Di Balik Diamnya Ayesha

Di Balik Diamnya Ayesha
Primpan alias Pria Tampan


__ADS_3

Ocha mengerling kepada Ayesha demikian juga dengan Sachi. Kalau diterjemahkan kerlingan mereka itu menjadi seperti ini, "Wow, siapakah cowok ganteng itu, Ayesha?"


"Halo, Mas Lintang!" Ayesha menyapa pria tampan dengan rambut ikal panjang sebahu itu dengan tenangnya. "Mau ketemu sama Eyang Putri, ya?"


Mas Lintang mengangguk kecil. Berusaha mengulum senyum paling manis dari yang dia miliki meskipun berat. 


"Mas Lintang!" Ayesha memanggil jengkel lantaran Mas Lintang tidak segera memberikan tanggapan. "Kok, malah bengong gitu?" 


"Eh, sorry … Eyang Putrinya ada, kan?" Mas Lintang merasa lega, karena akhirnya bisa berbicara dengan normal seperti biasa. 


Sangat kontras sebenarnya. Mas Lintang yang dingin dan angkuh, selalu saja gugup jika berhadapan dengan lawan jenisnya. Lebih parahnya lagi, kegugupan itu selaku berakibat fatal. Gagu atau bahkan bisu. Kadang-kadang dia juga mengalami gagal gerak hingga beberapa menit lamanya. Jangankan bergerak, masih mampu berkedip saja sudah sangat bersyukur. Tanpa disadari, hal ini adalah masalah terbesar dalam hidup Mas Lintang. Kalau seperti ini, kapan dia menikah? 


"Ummm, tadi sebelum kami jogging sih ada, Mas Lintang. Nggak tahu kalau sekarang."


"Oh?"


Ayesha melemparkan senyum tulus yang terlihat cantik. Sementara itu Ocha dan Sachi terus memandang Mas Lintang yang semakin gugup dengan penuh kekaguman. Hour saja mera ternganga dan meneteskan air liur. Sungguh, di tempatnya berdiri, Mas Lintang semakin terlihat gugup. Wajahnya pucat, berkeringat dingin.


"Masuk saja, Mas Lintang! Siapa tahu Eyang Putri ada di dalam?"


"Halo, Mas Lintang!" Tanpa intro apa pun Ocha bangkit dari tempat duduknya, berjalan mendekati Mas Lintang yang sudah sekaku tiang listrik. "Kenalkan, aku Ocha, bestie Ayesha. It is nice to meet you, ya, Mas Lintang!"


Tak mau kalah dengan Ocha, Sachi pun melakukan hal yang sama. Parahnya, dia langsung merangkul Mas Lintang dari samping dengan roman muka cerah ceria. "Kalau aku Sachi, Mas Lintang. Bestie Ayesha juga. Bedanya aku lebih jago matematika dan bahasa Inggris, hehehehe … Ya kan, Cha?"


Ocha melengos, merasa dipermalukan di depan pria setampan Mas Lintang. "Awas saja kamu ya, Chi!" Marahnya dalam hati. "Ugh!"


Mencium aroma pertempuran antara Ocha dan Sachi, Ayesha segera bertindak. Jangan sampai rumah mewah Eyang Putri ini hancur berkeping-keping oleh karena ulah mereka. Masalahnya adalah kalau sudah berurusan dengan primpan alias pria tampan, Ocha dan Sachi pasti ribut. Berebut. Rela bertempur sampai tetes darah terakhir. Jangankan yang setampan Mas Lintang tampan tipis-tipis saja, mereka sudah tidak terkendali.


"Mas Lintang!" Panggil Ayesha sambil meggamit lengannya. "Yuk, Ayesha antarkan ke dalam?" 

__ADS_1


***


Tante Mika terbelalak super lebar ketika melihat Ayesha masuk ke dalam rumah sambil menggamit lengan Mas Lintang. Tak menyangka, keponakan semata wayangnya itu ternyata sudah beranjak dewasa. Sudah berani berdekatan dengan alwan jenisnya. Ya, walaupun masih kerabat dekat, sih. 


"Apakah ini definisi keberuntungan, bejo kemayangan?" Tante Mika terus bertanya dari dalam hati. "Sepertinya Lintang suka sama Ayesha? Lha, ini!  Ini dia jalan yang aku cari selama ini. Wah, sepertinya aku harus segera pedekate sama Mbak Laksmi? Barter."


"Eh, ada Lintang!" Tante Mika buru-buru menyapa, menutupi seluruh rasa terkejut dalam hatinya. "Apa kabar kamu? Aduh, aduh … Kecil-kecil begini sudah jadi CEO ya? Selamat, selamat! Tante ikut senang. Pertahankan prestasi kamu!"


Mas Lintang hanya menyimpulkan senyuman. Menunduk malu. Terlebih ketika menyadari bahwa Ayesha masih menggamit lengannya. 


"Makasih, Tante Mika!" Mas Lintang menjawab dengan suara serak-serak basahnya yang khas. "Lintang juga masih harus banyak belajar, kok."


"Wah, Tante bangga banget sama kamu, Lintang. Humble banget, menentramkan." 


Tak tahan lagi lama-lama berhadapan dengan Tante Mika, Ayesha melepaskan lengan Mas Lintang. Tak sedikit pun melirik ke arah Tante Mika yang sudah total out perform untuk menarik perhatiannya. 


"Maaf, Mas Lintang … Ayesha harus kembali ke beranda depan. Kasihan Ocha dan Sachi kelamaan nunggunya." 


"Sama-sama." Sesingkat itu Ayesha memberikan jawaban sebelum akhirnya berjalan cepat ke luar rumah. Dalam hati berteriak-teriak penuh kemarahan. "Sok Suci, Tante Mika! Sok baik, sok bijak, sok sempurna! Padahal suami kakaknya pun diembatnya juga! Dasar, pelakor!" 


"Hai, Girl! 


"Halo, Sha!" 


"Ya, hai … Halo!" Ayesha menghempaskan tubuh di samping Ocha yang sudah terlihat asyik lagi dengan majalah remaja favoritbya. "Kalian pernah nggak sakit hati sama seseorang?" 


"Pernah." Ocha menjawab dengan jujur dan apa adanya. "Kamu, Chi? Pernah juga, kan?" 


Sachi mengangguk jujur. Mengernyitkan kening, memperdalam pandangan kepada Ayesha. Memindai kasus. Dia tahu persis, bagaimana Ayesha. Si introvert itu selalu mengalami kesulitan untuk bersikap terbuka. Walaupun sebetulnya membutuhkan teman untuk sharing, belum tentu dia mampu mengakui dengan jujur. 

__ADS_1


"Memangnya kenapa, Sha?" Sachi menggeser tubuh, mendekati kursi Ayesha. "Kamu ada masalah?"


"He'emh, Girl. Kamu kenapa, cerita dong, sama kami?"


***


Eyang Putri mengetuk pintu kamar Ayesha dengan sangat hati-hati. Memanggil lembut namun tegas seperti biasa. Memastikan cucu kesayangan belum tidur. 


"Ayesha sayang!" 


Tok, tok, tok!


"Ayesha Tazkiya, cucu Eyang Putri yang paling cantik se jagat raya. Cucu kesayangan Eyang Putri untuk selama-lamanya." 


Cekrek … Kriiit! 


Asyeha yang baru selesai mandi bergegas membukakan pintu untuk Eyang Putri. Gadis dengan postur tubuh tinggi semampai itu secara otomatis memberikan senyum tulus. 


"Eyang Putri, maaf, tadi Ayesha berendam air hangat."


Ocha dan Sachi sudah pulang ke Jakarta. Jadi, Ayesha berpikir inilah saat yang paling tepat untuk memanjakan diri. Bukan, bukan berarti tidak bisa kalau masih ada mereka. Ributnya itu lho, yang Ayesha tidak suka. Merusak suasana. 


"Iya, nggak apa-apa. Nah, habis ganti baju nanti, kamu langsung turun, ya? Kita minum teh sama-sama. Mbak Nanas sudah buat bakwan jagung yang maknyus, gurih dan kriuk. Hihihihi … Terus, tadi sepulang dari butik, Eyang juga beli pisang goreng kipas. Gimana, gimana? Endolita banget nggak, tuh? Sruput, kriuk. Sruput, kriuk. Wah, yummy my my my. Wuenak!"


Ayesha sampai tersedak mendengar Eyang Putri menyebut kata endolita. Itu kan, istilah viral yang jadi diksi dia dan geng dahsyatnya, Ocha dan Sachi. Lagi pula dari mana Eyang Putri tahu istilah itu? Geli sendiri Ocha oleh karenanya. Internet memang sudah mendarah daging di kehidupan manusia. 


"Eh, lho … Minum, Ayesha, minum. Aduh, kok malah jadi keselek tuh gimana, ta? Sayang, sayang!" Eyang Putri kalang kabut. Masuk ke kamar, mengambil air dingin dari dispenser. "Nah, ini minum dulu, Ayesha. Apa yang dipikirkan ta, kok, sampai keselek gitu?"


"Makasih, Eyang Putri. Ayesha nggak apa, kok. Ummm, kadang-kadang memang keselek gitu, hehehehe …!"

__ADS_1


"Permisi, Ndoro Putri!" Kedatangan Mbak Nanas secara alami menghentikan pembicaraan Ayesha dengan Eyang Putri. "Itu, Ndoro Jeng Laksmi sudah datang."


__ADS_2