
Pak Tardi menghentikan mobil mewah bercat biru legundri di depan pintu gerbang bertuliskan Batik Lintang Sewu. Mengambil gawai dari saku kemeja, menghubungi petugas keamanan, melapor kalau mau mengantarkan Ayesha bertamu. Sekian detik kemudian, dia mengakhiri laporan, mengembalikan gawai ke saku kemeja.
Perlahan-lahan namun pasti, dengan speed dua puluh kilometer per jam, melajukan mobil ke halaman rumah yang seluas lapangan sepak bola. Bedanya, halaman rumah ini di pinggir-pinggirnya ditanami beraneka rupa pohon buah. Kelengkeng, matoa, rambutan, alpukat, durian, mangga, jambu air, jambu biji, namnam, kepel, bidara, delima, jeruk Bali, anggur, apel dan kelapa gading.
Wow, amazing tralala!
Ayesha sampai berdecak kagum oleh karenanya. Belum pernah dia melihat rumah yang seperti ini pemandangannya.
Ternyata itu---setelah melewati halaman---perjalanan belum berakhir. Mereka masih harus menunggu petugas keamanan membukakan pintu pagar. Ayesha sampai *******-***** jari tangannya, pertanda sudah mulai kehabisan kesabaran. Tidak menyangka juga, kalau keluarga Bude Laksmi sudah kaya raya seperti sekarang ini. Dulu, waktu dia masih kecil, biasa-biasa saja. Ya, mirip-mirip lah, dengan Eyang Putri.
[Girls, aku sudah sampai di rumah Mas Lintang, nih!] Ayesha memberi kabar kepada Trio Smart Beautiful. [Wow, rumahnya sinetron banget, lho. Hihi.]
[Cieh, yang apel Ayang Embeb!] Sachi sudah langsung horor. [Ehem, jangan lupa tuh, oleh-oleh buat kita!]
[Have fun, Girl. Jangan dengerin Sachi soal oleh-oleh. Tapi kalau kamu mau kirimin kami camilan khas Jogja yang paling yummy and asyik buat nongki-nongki ya nggak bakalan kami tolak. Hahahaha!]
[Sssttt, jangan berisik, Girls. Ini aku sudah mau turun dari mobil. Gila, mereka nyambut aku, kayak aku tuh yang princesa gitu! Ckckckck … Over dosis nggak sih, kalau kayak gitu?]
Benar, di depan sana, lebih tepatnya di beranda depan Bude Laksmi, Pakde Haryo dan Mas Lintang juga Mbok Nah sudah menunggu Asyeha dengan khidmatnya. Semu menangkupkan tangan di dada, memasang wajah sumringah kecuali Lintang. Dia terlihat sangat kaku dan nervous. Lucunya, sorot matanya terlihat dingin.
"Asyeha … Aduh, cantiknya!" Bude Laksmi mendahului menyambut. Menyalami, mencium pipi kanan dan kiri, memeluk hangat. "Aduh, aduh ada anak gadis kok, cantiknya kayak boneka. Eh, siapa itu namanya, Barbie? Wah, pasti eyang kamu bangga banget, Nduk!"
"Mbak Nanas …!" Bude Laksmi juga menyalami Mbak Nanas dengan sikap tulus dan welcome. "Mari, monggo silahkan masuk, semua."
__ADS_1
Pakd Haryo menimpali dengan keramahan spesial. "Monggo, silahkan masuk Ayesha, Mbak Nanas. Selamat datang di rumah kami yang sederhana ini. Ibunya Lintang sudah nunggu-nunggu lho, tadi. Sampai mondar-mandir kayak setrikaan."
Semua tertawa termasuk Lintang. Tertawa lirih sekali, seperti anak domba yang tersesat di hutan belantara.
"Lho, Lintang!" Bude Laksmi menegur Lintang yang malah sibuk memain-mainkan gelang kabel di tangan kirinya. "Kamu belum salaman sama adikmu Asyeha, kan? Oalah, Lintang … Adiknya dateng, bukannya disambut malah dicuekin kayak gitu?"
"Halo, Mas Lintang!" Tenang, santai, enjoy Asyeha mengulurkan tangan. Suaranya yang lirih, lembut dan merdu membuat pria penyuka kucing itu terpesona. Semakin menyadari kalau adik sepupunya itu bukan anak kecil lagi. Sudah tumbuh menjadi bidadari bermata biru. "Apa kabar?"
***
"A---Aku baik, kamu?" Mas Lintang lebih dari gugup, geragapan. Watak dingin dalam dirinya tergerus menjadi hangat. Tidak biasanya dia begini di hadapan perempuan mana pun, dari yang paling jelek sampai yang paling cantik. Meskipun kalau harus mengakui dengan jujur, dia selalu kalah di depan si Cantik Sexy siapa pun itu. Nah, ini Ayesha, bidadari berkata biru. Berkulit seputih bengkoang. Rambut panjang sepinggang, pirang dan ikal membuatnya terlihat lebih cantik. Belum lagi senyumnya yang manis. Di atas semua itu, Lintang melihat Ayesha ini anak yang baik hati, tulus, empatik dan cerdas. "Gi---Gimana sekolah kamu, lancar, kan?"
Ayesha mengulum senyum manis. "Alhamdulillah, baik, Mas Lintang."
Keduanya sama-sama menebar senyuman sekarang. Ayesha langsung menggunakan kamera handal di dalam matanya untuk memindai kenakalan dalam diri Mas Lintang. Sedangkan Mas Lintang sendiri semakin heran, bagaimana bisa dirinya berubah menjadi sehangat ini? Ah, mungkin karena Ayesha adik sepupunya sendiri, pikirnya.
Dua insan yang dulu sangat dekat di masa kecil itu sama-sama tertawa kecil lagi, tersipu malu.
"Ya Bu, sebentar." Kata Mas Lintang, mengajak Ayesha masuk ke ruang tamu, dengan isyarat khusus dalam sorot matanya. "Ayo, Ayesha! Nanti ibuku keburu muncul galaknya."
Tersenyum-senyum sendiri namun tetap profesional, Mbak Nanas mengiringi langkah mereka ke ruang tamu.
[Nas, gimana Ayesha? Nggak banyak tingkah, kan?] Baru saja Eyang Putri mengirimkan pesan di chat room. [Jangan lupa ya Nas, kita sudah mulai menjalankan semua rencana kita. Kamu harus pandai-pandai menjaga Ayesha. Jangan sampai curiga dan malah menggagalkan semuanya.]
__ADS_1
[Baik, Ndoro Putri. Siap laksanakan.]
[Kamu yang lebih tegas lagi sama dia, jangan takut-takut! Biar dia jadi orang sukses nanti. Saya nggak mau pengalaman Ayumi terulang lagi dalam hidupnya. Itu terlalu kejam!]
***
"Ini, kamarku." Mas Lintang membuka pintu yang di atasnya tergantung kerincingan dan beberapa boneka kecil-kecil. Kelinci, kucing, harimau, singa, ikan lumba-lumba dan ikan nemo. "Mau lihat ke dalam?" Tawarnya sambil melebarkan pintu. Mendahului masuk dengan sikap canggung. Merentangkan kedua tangan. "Ya, beginilah, namanya juga kamar cowok. Hehehehe …!"
Ayesha masih berdiri di luar pintu kamar. Enggan sekali rasanya masuk ke kamar pribadi Mas Lintang walaupun dalam rangka home tour. Apalagi kakak sepupunya itu tidak sama dengan yang tadi sewaktu dia datang. Dinginnya kembali terasa seperti waktu pertama kali berjumpa di ruang Eyang Putri. Acuh tak acuh juga membuat tak nyaman.
"Yakin, kamu nggak mau lihat-lihat kamarku?" Mas Lintang menghampiri. "Ada si Moli lho, di dalam. Masih tidur dia. Kamu cat lover juga kan, Ayesha? Dia manis banget, lho. Lucu, imut-imut, gemoy!"
Seketika Ayesha berubah pikiran. Tanpa melirik Mbak Nanas sedikit pun dia langsung berjalan cepat ke dalam. Baru membayangkan saja Ayesha sudah gemas, geregetan. Pasti si Moli yang tadi dimaksud Mas Lintang itu bulunya bersih, lembut dan wangi. Asyik untuk dipangku, dimanja-manja.
"Halo, Moli!" Ayesha sudah langsung mengelus-elus tubuh Moli yang warna bulunya putih keabu-abuan. "Aduh, kamu imut banget, sih? Gemes, gemes!"
Mas Lintang ikut mengelus-elus punggung Moli, memain-mainkan ekor panjangnya yang bergerak-gerak lucu.
"Kamu pelihara kucing juga nggak, Ayesha?"
"Ummm, di rumah Jakarta sih, Mas. Di rumah Eyang Putri ini belum. Sempat kepikiran sih, tapi takut nggak setuju Eyang Putrinya. Hihihihi …!"
"Oh, gitu?"
__ADS_1
Asyeha mengangguk mengulas senyum simpul yang seketika merenggut rasa kagum Mas Lintang.
"Ya, didekati lah, Eyang Putrinya. Bilang kalau kamu suka pelihara kucing. Asyik lho, buat teman main. Ya, walaupun agak repot juga sih, ngurusnya. Harus rajin dan pembersih."