
Ayesha baru selesai berganti pakaian ketika Mbak Nanas memberi tahu kalau Mas Lintang dan keluarganya sudah datang. Tentu saja Ayesha terkejut, seingatnya kakak sepupunya itu akan datang sendiri. Mengingat-ingat sampai dahi berkeringat pun tetap saja seperti itu. Apa Eyang Putri sengaja menyembunyikan rencana ini darinya? Ayesha menjadi bingung sekaligus takut. Jangan-jangan dirinya sudah terjatuh ke dalam sebuah jebakan. Jebakan Eyang Putri.
"Ummm, Ayesha sisir rambut dulu ya, Mbak Nanas?"
Mbak Nanas mengacungkan ibu jari. "OK, Ndoro Alit. Ada yang perlu saya bantu?"
Ayesha menggeleng cepat. "Ah, nggak kok, Mbak Nanas. Hanya sisir rambut saja, kok."
"Ha, hanya sisir rambut saja?" Mbak Nanas terbelalak. "Ndoro Alit nggak pakai bedak? Nggak pakai lipgloss juga? Pakailah, tipis-tipis biar kelihatan lebih segar!"
Ayesha tertawa kecil sambil terus menyisir rambutnya. "Ayesha nggak suka pakai lipgloss, Mbak Nanas. Kesannya tuh kayak kilat-kilat. Hihihihi … Terus nggak enak juga kalau buat makan. Nggak nyaman."
"Bedak, bedak?"
Sambil mengangguk, Ayesha menyempurnakan sesi menyisir rambut. Menyematkan bando kupu-kupu di puncak kepala, memastikan letak si Bando estetik dengan memandang serius ke dalam kaca cermin.
"Oh, syukurlah!" Ungkap Mbak Nanas jujur mengubah tawa kecil Ayesha menjadi cekikikan. Mbak Nanas sampai gemas oleh karenanya.
"Mbak Nanas!"
"Ya, saya, Ndoro Alit?"
"Kenapa sih, Mas Lintang harus datang sama keluarganya? Kata Eyang Putri hanya Mas Lintang saja?" Di sini Ayesha memasang wajah cemberut. Kecewa.
"Ya, saya juga nggak tahu, Ndoro Alit. Ndoro Putri nggak ngasih tahu. Ya, mungkin biar Ndoro Alit kenal sama keluarga Ndoro Mas Lintang."
Ayesha lupa-lupa ingat, siapa keluarga Mas Lintang? Maklum, bisa dikatakan sangat jarang berkunjung ke rumah Eyang Putri. Hanya pada saat libur sekolah, itu pun waktu masih kecil dulu. Mama - Papa bukan tipikal penyuka liburan atau sejenisnya. Mereka kaum workaholic yang tak perlu diragukan lagi kredibilitasnya. Sebagai anak, bagaimana mungkin memberontak? Ayesha memilih menempati zona aman, tentu saja. Toh, ada Ocha dan Sachi yang selalu ready on untuknya. Apa lagi?
"Lho, Ayesha kan, memang sudah kenal, Mbak Nanas? Dulu, Ayesha sering ke rumah mereka, kok. Di Pugeran, kan?"
Mbak Nanas mengangguk. Takjub juga dengan Ayesha. Terlihat tak peduli, tak acuh tetapi ternyata tidak. Buktinya, masih mau mengingat kenangannya bersama Mas Lintang sekeluarga.
__ADS_1
"Bude Laksmi, Pakde Haryo?"
Pakde Haryo kakak sepupu Mama dari Eyang Putri.
"Nah, benar. Aduh, aduh … So sweet!"
"So sweet?" Ayesha menatap bingung. "Apanya yang so sweet, Mbak Nanas? Orang sama Mas Lintang saja Ayesha anti, kok. Dia kan, dulunya, suka banget ngetapel Ayesha pakai jambu biji mentah. Bayangkan, Mbak Nanas, betapa sakitnya! Mana kena kepala lagi?"
***
Papa kacau balau malam ini. Tante Mika bergeming. Jangankan pergi jauh dari rumah ini, beranjak dari sisinya pun tidak sama sekali. Tidak tahu apa yang telah merasukinya.
"Mas!" Mesra, untuk yang ke sekian kalinya, Tante Mika memanggil. "Mas Vino!"
Tak secuil kecil kata pun terucap dari mulut Papa. Benaknya sudah lebih kacau dari bangkai kapal Titanic sekarang. Bagaimana bisa dia terperangkap ke dalam kebinalan Tante Mika? Jelas, dia adik kandung Mama!
"Mas, jangan gini dong, Mas. Aku nggak kuat, Mas. Aku nggak kuat!"
Papa mengangkat kedua bahu. Mata elangnya mulai tergenang tangis oleh karena bayang-bayang Mama singgah. Tersenyum tulus yang terlihat cantik. Secantik Bidadari yang ada di Mangaa.
"Terserah!" Dengan ketegasan super Papa memangkas perkataannya.
Sementara itu Tante Mika tidak mundur sama sekali. Prinsipnya, kali ini harus berhasil membujuk Papa. Minimal mau memberikan tumpangan di rumah ini dan maksimal mau menikahinya. Turun ranjang. "Aku serius lho, Mas. Aku beneran belum cari rumah kontrakan baru, nih."
"Bukan urusanku!"
"Tapi, Mas Vino?" Tante Mika terus merangsek maju. Mengerahkan seluruh kekuatan jiwa dan raga, untuk mendapatkan simpati dari Papa. Sungguh, Tante Mika takkan sanggup jika harus melanjutkan hidup tanpa Papa. Papa adalah cinta mati baginya. Itulah mengapa belum menikah sampai sekarang, menunggu Papa menjadi duda. Pucuk dicinta ulam pun tiba, semesta memberikan dukungan secara mutlak. Tante Mika tak mau kehilangan kesempatan emas itu, tentu saja. "Kamu harus tanggng jawab dong, Mas!"
Papa menepiskan tangan Tante Mika yang berusaha merangkul dari belakang. "Tanggung jawab apa?"
"Ya Tuhan, Mas Vino!"
__ADS_1
"Apa, ah? Jangan macam-macam kamu, Mika, jangan buat yang nggak-nggak!"
"Ya, masa kamu gitu sih, Mas? Mau menikmati nangkanya tapi nggak mau kena getahnya? Sudahlah, Mas, nggak perlu sok idealis lagi. Hidup ini hanya satu kali, kita nikmati saja setiap ritmenya!"
***
"Hai, Ayesha!" Mas Lintang mendahului menyapa dengan ramahnya. Hangat, dengan senyum tampan menawan pengusaha muda itu mengulurkan tangan ke arahnya. "Wah, lama nggak ketemu, sudah besar juga kamu, ya? Cantik!"
Kikuk, malu bercampur takut, Ayesha menyalami Mas Lintang. "Hai, Mas Lintang."
"Oh ya, maaf ya, kemarin aku nggak bisa ikut melayat."
Waktu Mama meninggal dunia, Mas Lintang sedang ada pekerjaan di Singapura.
"Aku ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya." Lanjut Mas Lintang sambil mempererat jabat tangannya pada Ayesha. "Semoga Bulik Ayumi diterima di sisi Allah dan diberikan Surga terindah."
"Aamiin." Ayesha memberikan tanggapan dengan sopan. Kalau soal itu, pendidikan Mama dan Papa di rumah tak perlu diragukan lagi. "Makasih."
Mas Lintang yang pada dasarnya sedingin es meleleh seketika, selayaknya hamparan es yang tersiram sinar matahari. Senyum yang baru saja dikembangkan Ayesha benar-benar manis, membuatnya terpesona. Sampai-sampai lupa, kalau mereka masih berjabat tangan.
"Oh, maaf … Maaf, Ayesha!" Malu-malu, Mas Lintang melepaskan tangan Ayesha.
Ayesha menunduk, melemparkan senyum tipis.
"Nah, Ayesha, kasih salam Bude sama Pakde!" Titah Eyang Putri lembut namun tegas, berwibawa. "Sudah lama sekali kan, kalian nggak ketemu? Terakhir ketemu …?"
"Waktu Ayesha ulang tahun ke tujuh, Bulik Sekar." Kata Bude Laksmi sambil mengulurkan tangan, menyalami Ayesha. Detik berikutnya, wanita paruh baya yang cantik alami itu menubruk dan memelunya. "Oh, Ayesha! Kamu yang sabar ya, Nduk? Benar, kamu sekolah di sini saja. Bude senang, Bude senang."
"Ya, Ayesha, Pakde juga senang. Kamu nggak perlu takut, Ayesha. Selain eyang putrimu, kamu juga punya Bude, Pakde dan Mas Lintang sekarang."
Mendengar semua itu, air mata Ayesha semakin deras menggerimis. Kesedihan dan kehilangan akan Mama kembali terasa tajam, mencabik-cabik hati.
__ADS_1
"Benar, Ayesha. Tak perlu takut. Ada kami untuk kamu. Ya, jangan sedih lagi, ya?" Mas Lintang menepuk-nepuk sayang pundak Ayesha. Dalam hati, sesuatu yang baru telah mengkudeta hidupnya. Sepertinya dia harus segera berbicara dengan orangtuanya dan memberikan keputusan atas tawaran yang mereka berikan. Sesuatu yang selama ini dia idam-idamkan telah ada di depan mata.
"A---Ayesha hanya mau Mama kembali. Ayesha belum siap kehilangan Mama seperti ini."