
Eyang Putri menyimpulkan senyuman. Memberi isyarat supaya Mbak Nanas meninggalkannya berdua dengan Ayesha.
"Ummm, kita minum tehnya sama Bude Laksmi, Eyang Putri?" Ayesha bertanya penasaran. Seingatnya Mbak Nanas tidak memberikan informasi apa pun soal acara minum teh ini. "Bude Laksmi saja kan, Eyang Putri? Nggak sama Pakde Haryo dan Mas Lintang?"
"Iya, Bude Laksmi saja, Ayesha."
"Oh?"
"Ya sudah, kamu lanjut ganti baju dulu, ya? Dandan yang cantik." Ujar Eyang Putri sambil meletakkan gelas kaca yang sudah kosong di samping dispenser. "Eyang ke bawah dulu ya, Ayesha? Kasihan budemu nunggu lama."
Ayesha mengangguk kecil dengan senyum kikuk. Dalam hati muncul banyak pertanyaan yang dia sendiri tak mampu menjawabnya. Mengapa Eyang Putri sering mengundang Bude Laksmi ke rumah? Bukankah keduanya sama-sama super sibuk sebagai pengusaha kain batik? Lebih anehnya lagi, mengapa Eyang Putri tidak menceritakan apa pun tentang kedatangan Mas Lintang kemarin pagi? Eyang Putri bahkan bersikap seolah-olah Ayesha tidak tahu apa pun akan hal itu.
"Nah, jangan biarkan kami terlalu lama menunggu ya, Cah Ayu? Sayang juga nanti, kalau tehnya keburu dingin.!"
"Baik, Eyang Putri!" Ayesha tak memiliki jawaban yang lain. Hanya itu, walaupun akhirnya dia menyesal. Alasan apa yang membuat dia harus cepat-cepat bergabung dengan Eyang Putri dan Bude Laksmi? Paling pol dia hanya menjadi pendengar yang budiman.
Seperti dulu, waktu makan malam bersama. Nyatanya justru Mas Lintanglah yang menjadi bintang. Semua perhatian terpusat kepadanya. Praktis, otomatis Ayesha hanya menjadi penyimak sejati. Menikmati seluruh hidangan makan malam dalam diam. Kalaupun harus berkata-kata, ya, hanya hem atau he'emh.
Tok, tok, tok!
"Ndoro Alit, sudah ditunggu Ndoro Putri di taman bunga samping!" Mbak Nanas memberi tahu dari depan pintu. "Sudah selesai kan, ganti bajunya?"
"Belum, Mbak Nanas!" Gusar, Ayesha berseru dari dalam kamar. "Nanti kalau sudah selesai Ayesha turun."
"Saya tunggu di sini, Ndoro alit, sampai Ndoro Alit selesai."
Ayesha tak menjawab, fokus mengancingkan tunik batik sidomukti yang dipilihnya sebagai outfit sore ini. Manis, elegan. Pas sekali dengan kulitnya yang putih bengkoang, jadi terlihat lebih putih. Kalau soal pakaian batik, Eyang Putri lah ahlinya. Jago memadu padankan dengan acara. Satu-satunya hal yang patut untuk disayangkan adalah mengapa harus batik? Ayesha kurang suka. Kesannya seperti eyang-eyang mau arisan. Belum lagi perhiasannya, mengapa harus batik juga? Benar-benar merepotkan!
__ADS_1
Derrrttt, derrrttt!
Baru saja Ayesha selesai berdandan dengan segala drama yang ada, tiba-tiba Papa voice call. Padahal dia sudah siap untuk keluar, bergabung dengan Eyang Putri dan Bude Laksmi di Tea Time. Ya, walaupun tidak sepenuh hati, sih. Dari pada bermasalah dengan Eyang Putri?
Mengerikan!
Derrrttt, derrrttt!
Nama Papa berkeredap-keredap di layar smartphone, menambah kemarahan di hati Ayesha. Gelisah juga dia karena tak ingin seorang pun tahu masalah yang ada di antara mereka. Rahasia sampai mati. Bagi gadis berdarah campuran Belanda dengan Indonesia itu, masalah Papa dan Tante Mika adalah aib yang sangat besar. Luar biasa.
[Ayesha mohon, jangan sekali pun Papa menghubungi Ayesha! Bukankah Papa sudah menemukan kebahagiaan Papa sendiri setelah Mama meninggalkan kita untuk selama-lamanya? Tolong, jangan usik kebahagiaan Ayesha di sini. Good bye!]
***
Bude Laksmi memandang kagum Ayesha yang baru saja masuk ke taman bunga. Wangi aroma kenanga yang lembut dari parfumnya membuatnya semakin terpesona. Ayesha terlihat begitu sempurna di matanya. Sangat pantas untuk dipinang menjadi menantu idaman. Mas Lintang pasti bahagia hidup bersamanya. Bukan hanya cantik, Ayesha juga gadis yang baik. Dari kejernihan bola mata biru lautnya, Bude Laksmi dapat memindai ketulusan di dalam hatinya.
"Maaf, Eyang Putri. Tadi Ayesha harus mengeringkan rambut dulu."
Eyang Putri dan Bude Laksmi sama-sama melebarkan senyuman.
"Oh, mengeringkan rambut?"
"Ya, maklumlah, Jeng Laksmi … Rambut Ayesha kan tebal dan panjang. Jadi lama ngeringkannya. Pakai hair dryer saja sampai setengah jam, baru kering."
Bu Laksmi mengangguk-anggukkan kepala senang. "Ya, nggak apa-apa, Bulik Sekar. Saya bisa mengerti, kok. Oh ya, Ayesha, kapan kamu ada waktu senggang?"
Terkesiap, Ayesha membalikkan pertanyaan. "Waktu senggang, Bude Laksmi?"
__ADS_1
Bude Laksmi mengangguk mantap. "Bude mau ajak kamu jalan-jalan, sekalian main ke rumah Bude. Kamu belum pernah lihat butik batik Bude, kan? Dulu waktu kamu masih kecil butik itu belum ada. Baru dalam tahap persiapan."
Eyang Putri belum sempat memberi tahu Ayesha kalau Bude Laksmi juga punya usaha butik batik. Wajar, kalau Ayesha bersikap keheranan. Lebih tepatnya kagum, bingung sekaligus heran.
"Ayesha!" Eyang Putri menggenggam lembut dan hangat tangannya. "Budemu nunggu jawaban kamu, lho. Kapan kamu ada waktu senggang?"
Ditanya seperti itu oleh Eyang Putri, Ayesha justru jengkel. Dalam hati menggeruru panjang kali lebar yang intinya bukankah Eyang Putri yang lebih paham tentang jadwal kegiatannya? Mengapa harus pura-pura tidak tahu, sih?
"Ya, ummm, Minggu sore."
Eyang Putri tertawa kecil demi mendengar jawaban Ayesha. "Nah, iya. Minggu sore, Jeng Laksmi. Silakan lho, kalau mau mengajak Ayesha jalan-jalan? Sekali-kali, biar Ayesha tambah senang di sini. Iya kan, Ayesha?"
"Baik, Bulik Sekar. Besok sore saya ke mari lagi, jemput Ayesha. Mumpung Lintang juga libur kerja kalau Minggu."
***
Bukan hanya mendung gelap gulita. Malam ini suasana menjadi tegang di rumah Eyang Putri, diawali dengan pertengkaran kecil antara Tante Mika dan Ayesha.
Tante Mika mengangkat telepon Ocha karena Ayesha belum selesai mandi. Ayesha tidak terima, tentu saja, karena merasa privacy-nya terganggu. Terang-terangan dia menunjukkan sikap marah di depan Tante Mika.
"Nggak sopan!" Desis Ayesha sambil mengambil alih smartphone-nya kesayangan dari tangan Tante Mika. "Mau tahu saja urusan orang lain"
"Lho, kamu kok, ngomongnya gitu?" Tegur Tante Mika sambil sedemikian rupa mengatur suara supaya tidak menarik perhatian Eyang Putri. "Tante ini Tante kamu, lho. Kalau seperti ini, siapa yang nggak sopan, ha?"
Semakin marah, Ayesha menuding-nuding wajah Tante Mika. Berjalan mendekat, melekatkan tajamnya pandangan. "Tante yang nggak sopan. Sudah nggak sopan jahat pula. Sadar, Tante Mika. Tante tuh, jahat banget tahu, nggak? Bisa-bisanya bermesraan sama Papa di saat kami masih bergabung atas meninggalnya Mama? Tante sudah kehabisan hati nurani, ya?"
"Heh, enak saja kamu ngomong!" Sembur Tante Mika sambil menarik wajah ke belakang, menjauh dari Ayesha. "Anak masih bau kencur saja sudah sok-sokan ngomong soal hati nurani! Kamu tuh, yang nggak punya hati nura---"
__ADS_1
"Oh, ya? Apa buktinya?" Potong Ayesha tajam. "Jangan asal tuduh, Tante! Jangan jadi maling yang berteriak maling, maling, maling!"