
Ditemani Tante Mika, Ocha dan Sachi berangkat ke Yogyakarta menjenguk Ayesha. Betapa terkejutnya mereka ketika tahu tentang kepindahan si Sahabat Manis ke sana. Aneh juga mereka rasa. Bukankah Jakarta dengan segala warna dan ceritanya sudah menjadi istana?
"Kenapa sih, Tante, Ayesha pakai acara pindah sekolah segala?" Ocha yang mengawali protes harusnya bertepatan dengan waktu take off pesawat yang mereka tumpangi. "Ya ampun! Mana nggak kabar apa-apa lagi, ugh!"
"Iya, Tante!" Sachi yang sedari tadi sibuk mengepang rambut menimpali. "Kami kan, kehilangan banget jadinya?"
"Ya, Tante juga nggak tahu!" Akhirnya Tante Mika buka suara. "Nanti, kalian tanya langsung saja ya, sama Ayesha?"
Baik Ocha maupun Sachi sama-sama memasang wajah cemberut. Sedangkan Tante Mika dengan santainya mengalihkan pandangan jauh ke luar jendela. Baginya kepindahan Ayesha sama sekali tidak memberikan efek negatif. Justru sebaliknya, dia bisa melancarkan bujuk rayu kepada Papa. Setiap hari, full dua puluh empat jam hingga akhirnya kalah, angkat tangan tinggi-tinggi. Tante Mika yakin seratus persen akan hal itu.
"Ayesha nggak tahu kalau kita mau datang kan, Tante?" Ocha mengatur suara supaya terdengar lebih menyenangkan. "Kami mau ngasih surprise soalnya."
"Surprise …!" Sachi mengacungkan kedua ibu jarinya setelah memasang wajah ceria. "Trarara …!"
Tante Mika mengkonfirmasi bahwa kedatangan mereka ini merupakan sebuah rahasia. Dia juga menjelaskan bahwa dirinya bukan seorang pengkhianat. Mustahil membocorkan rahasia sahabat-sahabat dekat Ayesha yang sudah dianggap seperti keponakan sendiri. Lagi pula apa untungnya kalau sampai Ayesha tahu? Bisa jadi Ayesha malah marah atau sedikitnya kecewa.
"Wah, makasih banyak-banyak, Tante Mika!" Ungkap Ocha dan Sachi hampir bersamaan.
Tante Mika hanya mengulas senyum tipis. Lagi dan lagi, dia memilih untuk memandang jauh ke luar jendela. Memikirkan bagaimana caranya menaklukkan Papa? Semua sudah dilakukan, termasuk berbelanja kebutuhan dapur dan memasak. Ya, sudah tiga hari ini Tante Mika memasak untuk Papa. Bukankah wanita kalau ingin menaklukkan hati seorang pria, maka dia harus piawai dalam dua hal. Di dapur dan di tempat tidur.
"Kalian sayang banget ya, sama Ayesha?"
__ADS_1
Ocha langsung menanggapi. "Pasti, Tante Mika. Ayesha tuh, the best banget lho, Tante. Multi talenta. Tapi yang paling penting sih, dia tuh, sahabat yang manis. Baik hati, suka menolong …!"
"Hahahaha …!" Sachi tertawa lepas. "Betul, betul dan itu nyata. Belum lagi, dia anaknya setia banget lho, Tante Mika. Sudah gitu, Ayesha tuh, jujur banget. Polos, kayak anak kecil."
Mika termangu mendengar penjelasan Ocha dan Sachi. Pikirannya melayang cepat ke seminggu yang lalu, sewaktu dia dan Papa bermesraan di dapur. "Pantas saja dia marah banget sama Tante!" Tanpa sadar Tante Mika menuturkan pengakuan menyedihkan itu.
"Maksud Tante?" Ocha menanggapi dengan super cepat.
Sachi menimpali sambil menelengkan kepala, supaya lebih mudah memandang mata Tante Mika. "Jadi, sebenarnya kalian lagi marahan? Kenapa, Tante, ada masalah apa?"
"Oh, pantas Ayesha nggak ngasih kabar sama kami. Nggak sempat lagi pastinya kan, Tante Mika?"
***
"Gimana, gimana?" Tanya Eyang Putri to the point begitu sampai di meja yang sudah disepakati bersama, meja nomor satu. "Kalian setuju kan, kalau Ayesha sama Lintang kita jodohkan?"
"Saya sih, setuju saja, Bulik Sekar." Bijaksana, Bude Laksmi memberikan tanggapan. "Kalau kamu, Kangmas?"
Ditodong dengan pertanyaan super penting seperti itu, Pakde Haryo jelas terkejut. Hampir saja tersedak teh jahe hangat yang baru saja diseruputnya. "Kalau aku sih, tergantung sama Lintang. Gimana dia, mau nggak dijodohkan sama Ayesha? Dia kan baru senang-senangnya cari duit kan, Diajeng? Baru giat-giatnya merintis usaha. Masa, ujug-ujug kita nikahkan?"
Bude Laksmi manggut-manggut, mencerna jawaban Pakde Haryo. "Iya juga ya, Kangmas? Eh, tapi nikahnya kan, nggak sekarang? Lha wong, Ayesha saja masih kelas dua SMA kok. Ya kan, Bulik Sekar?"
__ADS_1
Eyang Putri mengangguk kecil, mengembangkan senyum optimis. "Nah, betul itu kata Jeng Laksmi. Maksud saya, biar mereka saling kenal dulu gitu lho, Dimas Haryo. Biar akrab, biar nggak kaget nantinya kalau kita nikahkan. Gimana?"
Bude Laksmi dan Pakde Haryo sama-sama melekatkan pandangan. Seoalah-olah sedang melakukan kontak batin. Berbicara langsung dari hati ke hati. Ini bukan perkara yang mudah. Mas Lintang anak semata wayang mereka. Jangan sampai gegabah dalam mengambil keputusan. Walaupun benar, dari segi bibit, bobot dan bebet, Ayesha sudah tentu dapat. Sama-sama berasal dari keluarga bangsawan. Masalahnya adalah bersediakah Mas Lintang menerima perjodohan ini?
Sementara itu, Eyang Putri yang menyadari kalau belum memesan apa pun segera mengangkat tangan, memanggil pelayan. Dalam hati tersentuh malu. Lantaran berapi-api membicarakan tentang perjodohan cucu kesayangan, sampai lupa kalau sedang berada di rumah makan. Memalukan, kalau sampai tidak memesan minuman atau makanan sama sekali. Tidak sopan.
"Gimana, Jeng Laksmi?" Eyang Putri kembali memasang wajah serius. "Ya, Jeng Laksmi dan Dimas Haryo kan, sudah tahu gimana Ayesha? Nggak perlu lah, saya yang menyampaikan nanti malah terkesan pencitraan. Hehehehe, lagi pula ini juga bukan bersifat paksaan, kok. Kalau berkenan yang syukur, kalau nggak berkenan juga nggak masalah. Ya, namanya juga itikad dan niat baik, nggak perlu ditutup-tutupi, kan?"
***
Dikawal Mbak Nanas, Ayesha berjalan ke area parkir mobil. Baru saja dia menyelesaikan kelas pertamanya di JJ Swimming Club. Tidak terlalu menyenangkan---anggotanya sebagian besar laki-laki---tetapi lumayan, bisa mengobati rasa rindu dengan Ocha dan Sachi yang kaum mermaid alias suka bermain air.
"Gimana, Ndoro Alit?" Pertanyaan Mbak Nanas memecahkan keheningan yang tercipta di antara mereka. "Aman, kan?"
Ayesha hanya mengulas senyum tipis.
"Semoga betah ya, Ndoro Alit? Karena ini salah satu program pendidikan Ndoro Putri untuk Ndoro Alit. Oh ya, saya juga sudah mendaftarkan Ndoro Alit di JJ Archery Club dan les berkuda."
Ayesha menghentikan langkah secara spontan. Jadi, ini tujuan Eyang Putri mengajaknya tinggal satu rumah? Menyenangkan sekali, sampai-sampai dia merasa sudah menjadi robot.
Mbak Nanas tahu kalau Ayesha tidak suka tetapi dengan tenang dia melanjutkan penjelasannya. "Satu lagi, les menari. Seru lho, Ndoro Alit. Nanti, Ndoro Alit akan diajari tari-tari daerah se nusantara. Tarian modern juga ada. Ummm, Ndoro Alit mau ikut les ballet juga nggak? Kalau mau, nanti saya daftarkan supaya minggu depan bisa langsung masuk."
__ADS_1
"Sepertinya Ayesha mau balik ke Jakarta saja deh, Mbak Nanas."