
Papa memandang Ayesha bingung. Berjuta pertanyaan muncul dari alam bawah sadar, membuatnya pusing tujuh keliling. "Kamu yakin, Ayesha?"
Ayesha mengangguk mantap, tersenyum penuh kemerdekaan.
"Maksud Papa, apa nggak masalah kalau harus LDR sama Papa? Kita belum pernah berjauhan lho, Ayesha. Kita selalu bersama, kan?"
Bagaimana mungkin dengan begitu mudahnya dia menerima tawaran Eyang Putri? Bagaimana dengan Ocha dan Sachi, dua sahabat dekatnya yang sudah seperti anak triplets? Terutama sekolahnya. Yakin, dia mau pindah ke sekolah umum? Apa itu bukan berarti Ayesha harus bekerja super keras untuk menyesuaikan diri? Belum lagi Tante Mika, untuk apa dia di sini?
Papa menduga ada yang tidak beres di sini. Seluruh dunia pun tahu, bagaimana dekatnya mereka berdua sebelum ini. Ayesha dan Papa tak ubahnya bumi dengan rotasinya.
"Iya kan, Ayesha?"
Ayesha menggeleng-gelengkan kepala, bersedekap erat-erat lalu mengalihkan pandangan dari Papa. Setelah siap untuk mengatakan semua tentang isi hatinya, Ayesha mengembalikan pandangan tajam dan dalamnya. "Sejak Mama meninggal, Ayesha sudah siap dengan segala resiko yang ada, Papa. Termasuk jika harus terpisah dari Papa. Ya, Papa kan, bisa juga sewaktu-waktu meninggalkan Ayesha. Ummm, dengan alasan menikah lagi, misalnya?"
"Ayesha, please …!" Papa menggaruk-garuk dahi yang tidak gatal sama sekali. Perasaannya sudah mulai terganggu sekarang. "Semua itu nggak semudah yang kamu bayangkan, Ayesha. Kita harus mengurus dan menyelesaikan banyak hal. Ayo dong, came on …!"
"Eyang Putri sudah bilang sama Ayesha, Pa, Mbak Nanas yang akan mengurus semuanya."
Mbak Nanas itu asisten pribadi Eyang Putri.
"Jadi, Papa nggak perlu khawatir."
"Tapi, Ayesha, siapa yang temani Papa di rumah?" Tanpa berpikir panjang Papa mengajukan pertanyaan itu. "Mama sudah nggak ada. Terus, kamu malah mau pindah. Ini nggak sesederhana yang kamu pikirkan, Ayesha, tolonglah!"
"Kan, sudah ada Tante Mika?" Ayesha memutar bola mata bulat besar cokelat almond-nya dengan sempurna. "Jadi, Papa nggak akan kesepian lagi meskipun tanpa Mama dan Ayesha."
***
Yogyakarta International Airport, 14 Mei 2022
Eyang Putri dan Mbak Nanas menjemput Ayesha. Keduanya terlihat cerah ceria bak langit pagi di musim kemarau. Terutama Eyang Putri. Sejak berangkat dari rumah tadi, senyum tulus terkulum manis di bibir yang dipoles lipstik berwarna merah saga. Menambah aura kecantikan di wajah tuanya.
"Jak berapa pesawatnya mendarat, Nas?" Tanya Eyang Putri penuh harap sambil melihat ke sana ke mari mencari Ayesha. "Kita belum terlambat, kan?"
__ADS_1
"Belum, Ndoro Putri. Sepuluh menit lagi pesawat Ndoro Alit mendarat. Di jadwal penerbangannya sih, begitu, Ndoro Putri. Semoga on time."
"Ya. Semoga."
Mbak Nanas menyimpulkan senyuman. Dengan sigap memeriksa kembali flight schedule Ayesha di smartphone. Benar, sepuluh menit lagi.
"Kita langsung ke arrive room, Ndoro Putri?"
Eyang Putri hanya mengangguk. Tanpa senyuman. Tiba-tiba saja ingtannya melayang ke dua bulan yang lalu ketika Mama video call.
"Bu, sebenarnya aku pingin banget lho, pulang ke Jogja!"
"Lho, kenapa ta Nduk, ada apa?" Tanggap Eyang Putri dengan tenangnya. "Memangnya kamu ada masalah sama Vino? Ya, kalau ada masalah, mbok dibicarakan baik-baik. Jangan dikit-dikit pulang, ah! Nggak baik, Ayumi."
Mama tertawa kecil. Apa yang dipikirkan Eyang Putri itu terlalu jauh. "Nggak, Bu. Kami baik-baik saja, nggak ada masalah apa-apa. Tapi kok, rasanya kangen banget ya, Bu? Pingin deket sama Ibu terus."
Giliran Eyang Putri yang tertawa kecil. "Oh, begitu? Lha, memangnya nggak apa-apa kalau kamu pulang? Terus, gimana sama sekolah Ayesha?"
"Oh, kalau gitu ya, dengan senang hati." Cakap Eyang Putri gembira. "Tapi Vino gimana, Ayumi? Nanti kalau dia nggak setuju gimana?"
Mama terdiam. Papa memang misterius, terlalu sulit untuk ditebak, bahkan. Wajah bisa saja berhiaskan senyuman tetapi di dalam hati? Hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Pernah dulu, waktu Mama mendapatkan tawaran pekerjaan di perusahaan Om Yuda, Papa tidak setuju tetapi wajahnya terlihat senang. Ketika Mama mau berangkat bekerja di hari pertama tahu-tahu menampar wajahnya. Tanpa tanda-tanda apa pun tentu saja.
"Bu, aku kangen, Bu. Aku pingin deket terus sama Ibu." Mama benar-benar memelas, memohon supaya Eyang Putri bisa membantunya. "Seminggu saja, Bu, mumpung kandunganku baru tujuh bulan."
"Ya, ya. Tapi kalau Vino nggak kasih izin juga, kamu nggak boleh maksa, ya? Ingat lho, kamu itu milik Vino sepenuhnya, bukan milik Ibu lagi."
"Ya, Bu." Mama menyahut singkat sebelum menambahkan, "Terima kasih banyak ya, Bu?"
"Eyang Putri!" Seruan Ayesha memberai ingatannya tentang Mama. Memaksa untuk fokus pada Ayesha yang melambaikan tangan dengan riangnya di tempat pengambilan bagasi. "Eyang Putri, Mbak Nanas! Tunggu Ayesha, ya?"
***
__ADS_1
Tante Mika sudah selesai berganti pakaian di kamar. Hari ini dia mengenakan gaun blue tosca pendek se lutut dengan pita dasi di krah bagian depan. Dia juga menambahkan bros bunga dahlia berwarna silver di atas dada sebelah kiri, supaya terlihat lebih manis dan elegan.
Sekarang dia menyisir rambut pendek di bawah telinga yang dicat cokelat bulu kuda. Membelah tengah dengan sangat hati-hati, menyematkan jepit rambut pita sewarna dengan bros. Detik berikutnya, Tante Mika membersihkan wajah dengan sigapnya lalu menyelesaikan misi berdandan kilat. Memakai penyegar, pelembab, alas bedak, menyaputkan bedak padat kuning langsat ke seluruh wajah dan leher. Terakhir, memoles bibir tipisnya dengan lipstik ungu muda.
Sempurna!
Itu yang Tante Mika rasakan sekarang. Tidak tahu mengapa, Tante Mika merasa hari ini dia terlihat lebih cantik dari hari-hari biasa. Apakah ini efek jomblo yang berkepanjangan? Maybe yes maybe no!
Usai berdandan, secepat kilat, Tante Mika turun ke lantai satu, menemui Papa. Sayang, Papa masih berendam di bathtub, menikmati sentuhan busa sabun dan air hangat. Papa benar-benar penat.
"Mas Vino!" Sapa Tante Mika sambil mengetuk pintu kamar mandi. "Masih lama?"
"Emmm, ya!"
"Oke! Aku tunggu di ruang makan, ya? Kita sarapan sama-sama, aku sudah pesan makanan tadi."
Berbeda dengan Mama, Tante Mika tidak suka memasak walaupun sebenarnya bisa. Dia lebih suka membeli makanan di luar, jajan atau wisata kuliner. Memasak hanya menguras waktu dan energi baginya.
"Ya!"
"Eh, kamu nggak apa-apa kan, Mas? Kok, malah em ya em ya, gitu?
Tak ada sahutan. Papa sedang memejamkan mata, menahan arus bayang-bayang Mama yang terus menari dengan indahnya dalam benak. Tak pelak, dalam perasaan hancur, Ir matanya menggerimis juga.
Tok, tok, tok!
"Mas, Mas Vino! Are you OK?"
Tiba-tiba saja, tanpa bisa dicegah, Papa meledak. Selayaknya bom waktu yang sudah mencapai angka satu.
Duaaarrr!
"Pergi kamu, Mika! Pergi kamu dari rumah ini! Aku nggak butuh kamu, aku hanya butuh Ayumi. Pergi, pergi kamu!"
__ADS_1