
Kacau. Kacau. Kacau.
Di luar dugaan, Papa datang. Eyang Putri menyambut dengan gembira, tentu saja tetapi Ayesha? Dia justru syok dalam arti yang sesungguhnya. Berjuta pertanyaan muncul memenuhi benaknya hingga sesak. Menyakitkan.
"Halo, Ayesha!" Papa mencondongkan tubuh, bermaksud memeluk namun gagal total. Ayesha menjauh mundur hingga hampir terjatuh. Tak sesungging senyum pun dia berikan. Jangankan itu, melihatnya saja sudah seperti musuh.
"Apa kabar, Lieverd?" Papa berusaha mendekat, sebisa mengendalikan diri supaya tidak menimbulkan masalah yang lebih besar. "Papa rindu kamu."
Ayesha tidak menggubris. Mengunci mulutnya rapat-rapat. Ingin sekali rasanya berlari, menjauh pergi dan tak pernah bertemu Papa lagi. Sekali pengkhianat tetap pengkhianat dan Ayesha tidak akan pernah memafkannya. Titik.
"Ayesha, Papa minta maaf." Ucap Papa dengan air mata berjatuhan. "Papa salah, Papa sudah menyakiti kamu. Papa janji nggak akan mengulangi semua itu lagi. Janji."
Hampir saja Ayesha mengatakan, "Big bullshit!"
"Ayesha, Lieverd … Tolong maafkan Papa! Papa nggak tahu harus bagaimana lagi, Ayesha? Semua terasa hampa tanpa kamu dan Mama."
Tanpa mengucapkan secuil kecil kata pun Ayesha berjalan kembali ke kamar. Menyelesaikan menyisir rambut menjadi kunci dua, menyematkan jepit rambut bunga mawar merah jambu di ikatannya. Memakai liploss berwarna peach, memoles wajah dengan bedak padat untuk remaja, menyempatkan parfum ke sekujur tubuh dan terakhir, mencoba untuk tersenyum. Dia tak mau harinya menjadi kelabu hanya gara-gara kedatangan Papa. Itu tidak penting sama sekali.
"Ayesha!" Ternyata Papa sudah menunggu di depan pintu kamar. "Tolong, Lieverd, maafkan Papa!"
Ayesha hanya memandang Papa sekilas lalu cepat-cepat berjalan ke luar kamar, berderap menuruni anak tangga. Sasarannya adalah ruang makan. Ya, dia harus makan banyak-banyak pagi ini karena nanti jam pertama ada pelajaran olah raga. Lari keliling lapangan sekolah sebanyak tiga kali. Belum lagi, setelah istirahat pertama nanti, ada pelajaran matematika. Mara pelajaran horor di sekolahnya. Walaupun tidak terlalu menyeramkan baginya, lebih baik sedia payung sebelum hujan, bukan?
"Ndoro Alit mau bawa bekal ke sekolah?" Mbak Nanas bertanya santun dan tenang selayaknya hari-hari biasa. "Roti atau nasi? Saya melihat jadwal, sepertinya hari ini akan menjadi hari yang berat tanpa bekal!"
Ayesha mengangguk. "Roti selai coklat tanpa mentega, roti selain kacang plus mentega, roti keju plus mentega, susu dan pisang."
__ADS_1
Mbak Nanas menahan senyum. Dalam hati bertanya heran, "Itu bekal sekolah atau bekal camping?"
Belum pernah dilihatnya Ayesha yang seperti ini, sungguh. Biasanya kalau membawa bekal haya satu tangkap roti, satu gelas susu dan satu buah pisang ambon atau tiga buah jeruk Mandarin.
"Baik, Ndoro Alit. Segera saya siapkan!"
"Good, Mbak Nanas. Oh ya, susunya tolong ditambahi potongan strawberry dan cokelat almond ya, Mbak?"
"Cah Ayu!" Kedatangan Eymag Putri yang tiba-tiba di ruang makan, membuat Ayesha terkejut. Terlebih setelah menyadari ada Papa juga di sana. "Bagaimana, sudah siap berangkat ke sekolah?"
Ayesha mengangguk kecil. Menghabiskan hotdog di dalam mulut.
"Bagus. Hari ini, Papa yang akan mengantarkan kamu ke sekolah, ya?" Lanjut Eyang Putri dengan santainya. Dia tak tahu kalau antara Ayesha dan Papa sedang terjadi konflik besar. "Tetap di kawal Mbak Nanas tapi Papa langsung yang menyetir mobil, bukan Pak Tardi!"
***
"Bagaimana bisa, Papa tiba-tiba datang tanpa pesan dan kesan sedikit pun sebelumnya?" Ayesha bertanya sambil menahan radang dalam hatinya. "Sumpah, aku sampai kaget banget!"
Ocha mendengarkan dengan seksama meskipun sedang menyelesaikan home work untuk besok pagi. Begitu juga dengan Sachi. Dia sampai terkantuk-kantuk oleh karenanya.
"Ya, memang sih, Jakarta Jogja tuh nggak sejauh bumi ke bulan tapi kan …?" Gadis yang berhati lembut itu melanjutkan kembali curhatannya. Mumpung sudah selesai makan malam, sudah bebas dari pengawasan Mbak Nanas dan Eyang Putri juga belum pulang dari butik. "Gimana menurut kalian, Girls?" Ayesha mendekatkan bibir ke smartphone.
"Jadi, sampai sekarang ini kamu belum bicara sama papa kamu?" Ocha mendahului menyalurkan empati.
"Belum."
__ADS_1
"Terus, papa kamu gimana?" Timpal Sachi penasaran sekaligus geregetan. Dia pribadi belum pernah bentrok dengan orangtua sampai seperti ini. Paling pol sampai pulang sekolah. Itu pun kebanyakan dia yang mulai cair terlebih dahulu. Tidak enak rasanya membiarkan masalah berlarut-larut. "Eyang Putri?"
Ayesha menggigit bibir bawah kuat-kuat, menahan air mata yang hampir bergulir turun. Rasanya masih terlalu sakit. Secepat itu Papa berubah.
"Ya, Papa minta maaf gitu, mohon-mohon." Tak urung air mata Ayesha jatuh juga, membentuk gerimis lebat. "Aku sih sebenarnya sudah maafin Papa tapi masih nggak mau dekat-dekat dulu, Girls."
Ayesha lalu menceritakan masalah yang sebenarnya, membuat Ocha dan Sachi sama-sama ternganga di rumah masing-masing. Papa, Om Vino yang selama ini mereka kagum dan bangga ternyata bukan pribadi yang setia. Wow, Ocha sampai bergidik ngeri oleh karenanya. Kisah sedih yang dialami sahabatnya ini benar-benar di luar dugaan. Di luar nalar.
"Sha!" Panggil Sachi sayang setelah menghapus kering air mata di pipi chubby miliknya. "Kamu yang kuat ya, Sha? Aku percaya kamu pasti bisa lalui ini semua."
"Benar, Girl. Kamu harus tegar!" Imbuh Ocha dengan suara tersendat. Dalam hal ini dialah yang paling syok.
"Aku nggak tahu, Girl, aku nggak tahu! Rasanya sedih banget, hancur banget. Kasihan Mama …!"
"Sha, Tante Ayumi sudah tenang di alam sana. Sudah bahagia. Dia nggak bakal cemburu atau bahkan sakit hati sama Om Vino. Sama Tante Mika juga. Kan, Tante Ayumi sudah di Surga?"
"Anyway, Girl …!" Ocha yang sejak beberapa saat lalu terdiam akhirnya kembali membuka suara. "Eyang Putri sudah tahu masalah ini? Ih, masih nggak percaya rasanya, Girl, kalau ternyata Tante Mika semurah itu!"
***
Mbak Nanas menghadap Eyang Putri di beranda belakang sore ini, sepulang mengantar Ayesha les menari. Ada beberapa hal yang wajib dia laporkan mengenai perubahan Ayesha akhir-akhir ini. Sebagai asisten pribadi, Mbak Nanas takut kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan dengan gadis kencur tersebut.
"Gimana Nas, ada apa?" Eyang Putri tak mengalihkan pandangan dari selembar kain batik parangkusumo di pangkuannya. Menyusuri coraknya dari ujung ke ujung dengan jari telunjuk, terpesona. Senyum tulus terus mengembang di wajah cantik tuanya.
"Maaf, Ndoro Putri, sepertinya Ndoro Alit ada masalah besar dengan Menir Vino."
__ADS_1
Eyang Putri tersentak kaget tetapi diam. Tak sedetik pun mengalihkan pandangan dari si Parangkusumo. Hanya satu yang tak dapat dia pungkiri yakni kesedihan. Khawatir, takut kalau-kalau Ayesha tidak betah tinggal di rumahnya. Terlebih setelah kemarin ada masalah dengan Mas Lintang waktu berkunjung ke rumahnya.
"Maaf, Ndoro Putri … Mungkin saya yang terlalu lancang. Mungkin apa yang saya simpulkan tentang Ndoro Alit itu tidak benar adanya. Sekali lagi saya minta maaf."