Di Balik Diamnya Ayesha

Di Balik Diamnya Ayesha
Super Jahat


__ADS_3

Tante Mika memberanikan diri memandang Eyang Putri yang sudah terberangus amarah. Inilah definisi the power of love itu di matanya. Apa pun yang dikatakan Eyang Putri dia pasti terima. Terpenting, tidak menarik dirinya keluar dari rumah Mas Vino, cinta matinya. Sudah terlanjur nyaman, bagaimana lagi? 


"Kenapa kamu tampar Ayesha, Mika?" Eyang Putri mengulangi pertanyaannya untuk yang ke sekian kalinya. "Jawab Ibu, Mika, jangan buat darah tinggi Ibu kumat!" Eyang Putri menepuk keningnya sendiri berkali-kali. "Kenapa kamu bisa berantem sama Ayesha? Ayesha itu kan, keponakan kamu, Mika? Anakmu juga, kan? Seharusnya kamu bisa lebih sayang sama dia, ibunya sudah meninggal dunia!"


"Aku nggak sengaja, Bu." Akhirnya Tante Mika mengakui. "Aku terpancing emosi tadi. Ya, habis, Ayesha jutek banget gitu sama aku!"


Mendengar penjelasan Mika yang tak merasa bersalah sedikit pun itu, Eyang Putri semakin membara, tentu saja. "Heh, sejutek apa pun dia sama kamu, kamu tetap nggak boleh melakukan kekerasan!"


Dari pada bertambah ribet, Tante Mika menjawab, "Ya, maaf, Bu."


"Maaf, maaf!" Eyang Putri masih tidak terima atas perbuatannya terhadap cucu kesayangan. "Terus, sekarang Ibu tanya, kenapa kalian bisa tiba-tiba berantem kayak gitu? Mika, Mika! Umur kamu tuh sudah dua puluh tujuh tahun, kenapa masih kayak anak kecil gitu, sih? Mikir, Mika, mikir! Ck! Nanti kalau sampai Ayesha nggak betah tinggal di sini, gimana, ha? Masa dia harus balik ke Jakarta lagi, sih? Siapa yang mau ngurus dia di sana? Si Vino pasti sibuk kerja!"


"Ya, aku juga nggak tahu, Bu. Aku kan, sudah bilang tadi? Aku nggak sengaja, Bu." 


Eyang Putri memasang wajah super galak di sini. "Ssssttt, diam! Lupakan yang itu. Sekarang kamu harus bantu Ibu, Mika."


Tante Mika mengernyitkan kening, memandang takut-takut. "Bantu Ibu?"


Eyang Putri mengangguk. "Bantu Ibu bujuk Ayesha, meyakinkan dia, tinggal di sini adalah yang terbaik. Untuk dia dan masa depannya."


"Haaa, Ibu yakin?" 


Lagi, Eyang Putri mengangguk. Menyimpulkan senyuman.


"Lah, gimana aku mau bujuk dia, Bu? Sedangkan ketemu sama aku saja nggak mau! Ibu ini aneh!"

__ADS_1


"Aneh, aneh! Kamu itu yang aneh. Sama keponakan sendiri saja nggak bisa rukun. Kan, parah?" Eyang Putri mendelik tajam. "Kamu itu lho, Mika, dari dulu nggak ada berubahnya. Kayak anak kecil, egois, narsis!"


"Lah, kok Ibu jadi marah sama aku, sih? Yang jutek kan, Ayesha, Bu? Bukan aku. Ya ampun, siapa sih, yang tahan dijutekin kayak gitu? Memang aku musuh dia? Lagian, kenapa aku yang harus minta maaf sih, Bu? Dialah harusnya, dia yang mulai, kok!"


"Nanas!" Lelah berdebat dengan Tante Mika, Eyang Putri memanggil Mbak Nanas yang masih sibuk dengan adonan kue donat di dapur. Tak lain dan tak bukan, tujuannya adalah untuk meminta bantuannya, mengajak Ayesha jalan-jalan ke toko buku. Selain semua les yang ada, Eyang Putri juga ingin menanamkan gemar membaca dalam dirinya. "Nanas, tolong ke sini sebentar, Nanas!"


***


Trio Smart Beautiful masih asyik mengobrol melalui video call ketika Mbak Nanas mengetuk pintu kamar Ayesha. Sebetulnya dia sendiri juga masih membuat adonan donat tadi tetapi Eyang Putri memanggil, memberikan tugas khusus. 


"Permisi, Ndoro Alit!" 


"Ya, Mbak Nanas!" Ayesha berseru dari dalam kamar. Suaranya terdengar gembira, tidak seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Tidak juga seperti yang Eyang Putri khawatirkan. Ayesha baik-baik saja, cerah ceria membahana. Itulah dia kalau sudah bersama dua sahabat dekatnya. Duka sebesar apa pun bisa lewat dalam sekejap mata. "Sebentar!"


Cekrek, kriiit …!


"Ndoro Putri memerintahkan kepada saya untuk mengajak Ndoro Alit jalan-jalan ke toko buku."


"Busyet!" Reflek, Ayesha memberikan  tanggapan. "Jam berapa sekarang, Mbak Nanas?"


"Jam lima, Ndoro Alit."


"Makan malam jam berapa?" Kegembiraan Ayesha seketika berubah menjadi panik. Sebentar lagi Kenzy akan bergabung di video call conference. Masa, dia malah kabur? Tidak menyenangkan sekali! "Ayesha juga belum mandi nih, Mbak Nanas. Tahu sendiri kan, gimana Ayesha mandi? Minimal lima belas menit. Belum ganti baju---"


Mbak Nanas memotong perkataan Ayesha yang kian deras mengalir seperti air terjun. "Oke, oke. Itu artinya Ndoro Alit nggak bisa ikut saya jalan-jalan ke toko buku, kan?"

__ADS_1


***


"Lintang!" Panggil Bude Laksmi sambil menambahkan keju di atas roti tawar yang sudah diolesi mentega. "Menurut kamu, Ayesha tuh, gimana?" Pengusaha paruh baya pemilik kecantikan alami itu memandang sang Putera dengan sepenuh perasaan. Perhatiannya benar-benar dia arahkan kepadanya. 


"Ya, nggak gimana-gimana, Bu. Biasa saja." Kawab Mas Lintang sekenanya. "Memangnya kenapa, Bu?"


Bude Laksmi setengah mendelik. "Memangnya kenapa? Lah, jadi, kamu belum paham juga kenapa Ibu sama Eyang Sekar tuh mengenalkan kalian berdua?"


Dingin dalam diri Mas Lintang menghangat seketika. Senyum tulus tercipta sempurna di bibir sensual miliknya. Tak dapat dipungkiri lagi, dia bahagia bisa berkenalan dengan Ayesha. Spek Bidadari, masalahnya. Lebih eksotik dari pada Barbie. Itu baru tampilan fisiknya, belum kebaikan dan ketulusan hati yang terpancar dalam sorot matanya. 


"Lintang!" 


"Saya, Bu?" 


"Gimana, gimana?" Bude Laksmi mencondongkan tubuh ke arah Mas Lintang. "Kamu mau kan, menjalin hubungan yang serius sama si Ayesha? Ya, walaupun bule tapi anaknya baik, kok. Lagian, Ibu perhatikan kalian serasi, kok. Gimana?"


Mas Lintang menghabiskan potongan roti tawar dengan selai cokelat dalam mulut. Mengunyah perlahan-lahan sambil memikirkan semua yang baru saja dikatakan ibunya. Bodoh sekali, kalau sampai ada laki-laki yang tidak mau menikah dengan Ayesha. 


"Romo juga sudah setuju kamu sama Ayesha, Lintang. Setuju banget, malah."


"Ya, gimana ya, Bu?" Mas Lintang memasang wajah bingung, menutupi rasa gembira, bahagia yang berdebur-debur di ceruk hati. "Ayesha kan, masih kecil, Bu? Umurnya saja baru tujuh belas tahun. Kasihan, nanti jadinya pernikahan dini?"


Bude Laksmi yang tidak menyangka akan tanggapan Mas Lintang, semakin mendelik. Hampir saja tersedak teh kayu manis hangat favoritnya.  Beruntung Romo yang baru saja masuk ke ruang makan mengambilkan air putih dengan sigapnya. 


"Lah, kamu ini gimana sih, Lintang?" Tanya Bude Laksmi setelah selamat dari ancaman tersedak. "Ya, nikahnya nggak sekarang ya, Le? Nikahnya tuh nanti, kalau Ayesha sudah lulus sekolah. Piye, ta?"

__ADS_1


"Nah, benar." Romo menambahkan, membuat Mas Lintang semakin hangat, meleleh. "Sekarang kenalan dulu, pendekatan dulu. Biar akrab. Gitu lho, Lintang! Masa anak Romo kok, gitu saja nggak paham? Contoh romomu ini, nggak pakai lama langsung bisa ngelamar ibumu. Nggak pakai acara tolak menolak segala. Langsung diterima terus nikah. Ya ta, Bu?"


__ADS_2