama dan Ayesha dalam segala cerita. Penuh warna, suka maupun duka.


Ting, tooong!


Sembari mengingat-ingat ada janji dengan siapa dia pagi ini, Papa berjalan cepat ke pintu utama melewati gang dalam rumah. 


"Oh, hai, Mika!"


"Hai, Mas Vino!"


Papa melepaskan diri dari pelukan Tante Mika. "Jangan gila kamu, Mika!" 


"Nggak dong, Mas. Aku kan hanya mengungkapkan rasa kangen saja. Masa nggak boleh?"


"Ya, seharusnya memang nggak boleh, Mika. Kita bukan suami istri, kita juga bukan pacar. Bukan tunangan."


Tante Mika memasang wajah terluka parah atas kata-kata Papa. "Jadi, gimana sama yang itu?"


"Itu, apa?"


"Yang kita  sama-sama bahagia dapur?"


Papa mengabaikan tangan setengah marah. "Ah, lupakan yang itu, Mika. Anggap saja tak pernah terjadi apa-apa. Ya, anggap saja kita sama-sama sedang bermimpi, mengigau atau bahkan mabuk. Kita sama-sama tak sadar lalu terjadilah itu. Simple, kan?"

__ADS_1


"Apa, Mas Vino?"


Papa mengangkat bahu pasrah. "Kamu yang memulai, bukan aku. Jadi, jangan pernah salahkan aku, kalau terjadi apa-apa sama kamu, oke?"


Plaaakkk!


Dengan perasaan yang tercabik-cabik, Tante Mika mendaratkan tamparan super keras di wajah Papa hingga meninggalkan bekas tangan. "Dasar, laki-laki brengsek, egois! Maunya dapat enaknya saja, laknat!"


"Pergi, pergi kamu dari rumah saya!" Tersulut emosi, Papa mengusir Tante Mika tanpa ampun lagi. "Pergi dan jangan pernah kembali!"


Tante Mika bergeming. Secepat mungkin memasang wajah memelas, menghiba. Dia bahkan menjatuhkan diri di kaki Papa, memohon siapa Papa membatalkan pengusirannya. Tanpa berkata-kata, Tante Mika mencium punggung kaki Papa. 


"Ah, pergi, Mika!" Suara Papa berubah menjadi dorongan yang sangat kuat, tekanan yang sangat besar. "Saya tak perlu cucuran air mata kamu!"


Air mata Tante Mika berjatuhan, membasahi punggung kaki Papa. "Aku mohon, Mas Vino, jangan usir aku!"


***


Sesegera mungkin Eyang Putri menghubungi Bude Laksmi, demi melihat Ayesha yang pulang dalam keadaan tak senang hati. Perasaannya sudah bercampur aduk menjadi satu sekarang, sudah lebih kalis dari adonan donat kentang. Bagaimana bisa mereka membuat Ayesha menangis sedih seperti itu? Eyang Putri merasa, Ayesha sangat kecewa.


"Aduh, kami mohon maaf, Bulik Sekar." Ucap Bude Laksmi antara takut dan khawatir. Bingung juga, karena tidak tahu masalah yang sesungguhnya. "Kami mohon maaf sekali. Emmm, tadi Lintang ngajak Ayesha home tour lalu tiba-tiba Ayesha kembali ke ruang tamu sambil menangis. Mengajak pulang Mbak Nanas, Bulik Sekar. Aduh, sampai sekarang ini saya juga belum tahu apa yang terjadi. Lintang belum mau diajak bicara, Bulik Sekar."


"Hem!" Eyang Putri hanya berdeham sebagai pertanda tidak percaya dengan penjelasan Bude Laksmi. "Lha, terus gimana? Cucu saya sampai mengurung diri di kamar ini, lho!"


Bude Laksmi jelas syok mendengar berita itu. Tidak menyangka kalau masalahnya akan menjadi sebesar ini. Seperti kobaran api yang dikirim minyak tanah. 


"Kalian harus bertanggung jawab lho, kalau sampai terjadi apa-apa sama cucu saya!"


"Lho, ya nggak bisa gitu ta, Bulik Sekar. Saya yakin, ini hanya masalah kesalahpahaman saja, Bulik Sekar. Kita kan, keluarga. Mari, kita selesaikan masalah ini dengan cara kekeluargaan yang baik."


"Hem!" Lagi, Eyang Putri berdeham lalu diam hingga beberapa saat lamanya.


"Halo, Bulik Sekar?"

__ADS_1


"Ya. Saya mau tanya, sebetulnya kalian serius nggak mau menjodohkan Lintang sama cuaca semata wayang kesayangan saya? Kalau tidak serius, saya bisa batalkan sekarang juga!"


__ADS_2